Tuesday, December 21, 2010

LAFADZ “RABB” DALAM AL-QUR’AN


Oleh: Miftahul Jannah
BAB I
 PENDAHULUAN

               1.   Latar Belakang Masalah
Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya akan istilah dan idiom yang juga merupakan bahasa dari kitab mu’jizat terbesar, yakni Al-Qur’an. Seandainya kita menggali dan mengkajinya lebih dalam, kita akan merasakan betapa luas dan kayanya  bahasa Arab , sehingga dalam memahaminya tidak bisa hanya mengandalkan satu bidang ilmu pengetahuan, tetapi kita juga perlu memperhatikan dan mengkaji aspek yang lainnya. Begitu pula tafsir yang sangat urgen untuk dipelajari, agar kita dapat mengetahui makna-makna yang tersirat dalam Al-Qur’an. dengan begitu, kita akan lebih memahami kitab suci kita sendiri.
Al-Qur’an memang mempunyai kemukjizatan dari segi sastra dan bahasanya. Contohnya saja, satu lafadz yang sama, akan tetapi dengan bentuk yang berbeda akan mengandung makna yang berbeda pula, karena itulah, kita harus memperhatikan semua aspek sehingga kita dapat menemukan arti dan penafsiran yang relevan serta sesuai konteks kalimat.
Sebagai contoh, orang- orang terdahulu seperti kaum nabi Nuh, Hud dan Ibrahim AS, mereka melakukan kesalahan dalam menafsirkan kata “Rabb” ataupun tentang “Rububiyah”, karena itulah, dalam pemakalah akan mencoba membahas “lafadz Rabb dalam Al-Qur’an” agar maknanya tidak samar.

               2.    Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas sekilas tentang lafadz “Rabb” dalam Al-Qur’an, antara lain : pengertian lafadz “Rabb”, penggunaannya dalam Al-Qur’an, analisis serta tafsirnya menurut beberapa pendapat dan korelasi lafadz dengan tauhid.

               3.   Sistematika Pembahasan
Makalah ini mencakup tiga bagian, yaitu
BAB I   : pendahuluan, meliputi latar belakang, rumusan masalah dan sistematika    penulisan.
BAB II    : pembahasan
BAB III   : kesimpulan atau penutup.

  


BAB II
 PEMBAHASAN
1.   Pengertian Lafadz Rabb
a. Dalam Mu’jam Mufradat Li alfadz Al-Qur’an
Lafadz “Rabb” menurut asalnya bermakna “tarbiyah”, yaitu mendidik atau mengasuh, setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan. “Rabb” adalah bentuk masdar, akan tetapi meminjam makna dari fa’il. “Rabb” hanya boleh dimaksudkan untuk Allah SWT yang selalu menjamin kemashlahatan hamba-Nya.[1]

b. Dalam Lisan al-Arab
Yang dimaksud dengan “Rabb” adalah Allah ‘Azza wa Jalla, dialah Tuhan dari segala sesuatu yang ada, yang secara otomatis juga “pemilik dari semuanya”. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dialah Tuhan dari semua Tuhan, pemilik dari segala pemilik, serta jangan lafadzkan kata “Rabb” dalam konteks selain “Allah” kecuali dengan idafah.[2]

 c. Menurut Imam Ali As-Shabuni
 “Rabb” secara etimologi juga berarti masdar bermakna tarbiyah, yaitu memperbaiki dan melindungi selain dari pada dirinya (orang lain). Al-Harawi berpendapat : lafadz “Rabbahu” digunakan untuk orang yang memperbaiki dan menyempurnakan sesuatu.
 Lafadz “Rabb” diambil dari kata tarbiyah, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala pengatur dan pendidik bagi ciptaan-Nya, “Rabb” juga dipakai dalam beberapa makna, yaitu : ( penguasa, yang memperbaiki, yang disembah, dan tuan yang dita’ati ). Contoh : “Rabbul ibl” dan “Rabb ad-dar”, dalam kalimat ini “Rabb” berarti pemilik.
Jika penggunaan lafadz “Rabb” itu kepada selain Allah, maka harus beridhafah, tetapi jangan di’idhafahkan dengan ism dhamir,  karena mungkin  akan menimbulkan kesalahpahaman bagi pendengar.
 Dalam hadits nabi disebutkan ( janganlah kamu mengatakan “Ath’im Rabbaka” dan jangan katakan “Rabbi” ( untuk konteks tuan ), tetapi gantilah dengan kata “Sayyidi atau Maulaya”. (H.R. Bukhari Muslim).[3]
Kata “rabb” juga biasa dipakai sebagai salah satu nama Tuhan, karena Tuhanlah yang secara hakiki menjadi pemelihara, pendidik, pengatur, pengasuh dan yang menumbuhkan makhluk-Nya. Oleh sebab itu, kata tersebut biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “Tuhan”.[4]

d.    Dalam kitab “Al-Mushtalahat Al-Arba’ah fi Al-Qur’an”.
Kata (Rabbun) رَبٌّ , terdiri atas dua huruf: Ra’ dan Ba’ tasydid. Kata ini pecahan dari kata (Tarbiah) , yakni pendidikan, pengasuhan dan sebagainya. Selain daripada itu, ia mencakup banyak arti, yaitu kekuasaan, perlengkapan, pertanggungjawaban, perbaikan, penyempurnaan dan sebagainya. Sebab itu, maka kata tersebut merupakan suatu predikat bagi suatu kebesaran, keagungan, kekuasaan dan kepemimpinan.[5] Berikut ini dipaparkan contoh penggunaan lafadz “Rabb” pada bangsa Arab :

(1)   Pendidikan, Bantuan, Peningkatan

Ø  Kata orang Arab: ربّ الولد (Rabbal walada) = Dia pelihara anak itu, mendidik, mengasuhnya.
Ø   ربّى النعم (Rabban-ni’mata) = Meningkatkan bantuannya sehingga memenuhi keinginan dan memuaskan.


(2)   Menghimpun, Menggerakkan, Mempersiapkan

Ø  Kata orang Arab: فلان يربّ الناس  (Fulanun yarubbun nasa) = Si fulan menghimpunkan atau mengumpulkan orang-orang. Sebutan tempat mereka terhimpun ialah مُرَبٌّ (Marabbun). تَرَبّثبٌ (Tarabbub) = Penggabungan atau menggabungkan diri ke dalam suatu golongan atau kesatuan.

(3)   Tanggungjawab, Perbaikan, Pengasuhan

Ø  Kata orang Arab:ضيعة  رَبَّى  (Rabba dhi’ah) = Memperbaiki suatu kerusakan,
memugarnya, memelihara atau bertanggungjawab atasnya.

(4)   Keagungan, Kepemimpinan, Wewenang, Pelaksanaan Perintah

Ø  Kata orang Arab: قد ربّ فلان قومه  (Qad rabba fulanun qaumah) = Si fulan
sudah dapat menguasai golongannya sehingga mereka semua tunduk padanya.

(5)   Pemilik, Juragan

Ø  Pada suatu Hadis, pernah Rasulullah s.a.w. bertanya kepada salah seorang budak :      أ رب غنم أنت أم رب إبل ؟ ( Arabbu ghanamin anta am rabbu iblin?) Juragan kambingkah engkau ini atau juragan unta?
2.  Penggunaan Lafadz Rabb dalam Al-Qur’an
Dari penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa  lafadz “Rabb” dalam Al-Qur’an secara umum mengandung lima makna, yaitu
(1) Memelihara, menjamin serta memenuhi keinginan yang dipelihara.
(2) Membimbing serta mengawasi, di samping memperbaiki dalam segala hal.
(3) Tuan besar, majikan, dan pemimpin yang semua makhluk sangat bergantung pada-Nya.
(4) Ketua yang diakui kekuasaannya, berwibawa dan yang semua perintah- perintahnya dipatuhi.
(5) Raja dan pemilik.[6].
Kata “Rabb” telah dijelaskan maknanya oleh Al-Qur’an  itu sendiri, sebagaimana yang telah dijelaskan. Dalam sebagian ayat  Al-Qur’an, kata “Rabb” bisa mengandung dua makna atau  lebih, bahkan terdapat  sebagian ayat yang mencakup seluruh arti dan  lima makna yang telah disebutkan tadi.
v  Contoh ayat- ayat yang mengandung makna pertama, diantaranya adalah :
çmø?yŠurºuur ÓÉL©9$# uqèd Îû $ygÏF÷t/ `tã ¾ÏmÅ¡øÿ¯R ÏMs)¯=yñur šUºuqö/F{$# ôMs9$s%ur |Møyd šs9 4 tA$s% sŒ$yètB «!$# ( ¼çm¯RÎ) þÎn1u z`|¡ômr& y#uq÷WtB ( ¼çm¯RÎ) Ÿw ßxÎ=øÿムšcqßJÎ=»©à9$# ÇËÌÈ
Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.[7]

v  Contoh ayat- ayat yang mengandung makna kedua dan ketiga, yaitu


öNåk¨XÎ*sù Arßtã þÍk< žwÎ) ¡>u tûüÏJn=»yèø9$# ÇÐÐÈ   Ï%©!$# ÓÍ_s)n=yz uqßgsù ÈûïÏöku ÇÐÑÈ   Ï%©!$#ur uqèd ÓÍ_ßJÏèôÜムÈûüÉ)ó¡our ÇÐÒÈ   #sŒÎ)ur àMôÊÌtB uqßgsù ÉúüÏÿô±o ÇÑÉÈ
Karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam,(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku,Dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu,Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku.[8]

ö@è% uŽöxîr& «!$# ÓÈöö/r& $|/u uqèdur >u Èe@ä. &äóÓx«.......
Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, Padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.[9]

Kata “Rabb” dalam ayat ini bisa berarti pembimbing, pengawas dan Maha Memperbaiki ( makna kedua ) dan bisa mengandung makna ketiga, yakni “tuan atau majikan”.

v  Contoh ayat- ayat yang mengandung makna ketiga, yaitu

Ÿwur ö/ä3ãèxÿZtƒ ûÓÅÕóÁçR ÷bÎ) NŠur& ÷br& yx|ÁRr& öNä3s9 bÎ) tb%x. ª!$# ߃Ìムbr& öNä3tƒÈqøóム4 uqèd öNä3š/u Ïmøs9Î)ur šcqãèy_öè? ÇÌÍÈ
Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, Sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan".[10]
yÏÿçRur Îû ÍqÁ9$# #sŒÎ*sù Nèd z`ÏiB Ï^#y÷`F{$# 4n<Î) öNÎgÎn/u šcqè=Å¡Ytƒ ÇÎÊÈ
Dan ditiuplah sangkalala, Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.[11]

v  Contoh ayat- ayat yang mengandung makna keempat dan sebagian makna yang ketiga, yaitu

(#ÿräsƒªB$# öNèdu$t6ômr& öNßguZ»t6÷dâur $\/$t/ör& `ÏiB Âcrߊ «!$# yxÅ¡yJø9$#ur šÆö/$# zNtƒötB !$tBur (#ÿrãÏBé& žwÎ) (#ÿrßç6÷èuÏ9 $Yg»s9Î) #YÏmºur ( Hw tm»s9Î) žwÎ) uqèd 4 ¼çmoY»ysö7ß $£Jtã šcqà2Ìô±ç ÇÌÊÈ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.[12]



Ÿwur xÏ­Gtƒ $uZàÒ÷èt/ $³Ò÷èt/ $\/$t/ör& `ÏiB Èbrߊ «!$# 4 bÎ*sù (#öq©9uqs? (#qä9qà)sù (#rßygô©$# $¯Rr'Î/ šcqßJÎ=ó¡ãB ÇÏÍÈ
dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".[13]


Adapun yang dimaksud dari kata Arbaban, kata jamak dari Rabb pada dua ayat tersebut ialah semua pemimpin, baik pemimpin agama, ormas dan parpol, maupun pemimpin lainnya, yang mengeluarkan aturan yang ditaati dan dilaksanakan oleh bawahan mereka, sekalipun bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Allah (norma-norma alamiah/insaniah).

tA$s%ur Ï%©#Ï9 £`sß ¼çm¯Rr& 8l$tR $yJßg÷YÏiB ÎTöà2øŒ$# yYÏã šÎn/u çm9|¡Sr'sù ß`»sÜø¤±9$# tò2ÏŒ ¾ÏmÎn/u y]Î7n=sù Îû Ç`ôfÅb¡9$# yìôÒÎ/ tûüÏZÅ ÇÍËÈ
Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syaitan menjadikan Dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. karena itu tetaplah Dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.[14]

Yusuf a.s. memberikan predikat rabb itu kepada raja dan penguasa atau majikan-majikan di Mesir. Orang-orang Mesir pada waktu itu, menganggap setiap raja, baik pejabat dan penguasa ataupun majikan, sebagai pemilik dan berkuasa mutlak atas mereka. Mereka dapat menyuruh dan melarang dalam segala hal tanpa boleh dibantah. Dengan demikian mereka dianggap sebagai rabb-rabb. Tetapi sebaliknya, Nabi Yusuf tidak memaknai kata Rabbi (Tuhanku) selain Allah s.w.t. Karena, kekuasaanNya adalah mutlak.

v  Contoh ayat- ayat yang mengandung makna kelima, yaitu

öNÎgÏÿ»s9¾Î) s's#ômÍ Ïä!$tGÏe±9$# É#ø¢Á9$#ur ÇËÈ   (#rßç6÷èuù=sù ¡>u #x»yd ÏMøt7ø9$# ÇÌÈ
(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).[15]

öqs9 tb%x. !$yJÍkŽÏù îpolÎ;#uä žwÎ) ª!$# $s?y|¡xÿs9 4 z`»ysö6Ý¡sù «!$# Éb>u ĸöyèø9$# $£Jtã tbqàÿÅÁtƒ ÇËËÈ
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.[16]

3.  Analisis Lafadz “Rabb” dalam Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an, terdapat 125 ayat yang memuat kata “Rabb” yang tidak disertai “ال”.    Ternyata 83 ayat dari semua ayat tersebut adalah mengandung kalimat do’a, hanya sebagian kecil yang tidak bermakna do’a, yakni sekitar 42 ayat.  Karena itulah, kata “Rabb” sering digunakan dalam lafadz do’a, yakni seruan untuk memohon sesuatu. Lafadz “Rabb” itu lebih berfungsi dan lebih spesifik daripada lafadz Allah. Jika nama Allah disebutkan, maka sudah mewakili dan mrngandung kata “Rabb” di dalamnya, aka tetapi, jika kita menyebut “Rabb” maka sebenarnya yang dimaksud atau yang dijelaskan adalah tetap kembali kepada Allah SWT.
Lafadz ar rabb (الرب  ) yang memakai alif lam adalah khusus untuk Allah SWT yang maha kuasa, maha memelihara, atau zat yang mutlak yang di sembah (satu satunya) yang menciptakan dan mengelola atau mengatur sendirinya dan tidak ada raja selain dia.[17] “Rabb” tanpa “أل”, kalau disambung dengan kata lain bisa dipakai untuk Allah dan bisa pula dipakai untuk manusia, tetapi sebaliknya jika lafadz ar rabb dengan memakai alif lam (الرَّبُّ) maka dengan masuk alif lam tersebut maknanya menjadi spesifik atau khusus dipakai untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk.

4.  Tafsir Lafadz “Rabb”
¤  Tafsir At-Thabari
• lafadz “Rabb” dalam kalam atau lisan Arab mencakup beberapa makna, yaitu  1) “Tuan yang dita’ati”, 2) “Seseorang yang memperbaiki sesuatu”, 3) “Pemilik atau penguasa sesuatu”.
Lafadz “Rabb” juga  mempunyai makna lain selain tiga makna yang telah disebutkan tadi.
• maka lafadz  فربّنا جلّ ثناؤه berarti “Tuan yang tidak ada keserupaan bagi-Nya, yang memperbaiki urusan ciptaan-Nya dengan apa yang Dia sempurnakan dari nikmat-Nya kepada mereka, serta penguasa yang bagi-Nya semua ciptaan dan urusan”.[18]
¤  Tafsir Az-Zamakhsyari      
lafadz الرب bermakna penguasa.
• lafadz itu boleh dalam bentuk pensifatan dengan masdar untuk mubalaghah seperti kata “adil”.
• lafadz الرب hanya digunakan untuk Allah Ta’ala, akan tetapi jika digunakan untuk selain Allah maka harus beridhafah, seperti kata  :
رب الدار ، ورب الناقة[19]
¤  Tafsir Ibnu Katsir
• lafadz الرب berarti penguasa yang berhak bertindak, dan dalam lughah digunakan untuk istilah “tuan (sayyid)”, dan dalam tindakan-Nya berarti “memperbaiki”. Semua makna itu shahih dalam hak atau hakikat Allah SWT.
• lafadz الرب tidak digunakan untuk selain Allah, melainkan dengan menggunakan idhafah, seperti رب الدار, sedangkan bila lafadz الرب itu hanya untuk Allah, dikatakan itu adalah nama yang agung.
5.  Korelasi Lafadz dengan Tauhid
Ulama-ulama Tauhid mengklasifikasikan Tauhid menjadi dua macam. Pertama, berasal dari lafadz Rabb, Tauhid Rububiyah. Kedua, berasal dari lafadz Ilaah, Tauhid Uluhiyah.
Tauhid Rububiyah (Tauhid Pencipta), yaitu pengakuan bahwa seluruh alam ini, baik nyata ataupun ghaib, diciptakan oleh satu Tuhan. Tuhan Yang Satu itulah yang menciptakan bumi, langit, matahari, bulan dan bintang. Tuhan Yang Satu itu jugalah yang menciptakan manusia, jin, malaikat dan syetan.dan masih Tuhan Yang Satu itu jugalah yang menghidupkan semua makhluk hidup. Tauhid yang seperti ini dapat dimiliki oleh semua manusia, baik mu’min maupun kafir, bahkan dimiliki oleh binatang juga benda-benda yang tidak berakal di alam semesta ini.
Sedangkan Tauhid Uluhiyah (Tauhid Sesembahan/Ibadah), yaitu pengakuan bahwa hanya kepada Tuhan Yang Satu itulah kita menyembah, memuja, meminta tolong, beribadat, dan berdzikir. Tauhid yang semacam ini jelas berbeda dengan Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah hanya dapat dimiliki oleh beberapa makhluk saja, tentunya setelah ia mengakui Tauhid Rububiyah. Karena setelah ia mengakui adanya Tuhan yang menciptakan segala yang ada, maka ia  hanya akan mau untuk menundukan dan merendahkan dirinya di hadapan Tuhan Yang Satu itu.
Tauhid Rububiyah tidak akan bernilai apa-apa kalau tidak disertai dengan Tauhid Uluhiyah. Karena apalah arti sebuah pengakuan bahwa alam ini diciptakan seluruhnya oleh Tuhan jika tidak disertai dengan ibadah dan keta’atan pada Tuhan Yang Satu tersebut.[20]
Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa konsekuensi rububiyah ada­lah adanya perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang ber­buat baik dengan kebaikan, serta menghukum yang jahat atas kejaha­tannya.






BAB III
 KESIMPULAN
Lafadz “Rabb” menurut asalnya bermakna “tarbiyah”, yaitu mendidik atau mengasuh, setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan. “Rabb” adalah bentuk masdar, akan tetapi meminjam makna dari fa’il. “Rabb” hanya boleh dimaksudkan untuk Allah SWT yang selalu menjamin kemashlahatan hamba-Nya.
Jika penggunaan lafadz “Rabb” itu kepada selain Allah, maka harus beridhafah, tetapi jangan di’idhafahkan dengan ism dhamir,  karena mungkin  akan menimbulkan kesalahpahaman bagi pendengar.
Dapat disimpulkan bahwa  lafadz “Rabb” dalam Al-Qur’an secara umum mengandung lima makna, yaitu
(1) Memelihara, menjamin serta memenuhi keinginan yang dipelihara.
(2) Membimbing serta mengawasi, di samping memperbaiki dalam segala hal.
(3) Tuan besar, majikan, dan pemimpin yang semua makhluk sangat bergantung pada-Nya.
(4) Ketua yang diakui kekuasaannya, berwibawa dan yang semua perintah- perintahnya dipatuhi.
(5) Raja dan pemilik..
Kata “Rabb” sering digunakan dalam lafadz do’a, yakni seruan untuk memohon sesuatu. Lafadz “Rabb” itu lebih berfungsi dan lebih spesifik daripada lafadz Allah. Jika nama Allah disebutkan, maka sudah mewakili dan mrngandung kata “Rabb” di dalamnya, aka tetapi, jika kita menyebut “Rabb” maka sebenarnya yang dimaksud atau yang dijelaskan adalah tetap Allah SWT.











DAFTAR PUSTAKA

Al-Ashfahani, Al-Raghib. “Mu’jam Mufradat Li alfadz Al-Qur’an”, CD ROM Maktabah Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008.
Al-Maududi, Abu A’la. “Al-Ishtilahat Al-Arba’ah fi Al-Qur’an”, CD ROM Maktabah Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008.
Al Utsaimin, Syaikh muh.bin Shalih, “Hukum- hukum dalam Al qur’an  jilid 1” (pustaka azzam, 2005)
Katsir, Ibnu. “Tafsir Ibnu Katsir”, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008
Arifin, Bey. Mengenal Tuhan (Surabaya: Bina Ilmu, 1994)
As-Shabuni , Imam Ali. “Rawa’i al-Bayan : Tafsir al-Ayat al-Ahkam”,
At-Thabari, Abu Ja’far M. bin Jarir.  “Tafsir At-Thabari ”, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008
 Az-Zamakhsyari, ”Tafsir Al-Kassyaf”, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008
Mishri , Ibnu Mandzur Faryaqi. “Lisanul Arab”, CD ROM Maktabah Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008.
Shihab, Quraish, dkk. “Ensiklopedia Al-Qur’an” ( Jakarta : Lentera Hati, 2007 )



[1]Mu’jam Mufradat Li Alfadz Al-Qur’an”, CD ROM Maktabah Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008.
[2]  Ibnu Mandzur Faryaqi Mishri, “Lisanul Arab”, CD ROM Maktabah Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008.
[3] Imam Ali As-Shabuni, “Rawa’i al-Bayan : Tafsir al-Ayat al-Ahkam”, hlm 23- 24.
[4]  Quraish Shihab, dkk, “Ensiklopedia Al-Qur’an” ( Jakarta : Lentera Hati, 2007 ) hlm. 801.
[5]  Abu A’la Al-Maududi, “Al-Ishtilahat Al-Arba’ah fi Al-Qur’an”, CD ROOM Maktabah Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008.
[6]  Abu A’la Al-Maududi, “Al-Ishtilahat Al-Arba’ah fi Al-Qur’an”……… hlm 29.
[7]  Q.S Yusuf : 23.
[8] QS As-Syu’ara : 77-80.
[9] QS : Al-An’am : 164.
[10] QS Hud : 34.
[11] Q.S Yasin : 51.
[12] Q.S At-Taubah : 31.
[13] QS : Ali Imran : 64.
[14] Q.S Yusuf : 42.
[15]  Q.S Quraisy : 2-3.
[16]  Q.S Al-Anbiya’ : 22.
[17] Syaikh muh.bin shalih Al utsaimin, “Hukum- hukum dalam Al qur’an  jilid 1” (pustaka azzam, 2005) hal.19.
[18] “Tafsir At-Thabari ”, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008
[19] Az-Zamakhsyari, ”Tafsir Al-Kassyaf”, CD ROM al-Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridwan, 2008

[20] Bey Arifin, Mengenal Tuhan (Surabaya: Bina Ilmu, 1994), hlm. 37-39.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tuliskan Komentar Anda disini. jika anda belum mempunyai Google Account atau Open ID, Anda bisa Menggunakan Name/Url (disarankan menggunakan opsi ini) atau Anonimous.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Advertise

Contact Us

n