Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

SEJARAH DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

Monday, May 07, 2018 Add Comment

SEJARAH  DALAM  PERSPEKTIF AL-QUR'AN Oleh Imam Fu’adi 

The one of popularity issues analyzed still researchers is a history. Urgent of this issue, clearly, can be looked at human behavior as product of civilization that always repeats the past achievements, on the one hand, and eliminates the failures to get the better future, on the other hand. There were some literatures accentuated products of the history, and this written wanted to present principle problem concerning the history on al-Qur’an perspective. The problem, perspective al-Qur’an about a history, I think, is special issue, and has not been touched by researchers. In order to, the written need to explore.
Kata kunci : Al-Qur’an, sejarah, manusia.

I. Pendahuluan
Bahwa, al-Qur’an itu merupakan sumber rujukan utama yang menempati posisi sentral bagi seluruh disiplin ilmu keislaman, telah kita sepakati. Kitab suci ini disamping sebagai Hudan (petunjuk), juga Bayyinat Min al-Huda (penyelaras bagi petunjuk-petunjuk tersebut) serta menjadi Furqan (tolak ukur pemisah antara yang benar dan yang salah. Didalamnya terkandung pesan-pesan ilahi kepada manusia. Dari sini tidak heran jika al-Qur’an mendapat perhatian yang besar dari semua pihak yang ingin memperoleh cahaya petunjuk dan atau mengenal lebih dekat ajaran-ajaran Islam.[1]

Dalam pengertian formal, menurut Lukman Abdul Qahar Sumabrata,[2] al-Qur’an dapat dipahami sebagai sebuah kitab, atau lembaran kertas berjilid, dan tertulis di dalamnya diktum berbahasa Arab yang oleh umat Islam dipercaya sebagai wahyu Allah. Sedangkan dalam pengertian esensial, al-Qur’an itu adalah manusia atau alam semesta atau alam semesta itu sendiri. Sebab di dalamnya terdapat berbagai suratan yang mengambarkan struktur kosmik, seperti matahari, sapi betina, binatang ternak, rembulan, manusia, batu, bintang, dan lain-lain.

Dalam hal ini, hubungan antara al-Qur’an sebagai kitab yang berisi sandi tertulis dengan alam semesta dan manusia, bagaikan hubungan antara “ide” dan “realitas”. Oleh karena itu, kedua pemaknaan tersebut tidak bisa dipisahkan secara ekstrim, sebagaimana dalam pengalaman hidup sehari-hari, antara ide dan realitas tidak dapat dipisahkan secara ketat. Antara kata dan benda merupakan dua hal yang saling mewakili, demikian juga terkait satu sama lain dalam benak manusia.

Bagi umat Islam al-Qur’an itu membekali manusia dengan berbagai prinsip dan kaidah-kaidah umum serta dasar-dasar ajaran Islam yang menyeluruh, ia berisikan pesan moral, hukum, etika, dan kisah sejarah kehidupan manusia masa lampau. Sedemikian penting keberadaan al-Qur’an itu, sehingga ia tidak henti-hentinya dijadikan sebagai bahan kajian manusia dari dahulu hingga sekarang. Diantara sekian pengkajian terhadap al-Qur’an itu adalah tentang bagimana pandangan al-Qur’an terhadap sejarah.

Dalam hubungan dengan uraian diatas, makalah ini ingin mendiskusikan seputar pandangan al-Qur’an terhadap sejarah. Agaknya, tema ini belum banyak digagas oleh para mufassir atau ilmuwan-ilmuwan lain, karena itu tema ini boleh dibilang relatif langka. Untuk itu pembahasan dalam makalah ini bersifat pengenalan dan perlu dilakukan upaya tindak lanjut.

II. Karakteristik Pengungkapan Sejarah dalam al-Qur’an
Meskipun al-Qur’an bukan merupakan buku sejarah, tetapi al-Qur’an banyak berbicara soal sejarah. Berbeda dengan berbagai buku-buku sejarah umumnya yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa sejarah secara kronologis, al-Qur’an justru memiliki karakteristik tersendiri dalam menceritakan sejarah.  Karakteristik tersebut antara lain adalah pertama, dalam menceritakan peristiwa sejarah, al-Qur’an tidak mengungkapkannya dalam bentuk deskripsi detail yang dirangkai dalam suatu cetita yang utuh dan runtut.[3] Seluruh peristiwa yang ditampilkan al-Qur’an, baik yang bersifat individu maupun kolektif, disajikan secara bebas dan tersebar dalam beberapa surat dan membentuk suatu rangkaian cerita yang terkesan terputus-putus dan berulang-ulang. Namun dibalik penggalan-penggalan historis yang diungkapkan itu, al-Qur’an ingin menampilkan gaya narasi yang unik, yang menekankan pada pendekatan dan perspektif moral dari penggal-penggal historis yang ditampilkannya. Dengan pendekatan ini, al-Qur’an menjelaskan suatu peristiwa sejarah secara lebih mendalam dan mencoba menganalisis dasar-dasar ideologis dan psikologis serta aspek-aspek moral dari peristiwa tersebut.

Dalam beberapa kasus, al-Qur’an mengacu pada fakta sejarah politik dan keagamaan. Akan tetapi yang menjadi perhatian utamanya bukan fakta itu sendiri, melainkan aspek moral yang terkandung dari peristiwa tersebut. Misalnya al-Qur’an menyebutkan ketidakjujuran dalam perdagangan sebagai gejala atau tanda kemerosotan moral. Ditempat lain al-Qur’an menyebutkan bahwa ketidakadilan dan kelaliman adalah musuh dari solidaritas masyarakat, bahwa suatu kemakmuran ekonomi dan kekuasaan politik yang lepas dari tatanan moral-spiritual akan menyebabkan kehancuran dan kekacauan sosial.[4] Kesemuanya itu diletakkan dalam konteks kesejarahan.



Kedua, sejarah manusia yang diungkapkan oleh al-Qur’an adalah sejarah manusia dalam pengertian universal. Ia tidak bicara tentang satu bangsa atau satu kelompok manusia tanpa perbedaan. Oleh karena itu hukum sejarah berlaku bagi siapa saja, bangsa dan umat dimanapun dan hidup dikurun kapanpun. Karena itu menurut Mazheruddin Siddiqi, al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang dapat digunakan sebagai sumber pijakan dalam pengembangan filsafat sejarah.[5] Artinya dari peristiwa-peristiwa sejarah yang ditampilkan al-Qur’an, dapat ditarik prinsip-prinsip umum yang menentukan proses sejarah secara umum dan berlaku bagi seluruh bangsa dan kelompok manusia dimanapun dan kapanpun. Pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang berhubungan dengan bangsa-bangsa Arab kuno, bangsa Yahudi, Kristen dapat diterapkan dengan kekuatan yang sama kepada masyarakat muslim. Sesungguhnya ulasan al-Qur’an tentang perilaku dan kehidupan bangsa-bangsa masa lalu itu agar dijadikan pelajaran oleh masyarakat muslim bahwa jika mereka jatuh ke dalam perilaku-perilaku amoral yang menyebabkan kehancuran bangsa-bangsa pra-Islam, maka mereka akan mendapatkan perlakuan yang sama dari Tuhan sebagaimana yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu.[6]

Dengan demikian, hukum sejarah yang berlaku menurut al-Qur’an adalah hukum sejarah untuk semua umat, tanpa pengecualian. Keunggulan suatu umat tergantung dari sejauh mana mereka memegangi prinsip-prinsip moral-spiritual. Dalam hal ini kisah-kisah mengenai Nabi merupakan contoh yang layak bagimana al-Qur’an menggambarkan unsur-unsur moral spiritual yang berhasil membentuk sejarah.

Ketiga, al-Qur’an tidak pernah melebihkan peran individu atas kelompok, begitu juga sebaliknya. Peran yang dimainkan individu dalam membentuk sejarah tetap dihargai, tetapi bukan penentu. Keterlibatan kolektif juga diperhitungkan. al-Qur’an banyak menyebutkan contoh perjuangan para penegak kebenaran, Nabi misalnya, yang berjuang bersama sahabat dan pengikut-pengikutnya.[7]

III. Beberapa Persoalan Sejarah Dalam Perspektif al-Qur’an
1.      Hukum Kesejarahan (Sunnah Tarikhiyyah)

Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajal), apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkan barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya ” (QS. Al-A’raf [7]: 34-lihat pula Yunus/10: 49). Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa bagi setiap bangsa atau masyarakat, terdapat ajal atau ketentuan waktu tersendiri. Ajal tersebut berbeda dengan ajal yang berlaku bagi setiap individu. Dalam ayat lain Allah juga berfirman: “Dan kami tiada membinasakan suatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. Tidak pula ada suatu umatpun yang mendahului ajalnya, dan tidak (pula) mengundurkan (nya)” (QS. Al-Hijr [15]: 4-5).

Jika diperhatikan ayat-ayat diatas sesungguhnya mengindikasikan bahwa terdapat hukum kesejarahan, gagasan umumnya adalah penegasan bahwa tiap-tiap umat mempunyai batas waktu seperti yang diungkap dari ayat diatas.

Redaksi ayat diatas menunjukkan bahwa ajal yang ditentukan itu, yang telah dekat atau yang tentang kedekatannya peringatan telah diberikan, merujuk kepada kematian kolektif masyarakat, bukan kematian individu anggota-anggotanya, sebab semua anggota suatu bangsa lazimnya tidaklah mati bersama-sama. Manakala kematian kolektif suatu bangsa disebutkan, itu artinya kematian sosial mereka, bukan kematian individual. Seperti diketahui, secara individual orang mati pada waktu yang  berbeda. Tetapi jika kita melihat mereka sebagai suatu kelompok yang terikat bersama dalam masalah keadilan dan kelaliman, kesejahteraan dan kemiskinan, maka mereka semua memiliki ajal kematian bersama. Kematian sosial ini adalah kematian suatu bangsa.[8]

Kematian suatu masyarakat atau bangsa merupakan konsekuensi logis dari tindakan lalim bangsa tersebut. Konsekuensi-konsekuensi alamiah perbuatan mereka tidak terbatas pada orang yang jahat saja, tetapi juga meliputi seluruh anggotanya tanpa memandang perilaku dan kepribadian masing-masing.[9]

Adanya ketentuan waktu suatu bangsa itulah yang ingin ditunjukkan al-Qur’an sebagai ‘ibrah (pelajaran), “Sungguh telah berlalu aturan-aturan Allah sebelum kamu. Karena itu, mengembaralah dimuka bumi dan perhatikan (dengan sungguh-sungguh) bagimana akibat orang-orang yang mendustakan. Ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran [3]: 137-8).

2.      Ketidaknetralan dan Selektifitas Proses Sejarah

Menurut al-Qur’an proses sejarah itu tidak netral, tetapi ada intervensi Tuhan dalam menentukan jalannya sejarah. Konsep ini menurut Muthahhari, berbeda secara radikal dengan ajaran Karl Marx dimana gerak sejarah itu diciptakan oleh manusia sendiri dalam pengertian sosial dan ekonominya.[10] Al-Qur’an dalam surat an-Nahl [16] : 28 mengisyaratkan: “Sesungguhnya Allah berada dipihak orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan”. Kata “takwa” di ayat ini menurut Siddiqi,[11] bukan berarti takut pada zat Allah, melainkan pada sunnah Allah yang menguasai proses sejarah. Penafsiran ini diletakkan pada konteks historis pada saat ayat itu diturunkan. Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (126-7) yang berbicara dalam konteks perjuangan orang-orang Islam melawan orang-orang kafir di makkah.

Dengan meletakkannya dalam konteks historis, ayat tersebut menegaskan bahwa kesadaran akan hukum-hukum Tuhan yang berlaku dalam proses historis yang dibarengi dengan tindak kebajikan yang membawa perbaikan bagi hubungan antar manusia, akan membantu keberhasilan usaha manusia dalam perjuangan (perorangan maupun kolektif) melawan kelaliman dan ketidakadilan. Allah, sebagai penggerak proses sejarah, akan berpihak pada atau memenangkan orang-orang yang menjalankan sejarahnya sesuai dengan hukum-hukum sejarah yang ditetapkan-Nya.

Al-Qur’an sekaligus memberi ketegasan bahwa perbuatan buruk apapun bentuknya tidak akan membawa keberhasilan atau kemakmuran pada manusia. Keberpihakan Allah pada individu atau kelompok yang memiliki standar moral tinggi dengan sendirinya proses sejarah bakal mengalahkan kekuatan-kekuatan yang secara etis dinilai rendah. Al-Qur’an menyebutkan: “Ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan perintah-perintah (kalimat), dia mematuhinya (berhasil melaksanakan ujian). (Itulah sebabnya mengapa) Allah berkata kepadanya, “Aku akan jadikan engkau pemimpin (imam) manusia”. Ibrahim menimpali, tapi bagimana dengan keturunanku? Allah pun menegaskan, “Janjiku ini tidak melibatkan (berlaku lagi) orang-orang yang zalim” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 124).

Pada umumnya, para ulama’ berpendapat bahwa ayat tersebut berkaitan dengan kepemimpinan umat manusia (pemimpin agama dan politik).[12] Berbeda dengan kaum syi’ah, menafsirkan ayat ini karena percaya bahwa adanya imamah merupakan kebutuhan mutlak.[13]

Dengan pengertian imam diatas secara tersirat ayat ini mengemukakan bahwa Allah tidak mempercayakan jabatan pemimpin umat manusia kepada individu atau kelompok yang secara etis dinilai rendah (zalim).[14]

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa proses sejarah itu lebih merupakan ethically oriented. Oleh karena itu, sejarah tidak akan membiarkan suatu kelompok masyarakat yang tidak memenuhi persyaratan minimum kedailan, perlakuan yang wajar, dan kejujuran terhadap masyarakat lain naik keatas untuk menduduki posisi pimpinan. Prinsip ini tidak mencakup keberhasilan sementara (temporal yang mungkin dicapai oleh masyarakat atau bangsa yang memiliki kekuatan senjata atau kekuasaan materi yang menghancurkan peradaban lain.[15]

Dengan penjelasan diatas sesungguhnya al-Qur’an memberikan pandangan yang jelas mengenai proses seleksi dalam sejarah. Dalam arti sejarah memiliki kemampuan memilih, menyaring atau menyisihkan (selektif) orang-orang yang secara etis-moral kurang layak, digantikan oleh orang-orang yang mampu melahirkan kebudayaan dan peradaban dalam pengertian moral spiritual. Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathi. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya ; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah memberi perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Al-Ra’d [13]:17).

Dalam gambaran al-Qur’an diatas, orang-orang yang tersisih ibarat buih, sedangkan orang-orang yang terpilih sebagai air yang tercurah dari langit. Buih sekalipun diatas tidak mempengaruhi kesuburan tanah. Ayat diatas menekankan “kekuatan tahan lama” yang terdapat dalam kebenaran, dan sifat sementara yang terdapat dalam hal-hal yang tidak benar. Keberadaan akan terus berlangsung dan mempengaruhi jalannya sejarah. Dengan demikian proses sejarah merupakan seleksi terhadap kelompok yang mempunyai nilai yang berguna bagi kemanusiaan. Sejarah tidak ditentukan oleh faktor-faktor personal atau impersonal, melainkan oleh suatu nilai guna yang langsung dan permanen terhadap masyarakat,[16] sehingga suatu kekuatan bakal lestari.

Dalam surat Ali Imran [3]:179 Allah berfirman: “Allah tidak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang percaya dalam keadaan yang sedang mereka hadapi, kecuali bila ia telah memisahkan orang-orang yang zalim dari umat-Nya yang saleh”. Dari ayat ini nampaknya al-Qur’an ingin menunjukkan bahwa sejarah bergerak dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat memisahkan orang-orang yang berakhlak baik dari orang-orang yang zalim. Siddiqi menjelaskan bahwa Tuhan menggunakan kekuatan-kekuatan alam tentunya untuk melengkapi pemisahan atau penyaringan yang disebutkan dalam ayat diatas. Kekuatan tersebut adalah jumlah keseluruhan kondisi dimana manusia hidup dan perubahan yang harus mereka alami di dalam kehidupan. Cara manusia menyesuaikan dirinya dengan kondisi dimana manusia hidup dan perubahan yang harus mereka alami di dalam kehidupan. Cara manusia menyesuaikan dirinya dengan kondisi kehidupan yang dihasilkan oleh perubahan sosial dan ekonomi akan nilai-nilai yang lebih baik dari watak serta sikap mental dan spiritualnya, sehingga proses kehidupan itu sendiri merupakan proses yang selektif, dan berusaha untuk menunjukkan proses ini.

Maka dapat disimpulkan bahwa rangkaian sejarah itu sendiri merupakan kekuatan moral yang akan membuat mereka yang bermoral tinggi muncul diatas, sementara mereka yang bermoral rendah akan tenggelam ke dasar. Karena itu, proses sejarah bersifat selektif dalam arti secara moral.[17]

3.      Daya Penggerak Sejarah

Gerak dan perubahan merupakan salah satu sunnah tarikhiyyah. Siapa sesungguhnya yang mendorong gerak dan perubahan sejarah? Dalam perspektif al-Qur’an, sejarah bergerak didorong oleh kekuatan yang bersifat moralistik-idealistik sebagaimana yang disinggung terdahulu. Adapun pelaku (yang menggerakkan) sejarah, al-Qur’an menyebut dua pelaku; Allah dan manusia.[18] Dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (masyarakat) sampai mereka mengubah (terlebih dahulu) apa yang ada pada diri mereka (sikap mental mereka)” (QS. Al-A’raf [13]: 11). Perubahan dan gerak sejarah yang dilakukan Allah terjadi secara pasti melalui hukum-hukum kesejarahan yang ditetapkan-Nya.[19] Oleh karena itu, sejarah bersifat ilahiah, sakral, suci, dalam arti ditetapkan Allah. Allah mengoperasikan kekuasaannya melalui hukum-hukum ini.[20]

Namun demikian, kebebasan berkehendak dan pilihan manusia adalah kenyataan yang ditekankan al-Qur’an. Dengan kebebasannya, manusia punya peran penting dalam peristiwa-peristiwa sejarah. al-Qur’an menggabungkan kedua pelaku ini; kemutlakan Allah dengan hukum-hukumnya dan kebebasan manusia (lihat QS. Al-Kahfi [18]:16). Maka sesungguhnya hukum-hukum sejarah tidak berada di luar jangkauan manusia. Hukum itu tunduk pada manusia  --- dengan kemampuannya mengadakan perubahan --- sepanjang perubahan itu baik. Hukum ini sekaligus memberi kesempatan yang positif pada manusia untuk mengungkapkan kebebasan memilihnya. Agar dapat memperoleh kesempatan-kesempatan positif itu manusia harus mengikuti pola hukum yang ditentukan Allah dan mengambil tindakan yang semestinya sebagaimana yang dituntut hukum itu. Disini al-Qur’an meletakkan tanggung jawab manusia yang besar dalam peristiwa-peristiwa sejarah. Tanggung jawab yang tidak menyangkut individu tetapi juga tanggung jawab kolektif (lihat QS. Al-Dukhkhan [45]: 28-29, 13-15).[21]

4.      Pertarungan Antara Kebaikan dengan Keburukan dalam Sejarah.

Al-Qur’an mengakui adanya konflik berkesinambungan antara kebaikan dengan keburukan di sepanjang sejarah. Secara simbolik konflik ini diawali oleh anak-anak Adam, Habil dan Qabil. Berbeda dengan filsafat Hegelian, Islam tidak menunjuk terjadinya sintesis yang terbentuk antara pertentangan antara kedua kekuatan tersebut (sebagai tesis dan antitesis dalam konsep Hegel). Sebaliknya yang terjadi adalah pergulatan yang saling memusnahkan --- dengan kebikan ditakdirkan sebagai pemenang.[22] Kisah Ibrahim melawan Namrud, Musa melawan Fir’aun dan kisah Ashab al-Kahf [23] adalah beberapa contoh dari pertarungan ini.

Kisah-kisah yang ditampilkan al-Qur’an memang mencerminkan adanya pergulatan antara kebaikan dengan keburukan, kebenaran dan kesalahan sepanjang sejarah. Penjelasan al-Qur’an lewat ayat berikut ini menunjukkan pengakuannya terhadap konflik-konflik tersebut; “Seandainya Allah tidak membenturkan sebagian manusia dengan yang laun pasti rusaklah bumi ini” (QS. Al-Baqarah [2]:251).

Ayat tersebut diatas berbicara tentang pertempuran antara Thalut dan Jalut. Meskipun demikian, keburukan, kesalahan, dan kejahatan, tentu saja memiliki alasan keberadaannya sendiri. Ia akan ada sepanjang sejarah manusia, timbul tenggelam dalam pergulatan melawan kebaikan dan keberadaan. Dalam perspektif moral yang dikedepankan, al-Qur’an menyajikan pergulatan tersebut dalam penggal-penggal historis yang ditampilkannya, sebenarnya untuk dijadikan pelajaran kepada manusia bahwa ada sesuatu yang laten dalam diri manusia, kebaikan dan keburukan yang bakal mengakibatkan kehancuran adalah suatu kemestian. Keburukan, kesalahan, dan kejahatan pada dasarnya tidak memiliki hakikat mendasar dan tidak maujud secara independen; kesemuanya itu bersifat aksidental, relatif,  dan temporal. Adapun kebenaran dan kebaikan adalah abadi dan lestari serta merupakan sumbu sistem wujud dan masyarakat manusia.[24] Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa pertentangan antara kebaikan dan keburukan itu pada akhirnya kebaikanlah yang tampil sebagai pemenang. Al-Qur’an mengindikasikan persoalan tersebut pada ayat-ayat berikut; “Tapi, Kami lontarkan yang hak atas yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itupun lenyap” (QS. Al-Anbiya' [21]: 18), “Sungguh, Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang beriman dalam kehidupan di dunia dan pada hari kala saksi bangkit” (QS. Al-Mui'min [40]: 51), dan “Dan Sungguh, telah tetap kata Kami serta hamba-hamba Kami para Rasul; sungguh, mereka pasti mendapat pertolongan, sedang tentara Kami itulah yang pasti menang” (QS. Al-Saffat [37] : 171-173).

IV. Sebab-Sebab Terjadinya Disintegrasi Sosial dalam Sejarah
Dalam kaitannya dengan persoalan disintegrasi sosial ini, Al-Qur’an menjelaskan sebagai berikut; “Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara semena-mena, sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah” (QS. Al-An’am [6]: 131) dan “Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan suatu masyarakat secara zalim, sedang penduduknya ada yang masih berbuat kebaikan” (QS. Hud[11]: 117). Dari kedua ayat tersebut, sesungguhnya al-Qur’an ingin menegaskan bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu masyarakat secara semena-mena selama masyarakat itu tidak menyadari hukuman Allah (maksudnya tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu pada mereka), dan Allah tidak akan menghancurkan suatu masyarakat selama tingkah laku moral para anggota masih berada pada tingkat yang cukup memuaskan.

Pernyataan al-Qur’an di atas memiliki implikasi yang jangkauannya cukup jauh dalam hubungannya dengan sifat proses sejarah. Sebab, sejarah hanya memperhitungkan sifat-sifat praktis dari segala perkara dalam masyarakat manusia dan tidak mengindahkan prinsip-prinsip abstrak, kecuali bila prinsip itu diterapkan secara afektif ke dalam tindakan. Hal yang relevan bagi sejarah bukanlah apa yang dipikirkan manusia,melainkan apa yang dilakukan.[25]

Kenyataan penting lainnya adalah bahwa sejarah tidak pernah melibatkan orang tanpa disadari. Namun harus ditegaskan, jika suatu masyarakat tidak mengindahkan peringatan yang diberikan sejarah seperti perang, huru-hara, kekeringan, kelaparan, atau ledakan sosial --- yang menjadi tanda bahwa ada yang tidak beres dalam sistem sosial --- maka hukum sejarah ajal pasti akan menimpa mereka.

Adapun mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial, jatuh dan hancurnya suatu masyarakat, al-Qur’an menyebutkan beberapa faktor, antara lain adalah sebagai berikut.

Pertama, gagasan umum penyebab paling utama kehancuran suatu masyarakat adalah ketidakadilan, kelaliman, dan penindasan.[26] Allah berfirman: “Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduknya) di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak adalah keluhan mereka waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim” (QS. 7: 4-5). Contoh yang dapat diambil dari faktor ini adalah kisah Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan mejadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan mereka, menyembelih anak-anak laki dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguuh, dia termasuk orang-orang yang berbuat kesusahan (QS. Al-Qashash/28 : 4).

Al-Qur’an mengutuk Fir’aun karena ia berlaku sewenang-wenang dan tidak mau tunduk kepada hukum Allah. Yang lebih penting lagi bahwa nafsu superior dan gila kekuasaan mendorongnya untuk menyatakan banwa dirinya adalah tuhan, yang membuatnya memperlakukan orang lain sebagai budak. Kebijakan deskriminasinya yang berdasarkan ras dan superior kelompok telah menjadi masyarakat menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. Ia menghinakan Bani Isra’il dengan membunuh keturunan laki-lakinya dan membiarkan hidup perempuan sebagai obyek seksual Fir’aun beserta pengikutnya. Al-Qur’an menyebutnya sebagai pembuat kerusakan mufsid dengan maksud mengutuk pelanggaran-pelanggaran semacam itu terhadap masyarakat karena bakal menghancurkan pondasi masyarakat bersangkutan.[27]

Kedua, pelanggaran yang dilakukan orang yang bergaya hidup senang, mewah, bersikap hedonisme, sehingga mengakibatkan kerusakan sosial yang pada akhirnya menyebabkan hancurbya masyarakat mereka. Allah berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri,, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudiam Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya… Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” (QS. Al-Isra' [17]: 16 dan 18).

Al-Qur’an tampaknya tidak henti-hentinya menekankan bahwa melimpahnya barang-barang materi (kemakmuran ekonomi) memiliki kecenderungan untuk merusak moral suatu masyarakat, tapi keadaan ini dapat ditanggulangi bila masyarakat merasa takut kepada Allah dan bila agama mereka jadikan sebagai alat kontrol moral yang kuat. Al-Qur’an menyatakan: “Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam hidupnya; maka itulah tempat kediaman mereka yang telah tiada didiami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah pewaris (nya)” (QS. Al-Qassas [28]: 58).

Menurut Al-Razi seperti disitir oleh Siddiqi, maksud ayat tersebut adalah bahwa banyak kota atau masyarakat yang didiami orang-orang yang hidup dalam keejahteraan dan kemewahan sambil menikmati fasilitas hidup tersebut, sehingga akhirnya mereka sombong dan terkalahkan oleh sikap menipu diri sendiri. Terlebih lagi mereka tidak memenuhi kewajiban terhadap Allah dan sesama manusia mengingat rahmat dan karunia yang telah mereka terima.[28]

Ketiga, penolakan terhadap seruan Nabi sebagai pembawa risalah. Sejarah telah membuktikan, selalu ada kaitan negatif dan kontradiktif antara misi Ilahi yang dibawa Nabi dalam kehidupan sosial dengan posisi yang diambil oleh penguasa atau orang-orang yang congkak dan bergaya hidup mewah.[29] Kisah Musa dan Fir’aun menunjukkan kaitan negatif antara kelaliman penguasa dengan pembawa misi Ilahi. Al-Qur’an menyebutkan: “Kemudian Kami utus Musa sesudah Rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, tetapi mereka mengingkari ayat-ayat itu” (QS. Al-A’raf [7]: 103). Setelah menguraikan pembicaraan antara Musa dan Fir’aun ketika Fir’aun meminta bukti kebenaran ajaran yang dibawanya, Musa menunjukkan bukti dengan mengubah tongkat Fir’aun menjadi ular berbisa. Qur’an mengatakan bahwa pemimpin-pemimpin Mesir menuduh Musa sebagai penyihir yang bermaksud mengusir bangsa Mesir dari tanah air mereka. Para pembesar Mesir menasehati Fir’aun untuk memanggil ahli-ahli sihir. Musa berusaha meladeni tantangan mereka. Setelah Musa berhasil mengalahkan mereka semua, akhirnya penyihir-penyihir itu menyerah dan menerima agama Musa (lihat Q.S. Yunus [10] : 76-79, 82-85, 89 dll).

Kisah di atas memberikan beberapa indikasi. Pertama, dalam usaha menekan Musa, Fir’aun dan pengikutnya berusaha menyudutkan Musa sebagai “pemberontak”, perebut kekuasaan yang sah, dan pengubah tatanan sosial yang mapan. Kedua, kecongkakan, kemewahan duniawi, dan pertentangan supremasi, gengsi dan status quo membuat mereka menolak kebenaran yang paling murni meskipun sebenarnya kebenaran itu dapat dipahami dengan baik. Dengan alasan yang hampir sama, begitu juga pengalaman yang dihadapi oleh Nabi Syuaib menghadapi kaum Tsamud (QS. Hud [11]: 62).

Ketiga, timbulnya sikap hidup mewah dan berlebih-lebihan tanpa diimbangi oleh moral-spiritual. Jikalau orang tetap dapat hidup dalam kemewahan tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual yang dapat menjaga masyarakat dari kekacauan moral dan sosial, mungkin mereka akan bebas dari akibat buruk yang timbul dari hidup sejahtera dalam tempo waktu yang lama. Allah berfirman: “Sekiranya penduduk kota beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf [7]:79). Ayat tersebut sebenarnya ingin menunjukkan bahwa kemakmuran dan kekayaan dapat berjalan bersamaan dengan kehidupan spiritual yang seimbang dan masyarakat yang bermoral sehat asal saja tidak terjadi kekurangan dalam alam kepercayaan dan tingkah laku. Walaupun demikian, keadaan ini membutuhkan usaha khusus dari orang-orang yang dipercayakan sebagai pemimpin sosial, keagamaan dan politik dalam masyarakat tersebut.

Al-Qur’an secara konsisten memperingatkan orang-orang dari kerusakan moral yang ditimbulkan dari kebiasaan hidup mewah yang berlebihan, kecuali ada kendali moral yang kokoh. Akan tetapi ada masalah mendasar yang berhubungan erat dengan keadaan stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi yang jadi pusat perhatian al-Qur’an, yakni munculnya penyakit-penyakit moral-spiritual sebagai akibat logis dari keadaan itu. Al-Qur’an memberikan contoh terhadap kecenderungan ini lewat penggal-penggal historis bangsa, “Ad, Tsamud, Madyan, Kaum Saba’, dan pelanggaran umat Yahudi terhadap hari Sabath. Terhadap semua bangsa itu, al-Qur’an menceritakan keberhasilan dan prestasi yang mereka capai diberbagai bidang ; arsitektur, filsafat, ilmu, seni, militer, sistem pertanian, dan sebagainya sekaligus menunjukkan kegagalannya membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai etis-moral-spiritual.[30]

Disintegrasi sosial yang dialami oleh beberapa bangsa terdahulu dilukiskan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an, beberapa contoh diantaranya akan diungkap dalam  artikel ini. Bangsa Arab paling tua yang diungkap al-Qur’an adalah bangsa ‘Ad-Iram. Berdasarkan beberapa penemuan, mereka adalah keturunan Sam, Putra Nabi Nuh, yang kemudian mendirikan kerajaan di Jazirah Arab (Yaman) dimana ada bukti bahwa Nabi Hud yang diutus kepada mereka dikuburkan di Yaman.[31]

Menurut al-Qur’an, bangsa ‘Ad adalah bangsa yang kuat, tetapi sayang mereka sombong (Q.S. Fussilat [41]:15), kejam dan bengis, serta tenggelam dalam pengejaran duniawi dengan membangun benteng-benteng megah dan kokoh (Q.S. al-Syu'ara' [26]: 128-30). Tetapi justru inilah yang menjadi faktor kehancuran mereka. Nabi Hud yang diutus kepada mereka tidak membuatnya berhenti dari usaha pengejaran diniawi (al-Syu'ara' [26]:132-134).

Al-Qur’an dalam memandang perilaku bangsa Tsamudpun tidak jauh dari bangsa ‘Ad. Mereka memiliki keahlian teknologi yang tinggi, tetapi kemudian menjadi sombong (Q.S. al-A'raf [7]:73-5). Kemakmuran ekonomi dan hasil pertanian yang melimpah membuat mereka serakah dan memuaskan kesenangan fisik semata. Nabi Shalih yang diutus untuk menyadarkan mereka akan akibat perilaku itu ditentangnya hibis-habisan (al-Syu'ara' [26]:141-52).

Mengenai kepunahan bangsa Madyan, umat Nabi Syuaib, al-Qur’an memberi penekanan bahwa praktek-praktek dagang yang tidak etis seperti mengurangi takaran dan timbangan, melakukan pencatutan terhadap pelanggan, penggelapan milik orang lain, dan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia itulah yang mengakibatkan mereka ditenggelamkan dari percaturan sejarah kemanusiaan (Lihat, Q.S. al-A'raf [7]: 25-26, Hud [11]: 84-87, dll).

Selain itu bangsa yang bersekutu dengan bangsa Madyan, yaitu penduduk Aikah, yang juga menolak kehadiran Nabi Syuaib sebagai Nabi mendapat peringatan keras dari Allah dengan mengirim angin beracun yang mengakibatkan hawa panas dan kekeringan yang berkepanjangan, serta terik matahari yang menyengat membuat kepala, kaki, dan daging mereka terkelupas. Mereka semua binasa, tinggal orang-orang yang  mempercayai Nabi Syuiablah yang selamat dari malapetaka (Lihat al-Syu'ara' [26]:176-83).

Dari uraian diatas dapat ditarik pelajaran bahwa kekayaan, kemakmuran ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem militer yang kuat tidak menjadi jaminan kekuatan dan ketahanan suatu bangsa jika tidak diimbangi dengan kekokohan moral-spiritual yang dilandasi oleh nilai-nilai absolut (agama, nilai-nilai Ilahi). Justru banyak terjadi kemajuan-kemajuan material yang dicapai suatu bangsa menjadi sebab kemerosotan moral yang pada gilirannya membawa kepada adanya disintegrasi sosial.

V.    Keismpulan
Al-Qur’an mempunyai gaya narasi tersendiri dalam mengungkapkan peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu. Hal ini menjadi corak tersendiri yang membedakan al-Qur’an sebagai sumber informasi kesejarahan jika dibandingkan dengan buku-buku sejarah pada umumnya. Dengan cara yang demikian al-Qur’an berusaha menampilkan peristiwa-peristiwa masa lalu yang dapat diambil pelajaran dari pesan-pesan yang diberikannya.

Sejarah yang diungkap oleh al-Qur’an merupakan “sejarah hidup”. Peristiwa-peristiwa sejarah tersebut seakan-akan mengajak berdialog dengan para pembacanya untuk memperhatikan aspek yang sangat mendalam dan asasi dari proses historis. Bahwa ada hukum yang bekerja dalam proses historis yang sifatnya universal, suci, bersifat ilahi, dan karenanya berlaku untuk semua manusia, semua bangsa dan semua masyarakat dalam segala zaman.

Dalam perspektif al-Qur’an, faktor moral dalam sejarah memiliki keunggulan tersendiri. Faktor ini dapat melestarikan bangsa dari kebinasaan. Hal ini sangat rasional karena faktor moral berimplikasi langsung dalam kehidupan praktis, sebagai parameter kepribadian dan tingkah laku suatu bangsa atau masyarakat. Faktor moral ini menjadikan suatu kelompok masyarakat atau bangsa menjadi pemenang dalam pertarungannya dengan faktor-faktor lain.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Alusi, Mahmud. Ruh al Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al Adhim wa Sab al-Matsani, Jilid I. Dar al-Fikr al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1994.

Al-Aththar, Daud. Mujaz ‘Ulum al-Qur’an, penerjemah Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad. Pustaka Pelajar, Bandung, 1994.

Muhtasib, Al-Salam, Abd, Majid, Abdul. Ittijahat al-Tafsir fi al-Ash al-Hadits. Dar al-Fikr, Beirut, 1973.

Mutahhari, Murtaza. Menguak Masa Depan Umat Manusia, Suatu Pendekatan Filsafat Sejarah. Pustaka Hidayah, Jakarta, 1991.

Muthahhari, Murtadha. Masyarakat dan Sejarah, Kritik Islam Atas Marxisme dan Teori Lainnya. Mizan, Bandung, 1995.

Al-Nadwi, Ali, Hasan, Abu. Faith and Materialism, The Massage of Surah al-Kahf. Academy Islamic Research an Publication, India, 1976.

Rahman, Afzalur. Quranic Science, Penerjemah H. M Arifin, M. Ed. Bina Aksara, Jakarta, 1980.

Al-Shadr, Baqir. Trends of History in Qur’an, Penerjemah M.S. Nasrullah. Pustaka Hidayah, Jakarta, 1993.

Shihab, Quraish. Membumikan al-Qur’an. Mizan, Bandung, 1997.

Siddiqi, Mazheruddin. Konsep al-Qur’an Tentang Sejarah, Penerjemah Nur Rachmi Cs. Pustaka Firdaus, Jakarta, 1986.

Sumabrata, Qahar, Abdul, Lukman. Pengantar Fenomenologi al-Qur’an, Dimensi Keilmuan di Balik Mushaf Utsmani. Grafikatama Jaya, t.t.p., 1991.

Suryanegara, Mansur. Menemukan Sejarah Wacana Islam di Indonesia. Mizan, Bandung, 1996.

* Dosen Tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Tulungagung

[1] Daud al-Aththar, Mujaz ‘Ulum al-Qur’an, penerjemah Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad. (Bandung: Pustaka Pelajar, 1994), 7.

[2] Lukman Abdul Qahar Sumabrata, Pengantar Fenomenologi al-Qur’an, Dimensi Keilmuan di Balik Mushaf Utsmani. (t.t.p.: Grafikatama Jaya, 1991),  11.

[3] Abdul Majid Abd Al-Salam al-Muhtasib, Ittijahat al-Tafsir fi al-Ash al-Hadits. (Beirut: Dar al-Fikr, 1973), 131.

[4]Mazheruddin Siddiqi, Konsep al-Qur’an Tentang Sejarah, Penerjemah Nur Rachmi Cs. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), 49-50.

[5]Mazheruddin Siddiqi, Konsep al-Qur’an ,  54.

[6]Ibid.

[7]Ibid., Lihat pula Murtaza Mutahhari, Menguak Masa Depan Umat Manusia, Suatu Pendekatan Filsafat Sejarah. (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991), 59.

[8]Baqir al-Shadr, Trends of History in Qur’an, Penerjemah M.S. Nasrullah. (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993), 80.

[9] Ibid.,  79-81.

[10]Murtadha Muthahhari, Masyarakat dan Sejarah, Kritik Islam Atas Marxisme dan Teori Lainnya. (Bandung: Mizan, 1995), Bab VII dan VIII.

[11] Mazheruddin Siddiqi, Konsep al-Qur’an ………,. 2.

[12]Mahmud al-Alusi, Ruh al Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al Adhim wa Sab al-Matsani, Jilid I. (Beirut: Dar al-Fikr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 374.

[13] Siddiqi, Konsep al-Qur’an  3.

[14] Al-Razi, Mafatih al-Ghaib. (Kairo: t.p., 1308 H), 473-86.

[15] Siddiqi, Konsep al-Qur’an ………, 3-4.

[16] A. Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Islam di Indonesia. (Bandung: Mizan, 1996), 51.

[17] Siddiqi, Konsep al-Qur’an ,  9.

[18] Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1997),. 246.

[19] Murtadha Muthahhari, Masyarakat dan Sejarah,  211.

[20] Baqir al-Shadr, Trends of History, 89-92.

[21]Ibid.,. 92-5.

[22] Murtadha Muthahhari, Masyarakat dan Sejarah , 186.

[23] Baca pada Abu Hasan Ali Nadwi, Faith and Materialism, The Massage of Surah al-Kahf. (India: Academy Islamic Research an Publication, 1976).

[24] Muthahhari, Masyarakat dan Sejarah,. 185.

[25] Mazheruddin Siddiqi, Konsep al-Qur’an , 20-1.

[26] Ibid.,. 23.

[27]Muthahhari, Masyarakat dan , 203.

[28]Siddiqi, Konsep al-Qur’an , 27.

[29] Baqir al-Shadr, Trends of History,  85.

[30]Afzalur Rahman, Quranic Science, Penerjemah H. M Arifin, M. Ed. (Jakarta: Bina Aksara, 1980), 128-9.

[31]Siddiqi, Konsep al-Qur’an , 67-9.

CONTOH MAKALAH PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM

Admin Sunday, May 06, 2018 Add Comment

CONTOH MAKALAH PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM

KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan dan  keikhlasan hati, Penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan rahim-Nya yang telah dilimpahkan, taufiq dan hidayah-Nya dan atas segala kemudahan yang telah diberikan sehingga penyusunan makalah tentang “Pusat – pusat Peradaban Islam” ini dapat  terselesaikan.

Shalawat terbingkai salam semoga abadi terlimpahkan kepada sang pembawa risalah kebenaran yang semakin teruji kebenarannya baginda Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabat, serta para pengikutnya. Dan Semoga syafa’atnya selalu menyertai kehidupan ini.

Makalah ini berisi  ulasan-ulasan yang membahas tentang Pusat – Pusat Peradaban islam yang berada di Baghdad, Cairo, Isfahan, Istanbul, Delhi, Andalus serta Samarkand dan Bukhara (Transoxania).

 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sering kita mendengar bahwa peristiwa masa lalu  bisa dijadikan sebagai jas merah, sebenarnya maksud dari kata jas merah itu sendiri adalah “jangan sampai melupakan sejarah”. Apalagi kita sebagai orang Islam dan menuntut ilmu di Universitas Islam tentunya harus paham akan sejarah kebudayaan islam di masa dahulu. Hal ini perlu agar kita mampu menganalisa dan mengambil ibrah dari setiap peristiwa yang pernah terjadi. Khususnya mengenai peradaban-peradaban islam di masa lalu.

Dalam makalah kali ini akan dibahas mengenai Pusat–Pusat Peradaban islam yang berada di Baghdad, Cairo, Isfahan, Istanbul, Delhi, Andalus serta Samarkand dan Bukhara (Transoxania). dan untuk lebih detailnya tentang Pusat-pusat Peradaban Islam ini akan diuraikan dalam Bab Pembahasan.Namun, dengan segala keterbatasan tim penulis, maka dalam makalah ini tidak akan dijabarkan satu persatu secara rinci.

Demikianlah sedikit gambaran mengenai isi makalah ini yang tim penulis buat dengan metode literatur kajian pustaka terhadap buku-buku yang berhubungan dengan tema makalah yang kami buat dan berdasar pada diskusi yang kami lakukan.

1.2 Rumusan Masalah

Dari Latar belakang tersebut, maka perlu kiranya penulis untuk menjelaskan secara rinci mengenai Pusat-pusat peradaban Islam yang ada di Baghdad, Cairo, Isfahan, Istanbul, Delhi, Andalus serta Samarkand dan Bukhara (Transoxania).

1.3 Tujuan
Pembahasan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan Pusat – pusat peradaban Islam yang ada Baghdad, Cairo, Isfahan, Istanbul, Delhi, Andalus serta Samarkand dan Bukhara (Transoxania).

BAB II PEMBAHASAN

2.1  Baghdad (Irak)
Kota Baghdad didirikan oleh Khalifah Abbasiyah kedua, Al-manshur (754-755) pada tahun 762 M. Setelah mencari-cari daerah yang strategis untuk ibu kotanya, pilihan jatuh pada daerah yang sekarang dinamakan Baghdad, terletak dipinggir kota Tigris. Al-manshur sangan cermat dan teliti dalam memilih lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Bahkan, ada beberapa orang diantara mereka yang diperintahkan beberapa hari ditempat itu disetiap musim yang berbeda, kemudian para ahli tersebut melapaorkan kepadanya tentang keadaan udara, tanah dan lingkungan. Setelah penelitian saksama itulah daerah ini ditetapkan sebagai ibu kota dan pembangunan pun dimulai. Menurut cerita rakyat, dearah ini sebelumnya adalah tempat peristirahatan Kisra Anusyriwan, raja Persia yang mashur, di musim panas. Baghdad berarti “taman keadilan”. Taman itu lenyap bersama hancurnya kerajaan Persia. Akan tetapi nama itu tetap menjadi kenangan rakyat. Dalam membangun kota ini, Khalifah mempekerjakan staf ahli bangunan yang terdiri dari arsitektur-arsitektur, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat, dan lain-lain. Mereka didatangkan dari Syria, Mosul, Basrah, dan Kufah yang berjumlah sekitar 100.000 orang. Kota ini berbentuk bundar. Disekelilingnya dibangun dinding tembok yang besar dan tinggi. Disebelah luar dinding tembok digali parit besar yang berfungsi sebagai saluaran air dan sekaligus sebagai benteng. Ada empat buah pintu gerbang diseputar kota ini, disediakan untuk setiap orang yang ingin memasuki kota. Keempat pintu gerbang itu adalah baba al-Kufah terletak disebelah barat daya, Bab al-syam dibarat laut, Bab al-Barshrah di tenggara, dan Bab al-Khurasan di timur laut. Diantara masing-masing pintu gerbang ini, dibangun 28 menara sebagai tempat pengawal Negara yang bertugas mengawasi keadaan diluar. Diatas setiap pintu gerbang dibangun suatu tempat peristirahatan.

 Sejak awal berdirinya, kota Baghdad sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. diantara kota-kota dunia, Baghdad merupakan Profesor masyarakat Islam. Al manshur memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmiah dan kesusastraan dari bahasa asing: India, Yunani lama, Bizantium, Persia dan Syria. Para peminat ilmu dan kesusastraan segera berbondong-bondong dating ke kota itu. Setelah masa Al manshur, kota Baghdad menjadi lebih mashyur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809) dan anaknya Al-Ma’mun (813-833 M). dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradaban islam keseluruh dunia. Prestise politik, supremasi ekonomi, dan aktifitas intelektual merupakan tiga keistimewaan kota ini. Baghdad pada saat itu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan yang tertinggi di dunia. Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat yang dipandang sudah “mati” dihidupkan kembali dengan diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Disamping itu banyak berdiri akademi, sekolah tinggi dan sekolah biasa yang memenuhi kota itu. Perguruan Nizhamiyyah, didirikan oleh Nizham Al-mulk, Perguruan Mustanshiriyah, didirikan 2 abad kemudian oleh Khalifah Mustanshir Billah. Dalam bodang sastra, kota Bghdad terkenal dengan hasil karya yang indah dan digemari orang. Alf Lailah wa Lailah, atau kisah seribu satu malam. Dikota ini lahir pula al-Khawarizm (ahli astronomi dan matematika, penemu ilmu aljabar), al-Kindi (filosof Arab pertama), al-Razi (Filosof, ahli Fisika dan kedokteran), al-Farabi (filosof terbesar dan dijuluki dengan al-mu’allim al-Tsani, guru kedua setelah aristoteles), tiga pendiri madzhab hokum Islam (Abu Hanifah, Syafi’I, dan Ahmad Ibn Hambal), Al-Ghazali (Filosof, teolog, dan sufi besar dalam Islam yang dijuluki denagn Hujjah al-Islam), Abd Al-Qadir Al-Jilani (pendiri tarekat qadiriyah), Ibn Muqaffa’ (sastraawn besar), dan lain-lain. Dalam bidang ekonomi, perkembangannya sejalan dengan perkembangan polotiknya.

Pada masa Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun, perdagangan dan industri berkembang pesat. Didukung oleh tiga buah pelabuhan yang ramai dikunjungi para khalifah dagang internasional (Cina, India, Asia tengah, Syria, Persia, Mesir, dan negeri Afrika lainnya) Baghdad mendapat julukan Benteng Kesucian. Disinilah istirahatnya Imam Musa Al-Kazhim (imam ketujuh Syiah), Abu hanifah (pendiri mazhab Fiqh Hanafi), Syaikh Junaid, Syibli, dan Abdul Kadir Jailani (pemimpin-pemimpin kaum Sufi). Kota ini juga muncul sebagai kota terindah dan termegah didunia pada saat itu, sebelum dihancurlkan oleh tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan tahun 1258 M. mereka menghancurkan perpustakaan yang merupakan gudang ilmu. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk, dan tahun 1508 M oleh tentara kerajaan safawi. Kota Baghdad sekarang tidak mencerminkan kemajuan Baghdad lama.

2.2 Kairo (Mesir)
Kota kairo dibangun pada tanggal 17 Sya’ban 358 H/969 M oleh panglima perang dinasti fathimiah yang beraliran syiah, Jawhar Al-Siqili, atas perintah Khalifah Fathimiah, Al-Mu’izz Lidinillah (953-975 M), sebagai kota kerajaan dinasti tersebut. Wilayah kekuasaannya meliputi Afrika utara, Sucilia dan Syria. Berdirinya kota Kairo sebagai ibu kota kerajaan membuat Baghdad mendapat saingan. Kemudian, Al-Siqili mendirikan mesjid Al-azhar, 17 Ramadhan 359 H. Mesjid ini berkembang menjadi sebuah Universitas besar yang sampai sekarang masih berdiri megah. Kota ini mengalami tiga masa kejayaan, yaitu pada masa dinasti Fathimiah, di masa Shalah Al-Din Al-Ayyubi dan dibawah Baybars dan Al-Nashir pada masa dinasti Mamalik. Selama pemerintahan Muizz seni dan ilmu mengalami kemajuan besar. Al-Muizz melaksanakan tiga kebijakan besar, yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama (juga aliran). Dalam bidang administrasi, ia mengangkat wazir (menteri) untuk melaksanakan tugas kenegaraan. Dalam bidang ekonomi, ia memberi gaji khusus kepada tentara, personalia istana, dan pejabat pemerintahan lainnya.

Dalam bidang agama, diadakan empat lembaga peradilan, dua untuk mazhab Syiah dan dua untuk mazhab Sunni. Pada masa Al-Aziz Billah dan Hakim Biamirillah, terdapat seorang mahaguru bernama Ibn Yunus yang menemukan pendulum dan ukuran eaktu dengan ayunannya. Karyanya Zij al-Akbar al-Hakim diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Dia meninggal pada tahun 1009 M dan penemuan-penemuannya diteruskan oleh Ibn Al-nabdi (1040) dan Hasan Ibn Haitham, seorang astronom dan ahli optika.  Pada masa pemerintahan Al-Hakim (996-1021 M), didirikan bait al-Hikmah. Dilembaga ini banyak buku-buku. Lembaga ini juga merupakan pusat pengkajian astronomi, kedokteran dan ajaran-ajaran Islam terutama Syiah. Ketika jayanya, di Kairo terdapat lebih kurang 20.000 toko milik khalifah, penuh dengan barang-barang dari dalam dan luar negeri. Khafilah-khafialah, tempat-tempat pemandian, dan sarana umum lainnya banyak didirikan penguasa. Istana khalifah dihuni oleh 30.000 orang, 12.000 diantaranya adalah pembantu, 1000 pengawal berkuda. 

Dinasti Fathimiah ditumbangkan oleh dinasti Ayyubiah yang didirikan oleh Shalah Al-Din, seorang pahlawan Islam yang terkenal pada perang salib. Ia tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh Fathimiah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syiah kepada Sunni. Ia juga mndirikan lembaga-lembaga ilmiah baru, terutama mesjid yang dilengkapi dengantempat belajar teologi dan hokum. Karya-karya yang muncul pada saat itu dan sesudahnya adalah kamus biografi, compendium sejarah, manual hukum dan komentar-komentar teologi. Ilmu kedokteran diajarkan dirumah-rumah sakit. Prestasi yang lain adalah didirikannya sebuah rumah sakit bagi ornag yang cacat pikiran. Setelah itu kekuasaan diambil alih oleh dinasti Mamamik. Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasaannya dari serangan bengsa Mongol dan mengalahkannya di Ayn Jalut dibawah pimpinan Baybars. Baybars dapat dikatakan sebagai pendiri dinasti ini. Ia juga pahlawan Islam pada saat perang salib. Pada masa itu, Kairo menjadi satu-satuya pusat peradaban Islam yang selamat dari serangan Mongol. Oleh karenanya, Kairo menjadi pusat peradaban dan kebudayaan Islam terpenting. Pada tahun 1261 M mengundang keturunan Abbasiah untuk melanjutkan Khalifahnya di Kairo. Kemudian banyak bangunan didirikan dengan arsitektur yang indah. Namun pada tahun 1517 M, dinasti Mamalik dikalahkan oleh kerajaan Usmani yang berpusat di Turki dan sejak itu Kairo hanya menjadi ibu kota provinsi dari kerajaan Usmani tersebut.

2.3  Ishafan (Persia)
Isfahan ialah kota terkenal di Persia, pernah menjadi ibu kota kerajaan Safawi.Ardasir, raja Persia pernah membangun irigasi untuk pengaturan air dari sungai Zandah, bernama Zirrin Rod, berarti sungai emas. Hingga sekarang perekonomian negeri ini sangat bergantung kepada pertanian kapas, candu, dan tembakau. Kota ini, sebelum barada dibawah kerajaan Safawi, sudah beberapa kali mengalami pergantian penguasa: Diansti Samani tahun 301 H, kemudian direbut oleh Mardawij tahun 316 H dan memerdekakan diri dari kekuasaan Baghdad. Setelah itu jatuh ketangan penguasa Bani Buwaih dan pada tahun 421 H direbut oleh Mahmud Al-Ghaznawi, penguasa dinasti Ghaznawiah. Dari penguasa Ghaznawiah ini, Isfahan lepas ketangan penguasa Saljuk dan dijadikan sebagai tempat tinggal sultan Maliksyah.

Pada tahun 625 H, terjadi pertempuran disini, ketika tentara-tentara Mongol menyerbu negeri-negeri Islam dan menjadikan Isfahan sebagai salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Mongol itu. Ketika Timur Lenk menyerbu negeri-negeri Islam, kota ini ikut jatuh ketangannya tahun 790 H dan sekitar 7000 orang penduduknya terbunuh.

Setelah itu kota ini dikuasai oleh kerajaan Usmani tahun 955 H dan pada tahun 1134 H, terjadi pertempuran antara Husein Syah, Raja Safawi dengan Mahmud Al-Afgani, yang mengakhiri riwayat kerajaan Safawi sendiri. Pada tahun 1141 H, kota ini berada dibawah kekuasaan Nadir Syah. Ketika raja Safawi , Abbas I menjadikan Isafan sebagai ibu kota kerajaannya, kota ini menjadi kota luas dan ramai dengan penduduk. Masjid Syah yang masih ada sampai sekarang yang didirikan oleh Abbas I, merupakan salah stu mesjid terindah di dunia. Pintunya dilapisi dengan perak. Di samping itu, ada lapangan dan tanaman yang terawat baik dan menawan.

2.4 Istanbul (Turki)
Istanbul adalah ibu kota kerajaan Turki Usmani yang sebelumnya merupakan ibu kota kerajaan Romawi Timur, yang bernama Konstantinopel. Jauh sebelum Turki Usmani dibawah sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel, para pemimpin Islam sejak zaman Al-Khalifah Al-Rasyidah, kemudian khalifah bani Umayah dan Khalifah bani Abbas berusaha kearah itu. Namun, baru pada masa kerajaan Turki Usmani usaha itu berhasil. Setelah Muhammad Al-Fatih menjadikan Istanbul sebagai Ibu kota kerajaan Turki Usmani, ia melakukan penataan hal-ihwal orang Kristen Yunani (Romawi). Dalam penataan tersebut ia tetap memberikan kebebasan tehadap pihak gereja, seperti yang dilakukan para pendahulunya dan mengakui agama lain sesuai dengan ajaran Islam yang menghormati keyakinan suatu agama. Sultan memberi kebebasan kepada penganut agama Kristen, misalnya untuk memilih dan menentukan agamanya. Penduduk Istanbul memang heterogen dalam bidang agama. Menurut sensus tahun 1477 adalah sebagai berikut: Muslim 8951 rumah tangga (60%), penganut Kristen Ortodoks (Yunani) 3151 rumah tangga (21,5%), Yahudi 1647 rumah tangga (11%), dan lain-lain 1054 rumah tangga (7.5%).

Kehidupan keagamaan merupakan bagian terpenting dalam system sosial dan politik Turki Usmani. Pihak penguasa sangat terikat dengan syariat islam. Ulama mempunyai kedudukan tinggi dalam kehidupan rnegara dan masyarakat usmani. Mufti sebagai pejabat tinggi agama, berwenang menyampaikan fatea resmi mengenai problematika keagamaan. Tanpa legitimasi mufti, keputusan hokum kerajaan tidak bisa berjalan. Ilmu pengetahuan seperti fiqh, tafsir, kalam dan lain-lain, tidak mengalami perkembangan. Kebanyakan penguasa usmani cenderung bersikap taqlid dan fanatic terhadap satu madzhab dan menentang madzhab-madzhab lainnya

1 H.Murodi. Sejarah Kebudayaan Islam,(Semarang: Karya Toha Putra 2010) hlm 154
Kerajaan Turki Usmani dengan ibu kota Istanbul itu menjadi sebuah Negara adi daya pada masa jayanya. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Sebagai sebuah kerajaan Islam terbesar pada saat itu, maka raja-rajanya juga memakai gelat khalifah. Istana khalifah terletak di kota ini. Sebagai ibu kota, disinilah tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Mereka banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan, kebudayaan Bizantium banyak mempengaruhi kerajaan Turki Usmani ini. Kemudian sejak mereka pertama kali masuk Islam, Arab sudah menjadi guru mereka dalam bidang agama, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan, dan hokum. Huruf Arab dijadikan huruf resmi kerajaan. Kekuasaan tertinggi memang berada di tangan sultan, tetapi roda pemerintahan dijalankan oleh Shadr Al-A’zham (perdana menteri) yang berkedudukan di ibu kota. Jabatan-jabatan penting, termasuk perdana menteri, seringkali justru diserahkan kepada orang-orang asal Eropa, dengan syarat menyatakan diri secara formal masuk Islam. Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid yang dibangun disana membuktikan kemajuannya. Gereja Aya Sophia, setelah penaklukan diubah menjadi sebuah masjid agung yang terpenting di Istanbul. Masjid-masjid yang penting lainnya adalah Masjid Agung Al-Muhhamadi, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari, Masjib Bayazid dengan gaya Persia, dan masjid Sulaiman Al-Qanuni. Di samping masjid, para sultan juga mendirikan istana-istana dan villa yang megah, sekolah, asrama, rumah sakit, panti asuhan, penginapan, pemandian umum, pusat-pusat tarekat, dan sebagainya.


2.5  Delhi (India)
Delhi adalah ibu kota kerajaan-kerajaaan Islam di India sejak tahun 608 H sampai kerajaan Mughal runtuh oleh Inggris tahun 1858. Delhi juga menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islam di India. Sebelum Islam masuk, Delhi berada di bawah kekuasaan keturunan Johan rajput. Tahun 589 H kota ini ditaklukkan oleh Qutb Al-Din Aybak dan tahun 602 H ini dijadikan ibu kota kerajaan tersendiri olehnya. Dinasti Mamluk ini berkuasa sampai tahun 689 H, kemudian diganti oleh dinasti Khalji (1296-1316 M), setelah itu dinasti Tughlug (1320-1413 M). dengan Raja Babur sebagai raja Mughal yang pertama, yang  merebut Delhi dari tangan dinasti Lodi.

Seni Arsitektur merupakan bidang yang mencapai kemajuan terbesar kerajaan Mughal. Sejumlah bangunan peninggalan Mughal yang sangat indah dan mengagumkan masih dapat kita saksikan hingga sekarang. Misalnya, Istana Fatpur Sikri di Sikri, Vila dan sejumlah masjid Indah yang dibangun, serta Taj Mahal di Agra yang dibangun Oleh Syeh Jehan, serta masjid Agung dan istana di Lahore

Sedangkan pada Dinasti Mamluk mendirikan sebuah menara setinggi 257 kaki (Qutb Manar) dan sebuah Masjid bernama “Qutb Al-Islam. Mamluk juga memperluas tembok kota Hindu (kil’a Ray Pithora). Dinasti Khalji memperluas benteng Lalkot yang lama dengan maksud mempertahankan kota dari serangan bangsa Mongol. Dinasti ini juga mendirikan sebuah istana megah tersendiri. Sementara itu, raja pertama dinasti Thuglug mendirikan Tughlughabad, sekitar 8 km di sebelah timur Kil’a Ray Pithora, yang kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan tahun 720 H. Muhammad ibn Tughlug juga melaksanakan sebuah proyek raksasa, yaitu mendirikan Adilabad yang kemudian dikenal dengan kota Jahanpanah. Hal yang sama dilakukan Fairuz Tughlugh dengan mendirikan kota Fairuzabad yang kemudian dikenal dengan Syahjahanabad. Setelah Delhi Delhi dihancurkan oleh tentara timur Lenk, kekuasaan raja-raja yang berkedudukan di Delhi merosot tajam. Delhi baru menjadi ibu kota kerajaan Mughal pada masa Humayun (1530-1556), seorang raja yang cinta ilmu. Dia wafat saat terjatuh di tangga perpustakaannya di Panah. Raja Mughal lainnya, Syah Jehan (1628-1658M) mendirikan kota Syahjahanabad. Delhi Islam yang dapat disaksikan sekarang adalah Delhi yang hanya dibangun oleh kerajaan Mughal.

2.6  Andalus (Spanyol)
Di Spanyol anyak kota-kota Islam yang Mashyur dan menjadi pusat peradaban Islam:Sevilla, Kordova, Granada, Murcia, dan Toledo. Yang terpenting diantaranya adalah Kordova dan Granada.
2 Ibid  hlm 147

a.      Cordova
Sebelum Spanyol ditaklukan oleh tentara Islam tahun 711 M, Kordova adalah ibu kota kerajaan Kristen Visigoth, sebelum dipindahkan ke Toledoi. Dibawah pemerintahan Visigoth, Kordova yang sebelumnya makmur menjadi mundur. Kemakmurannya bangkit kembali di masa kekuasaan Islam. Pada tahun 756 M, kota ini menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, setelah Bani Umayyah di Damaskus jatuh ke tangan Bani Abbas tahun 750 M.  Penguasa Bani Umayyah pertama Spanyol adalah Abn Al-Rahman Al-Dakhil. Kekuasaan bani Umayyah di Andalus ini berlangsung dari tahun 756 M-1031 M.
Sebagai ibu kota pemerintahan, Kordova di masa Bani umayah mengalami perkembangan pesat. Banyak bangunan baru yang didirikan, seperti istana dan masjid-masjid.Kota ini juga diperluas, membangun sebuah jembatan berarsitektur islam dalam gaya Romawi, dan lain-lain. Perkembangan kota ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Abd Al-Rahman Al-nashir di pertengahan abad ke10 M.Pada masa Islam, Kordova terkenal juga sebagai pusat kerajinan barang-barang dari perak, sulaman-sulaman, dari sutera dan kulit. Pada tahun 1236 M, Kordova direbut oleh tentara Kristen di bawah pimpinan Ferdinand III dari Castilla. Setelah itu, supremasi Islam di Spanyol mulai mengalami kemunduran. Pada masa pemerintahan Bani Ummayah di Spanyol, Kordova mnejadi pusat ilmu pengetahuan. Di kota ini berdiri Universitas Cordova, perpustakaan besar yang mempunyai koleksi kira-kira 400.000 judul buku. Hal tersebut tak terlepas dari Abd Al-rahman Al-Nashir dan anaknya Al-Al-HAkam. Pada masanyalah tercapai apa yang dinamakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan sastra di Spanyol Islam. Zaman emasnya kesusastraan dan Ilmu di Spanyol terjadi ketika daerah ini dibawah pemerintahan Hakam Al-Mustansir Billah yang meninggal tahun 976 M. Pada masa jayanya, di Kordova terdapat 491 masjid dan 900 pemandian umum. Karena air di Kota ini tak dapat diminum, penguasa Muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yang panjangnya 80 km

b.      Granada
Kota ini berada dibawah kekuasaan Islam hamper bersamaan dengan kota-kota lain di Spanyol yang ditaklukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad dan Musa ibn Nushair tahun 711 M. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, kota ini disebut Andalusia Atas. Pada masa itu, Granada mengalami perkembangan pesat.

3 Dr.Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta: Raja Grafindo Persada 2004) hlm 293
Setelah Bani Umayyah mengalami kemunduran, tahun 1031 M, dalam jangka 60 tahun, Granada diperintah oleh dinasti Zirids. Setelah itu, Granada jatuh kebawah pemerintahan Al-Mubarithun, sebuah dinasti barbar di Afrika Utara pada tahun 1090-111149 M.
Pada abad ke12, Granada menjadi Kota terbesar kelima di Spanyol. Sejak abad ke13, Granada diperintah oleh dinasti Nasrid selama lebih kurang 250 tahun. Pada masa itulah dibangun istana megah (Al-Hambra). Istana ini dibangun oleh arsitek-arsitek Muslim pada tahun 1238 M dan terus dikembangkan sampai tahun 1358 M. Istana ini terletak di sebelah Timur Al-Kajaba, sebuah benteng tentara Islam. Granada terkenal dengan tembok dan 20 menara mengitarinya. Pada masa pemerintahan Muhammad V (1354-1391 M), Granada mencapai puncak kejayaannya, baik dalam bidang arsitektur maupun dalam bidang politik. Pada tahun 1492, kota ini jatuh ke tangan penguasa Kristen, raja Ferdinand dan Issabela. Selanjutnay, tahun 1610 M orang-orang Islam diusir dari kota ini oleh penguasa Kristen.

2.7  Samarkand dan Bukhara (Transoxania)
Kota ini beberapa kali diduduki oleh Iskandar ketika ia dan pasukannya berperang melawan Spitamenes. Tapi menurut bangsa Arab, Iskandarlah yang mendirikan kota itu.Setelah tahun 323 M, kota ini menjadi bagian dari sebuah kekuasaan yang berpusat di Bactria. Setelah itu, disana berdiri kerajaan Graeco-Bactrion (Bactria Yunani) pada masa Anthiochus II Theos. Sejak itu, hubungan politik dan ekonomi antara Samarkand dengan Persia dan Cina terputus, meskipun dalam bidang budaya masih berlanjut. Dilihat dari bangunan-bangunan kuno, pengaruh Persia sudah lama tertanam disana. Pengaruh Cina juga besar. Sebelum Islam datang disana sudah terdapat tempat ibadah agama Budha. Usaha-usaha Islam dalam ekspansi ke negeri ini selalu gagal, kecuali setelah Qutaibah ibn Muslim ditunjuk sebagai gubernur Khurasan. Ketika itu Samrkand diperintah oleh Tharkhun. Pada tahun 91 H ia mengadakan perjanjian damai dengan Qutaibah dan berjanji untuk membayar Jizyah (pajak) kepada pemerintah Islam di Damaskus, dibawah dinasti Bani umayyah. Namun penduduk negeri itu marah kepada Tarkhun dan menurunkannya dari kekuasaannya. Posisinya diganti oleh Ikhsyiz Ghurik. Qutaibah berjasil memaksa Ikhsyiz untuk menerima perjanjian itu pada tahun 93 H setelah ia dan pasukannya mengepung kota dalam waktu yang cukup panjang. Sejak itu, Samarkand dan Bukhara menjadi batu loncatan untuk melancarkan ekspansi lebih luas di negeri Transoxiana.

Pada tahun 204 H, Al-Ma’mun , khalifah dari Bani Abbas di Baghdad menyerahkan semua urusan pemerintahan negeri Transoxiana, khususnya Samarkand dan Bukhara kepada keluarga Asad ibn Saman. Sejk itu, dua kota ini berada di bawah kekuasaan dinasti Samaniah. Samarkand menjadi daerah yang sangat makmur dan sejahtera. Ia menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan Islam. Penghasilan utama kota Samarkand adalah kertas Samarkand yang terkenal. Sedangkan kota Bukhara terkenal dengan perdagangan dan industri tenunnya. Di Samarkand terdapat makam terkenal, yaitu makam Qasim ibn Abbas (pembawa agama Islam ke negeri ini pada masa Khlaifah Usman bin Affan). Sedangkan di Bukhara terdapat makam Baha’ Al-Din Al-Naqsyabandi. Bukhara juga dikenal sebagai pusat ilmu-ilmu keagamaan Islam. Setelah dinasti Samaniah runtuh, Samrkand dan Bukhara jatuh ke tangan dinasti Seljuk Sanjar tahun 495 H. tapi pada tahun 536 H kota ini direbut oleh dinasti Khawarizmsyah. Pada tahun 606 H, dua kota ini dikepung oleh Jengis Khan, yaitu pada tahun 616 H, setahun kemudian, kota Samarkand, setelah sebagian penduduk dibunuh dan bangunan dihancurkan, penduduk yang lain diperkenankan tinggal di sana di bawah kekuasaan Mongol. Selama seratus lima puluh tahun berikutnya sejarah kota ini sangat menyedihkan.

Kebangkitan kembali terjadi mulai tahun 771 H, pada masa pemerintahan Timur Lenk, penguasa tertinggi di Transoxiana. Timur Lenk menjadikan Samarkand sebagai ibu kota pemerintahannya. Kota ini diperindah oleh Ulugh Bek (857 H), cucu Timur Lenk, dengan mendirikan sebuah istana yang sangat megah. Di pihak lain, Bukhara, secara politik, menjadi sebuah kota yang tak berarti. Tahun 906 H, dua kota ini jatuh ke tangan Syaibani, raja Uzbek. Setelah ia wafat, direbutoleh Babur, raja Mughal di India dan daerah Transoxiana kembali dikuasai oleh orang-orang Uzbekistan. Pada tahun 1917 M, Uni Soviet berdiri dan Uzbekistan yang didalamnya terdapat Samarkand dan Bukhara menjadi bagian dari Uni Soviet. Penduduknya kemudian menganut ideology Komunis. Sejak tahun 1992 M, Uzbekistan menjadi Negara muslim merdeka, karena Uni Soviet bubar dengan sendirinya
4 http://vilope.blogspot.com/2010/06/pusat-pusat-peradaban-islam.html

BAB III PENUTUP
3.1  Simpulan
Mengetahui betapa besar kontribusi Islam terhadap lahirnya peradaban Islam berskala dunia terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kemajuan yang dicapai Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam.

Kemudian Kita juga dapat menyimak, bahwa puncak pencapaian penguasaan sains dan teknologi pada zaman kejayaan umat Islam masa lalu terkait erat dengan tegaknya sistem kekhilafahan, dimana adanya sistem komando yang terintegrasi secara global yang peranan secara politik sejalan dengan peranan agama. Kita juga mendapatkan gambaran dalam sejarah bahwa sosok para pemimpin terdahulu yang shaleh selain sebagai seorang negarawan yang handal dan mumpuni, juga sebagai seorang ‘ulama yang takut pada Rabb-nya, mencintai ilmu serta mencintai rakyatnya. Pada aspek ini kita bisa melihat adanya integrasi tiga pilar utama dalam pembentukan peradaban Islam yaitu agama, politik dan ilmu pengetahuan terpadu dalam satu kendali sistem kekhilafahan dibawah pimpinan seorang khalifah. Oleh karena itu, umat Islam perlu kembali menggelorakan semangat keilmuan para ilmuwan muslim atas sumbangsihnya yang amat besar bagi peradaban umat manusia di dunia dalam menyongsong kembali kejayaan Islam dan umatnya.

3.2  Saran
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Yatim, Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Murodi, H. 2010. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang:Karya Toha Putra
http://vilope.blogspot.com/2010/06/pusat-pusat-peradaban-islam.html  Diakses pada tanggal 20 Oktober 2011

Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi Selama Isra Miraj

Admin Friday, November 11, 2016 Add Comment

Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi Selama Isra Miraj

1. Melihat Sosok Asli Malikat Jibril
Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit.Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidrat al Muntaha.

“Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha.Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya.Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An Najm : 13 – 18).
Dikatakan bahwa Muhammad telah melihat wujud asli dari Malaikat Jibril yang memiliki sayap sebanyak 600 sayap. “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (An-Najm 53:13)
image / islamidia.com
Asy-Syaibani berkata: Aku menanyai Zirr bin Hubaisy tentang firman Allah Azza wa Jalla, maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (an-Najm, 53: 9). Dia menjawab: "Telah mengabariku Ibnu Mas'ud bahwasanya Nabi telah melihat (bentuk asli) Jibril. Ia memiliki 600 sayap." (HRMuslim).
2. Sampai di Sidrat al Muntaha MenggunakanBuraq
Menurut berbagai riwayat, ketika itu Nabi menaiki Buraq.Ketika Nabi tiba di langit dunia, berkatalah Jibril kepada penjaga langit, “Bukalah.”Penjaga langit itu bertanya, “Siapakah ini?”Ia (Jibril) menjawab, “Ini Jibril.” Penjaga langit itu bertanya, “Apakah Anda bersama seseorang?”Ia menjawab, “Ya, aku bersama Muhammad saw.” Penjaga langit itu bertanya, “Apakah dia diutus?”Ia menjawab, “Ya, ketika penjaga langit itu membuka, kami menaiki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh.Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya.Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf.Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi saw bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnyaBayt al-Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Sidrat al Muntahā berasal dari kata sidrah dan muntaha.Sidrah adalah pohon bidara, sedangkan muntaha berarti tempat berkesudahan, sebagaimana kata ini dipakai dalam ayat berikut:
ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى )٤١ (وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢(
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (An-Najm, 53:41-42) 
Dengan demikian, secara bahasa Sidrat al Muntahā berarti pohon Bidara tempat berkesudahan.Disebut demikian karena tempat ini tidak bisa dilewati lebih jauh lagi oleh manusia dan merupakan tempat diputuskannya segala urusan yang naik dari dunia di bawahnya maupun segala perkara yang turun dari atasnya. Istilah ini disebutkan sekali dalam Al Qur’an, yaitu pada ayat:...(yaitu) di Sidratil Muntaha. (An-Najm, 53:14)
Sidrat al Muntaha  digambarkan sebagai pohon bidara yang sangat besar, tumbuh mulai langit ke-6 hingga langit ke-7. Dedaunannya sebesar telinga gajah dan buah-buahannya seperti bejana batu, sebagaiman Hadis:Dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sha'sha'ah, dari Nabi. Diapun menyebutkan hadits Mi'raj, dan di dalamnya: "Kemudian aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha". Lalu Nabi mengisahkan: "Bahwasanya daunnya seperti telinga gajah dan bahwa buahnya seperti bejana batu". Hadits telah dikeluarkan dalam ash Shahihain dari hadits Ibnu Abi Arubah.Hadits riwayat   Baihaqi.
Jika Allah memutuskan sesuatu, maka "bersemilah" Sidrat al Muntahā sehingga diliputi oleh sesuatu, yang menurut penafsiran Ibnu Mas'ud ra, adalah "permadani emas".Deskripsi tentang Sidrat al Muntahā dalam hadits-hadits tentang Isra Mi'raj tersebut menurut sebagian ulama hanyalah berupa gambaran sebatas yang dapat diungkapkan kata-kata.
3. Singgah di Baitul Ma’mur
Baitul ma’mur, tempat Allah SWT menurunkan Al Qur’an dengan sifat-Nya Al Aziz (keseluruhan secara lengkap, Allah sudah mengetahui segala kejadian) yang kemudian dilanjutkan sifat-Nya Ar Rahim, (melalui malaikat Jibril ke Rasulullah di bumi, dengan bertahap).Di sini Rasulullah diberikan 3 pilihan minuman yaitu susu, madu, dan khamr surga yang tidak memabukkan. Pilihan Rasulullah akan menjadi takdir bagi umat beliau. Beliau memilih susu, maka “Engkau memilih untukmu dan umatmu dalam keadaan fitrah”, yaitu umat Islam dapat kembali suci. Berbeda dengan umat terdahulu yang jika berdosa maka diberikan azab. 
Umat Islam dapat kembali suci di bulan Ramadhan, bulan pembakaran, yang dapat menggugurkan dosa, menjadi suci seperti baru dilahirkan.Pembakaran jiwa, agar menjadi lunak dan mudah dibentuk menjadi bentuk yang terbaik di sisi Allah, yaitu takwa. Doa minal aidin wal faizin, bukan dari rasulullah, bermakna “Semoga Allah menjadikan engkau kembali suci  dan menjadi pemenang”.
4. Melihat Allah
Untuk hal ini terdapat beda pendapat di kalangan ulama, apakah Nabi Muhammad SAW., pernah melihat Tuhannya? Jika pernah apakah beliau melihatNya dengan mata kepala atau mata hati?Masing-masing memiliki argumennya sendiri-sendiri. Di antara yang berpendapat bahwa beliau pernah melihatNya dengan mata hati antara lain Baihaqi, Al Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dan Syaikh al Albani berdasar riwayat Dari Abdullah bin Syaqiq, ia telah bersabda: Aku bertanya kepada Abu Dzar: "Seandainya aku melihat Rasulullah, pasti aku akan menanyainya." Lantas dia berkata: "Tentang sesuatu apa?" Aku akan menanyainya: "Apakah baginda melihat Tuhan baginda?" Abu Dzar berkata: "Aku telah menanyainya, kemudian beliau jawab: “Aku telah melihat cahaya”. (HR Muslim)
5. Menerima Perintah Shalat
Di Sidrat al Muntahā  ini Nabi MuhammadSAW.mendapatkan perintah salat 5 waktu. Perintah melaksanakan salat tersebut pada awalnya adalah 50 kali setiap harinya, akan tetapi karena pertimbangan dan saran Nabi Musa serta permohonan Nabi Muhammad SAW., sendiri, serta kasih dan sayang Allah, jumlahnya menjadi hanya 5 kali saja. Diantara hadits mengenai hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud ;
Dari Ibnu Abbas, ia telah berkata: "Nabi kalian diperintah lima puluh kali salat (sehari semalam), kemudian beliau meminta keringanan Tuhan kalian agar menjadikannya lima kali salat." (HR Ibnu Majjah)
Dari Abdullah bin Mas'ud, ia telah berkata: "Ketika Rasulullah diisra’kan, beliau berakhir di Sidratul Muntaha (yang bermula) di langit keenam. Ke sanalah berakhir apa-apa yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan ke sana berakhir apa-apa yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana."
Ia berkata: "Kemudian Rasulullah diberi tiga hal: Diberi salat lima waktu dan diberi penutup Surah al-Baqarah serta diampuni dosa-dosa besar bagi siapapun dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun". (HR Muslim).

Proses Terjadinya Isra’ Mi’raj

Admin Thursday, November 10, 2016 Add Comment
Isra’ Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah  hijrah ke Madinah. Menurut Abu A’la  Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut   Al Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, sebagian ulama menyebut terjadi pada tahun 12 kenabian.
Menurut banyak keterangan, diriwayatkan bahwa perjalanan Isra’ dimulai ketika suatu malam Nabi sedang tidur di Hijr (dekat ka’bah). Malaikat jibril membangunkan Nabi sampai tiga kali, ketika Nabi terbangun dari tidurnya melihat ada seekor hewan yang putih antara bagal dan himar, pada kedua pahanya ada dua buah sayap yang menambah cepat jalan kedua kakinya.

Perjalanan Isra’ Nabi Muhammad SAW dimulai dengan pesucian hati.Disebutkan dalam sebuah hadis sebelum dibawa Malaikat Jibril, Nabi dibaringkan lalu dibelah dadanya dan dibersihkan hatinya dengan air zam zam.Apakah hati Rosululloh kotor?Pernahkah Rosululloh berbuat dosa?Apakah Rosululloh punya penyakit dendam, iri, dengki atau berbagai penyakit hati lainnya?Dapat kita fahami dan kita ambil pengertian bahwa dicuci hati Nabi bukan dari kotoran dosa atau ma’siat.Yang dimaksud dicuci disini adalah dikikis habis dari sifat-sifat yang tercela yang ada pada hati manusia biasa.Karena sifat-sifat itu adalah penghalang dalam menghadapi masa-masa perjuangan seorang pemimpin apalagi seorang Rasul.

Perjalanan Isra’ Nabi Muhammad SAW dimulai dengan sholat sebagai rasa syukur di masjidil haram, dilanjutkan ke Thaibah (yatsrib/Madinah, daerah kemudian Nabi hijrah), Madyan (pohon Nabi Musa), Gunung tursina ( tempat Nabi Musa menerima wahyu langsung dari Allah) dan Baitullaham (betlehem/tempat kelahiran Nabi Isa as). 

Pada setiap tempat itu Nabi SAW melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Pada perjalanan ini, Nabi juga diperlihatkan gambaran-gambaran tentang umatnya pada masa yang akan datang, kemudian perjalanan diakhiri dengan melaksanakan sholat di Baitul Muqoddas (masjidil Aqsho).

Perjalanan Isra’ Nabi SAW diakhiri dengan sholat berjama’ah dengan ruh para Nabi (kecuali Isa bin Maryam as) di Baitulmuqoddas (Masjidil Aqsha). Setelah sholat berjama’ah dilanjutkan dengan pidato sambutan dari para Nabi secara bergantian dan Nabi Muhammad SAW mendapatkan giliran terakhir.Setelah Nabi selesai mengungkapkan syukur kepada Allah, datanglah bidadari dengan membawa baki berisi dua gelas minuman. Segelas berisi susu dan segelas lagi berisi arak. Nabi memilih susu, kemudian Nabi meminumnya. Ketika itu Malaikat Jibril berkata :”tepat sekali pilihanmu ya Muhammad, minuman itu cocok sekali bagi fitrah manusia, sejak ia lahir minum susu ibu, murni, asli dan bergizi. Seandainya engkau memilih arak maka umatmu banyak yang mendurhakaimu dan sedikit sekali yang mengikutimu”.

Setelah Nabi-nabi mengucapkan pidato sambutan, kemudian mereka meninggalkan Masjidil Aqsha.Nabi Muhammad bersama Jibril dan Mikail keluar meninggalkan masjid, di halaman masjid ada sebuah batu besar, diatas batu itulah diletakkan sebuah alat semisal tangga untuk naik ke langit.Tangga itu mempunyai anak tangga sepuluh buah.Ujung bawah tangga itu terletak diatas batu shakhroh atau batu besar. Ketika diinjak anak tangga yang pertama maka akan langsung mencapai langit pertama begitu seterusnya.

Dengan mengucap basmallah Nabi menaiki tangga itu bersama jibril maka dengan seketika itu telah berada dilangit pertama dimuka pintu gerbang langit pertama “Babul Hafzhah”, disitu berdiri malaikat pengawal langit pertama yang bernama Ismail yang mempunyai anak buah 70.000 Malaikat dan tiap-tiap Malaikat memiliki 70.000 Malaikat. Dilangit pertama Nabi berjumpa dengan dengan Nabi Idris as, langit kedua dengan Nabi Isa as dan Nabi Yahya as,  langit ketiga dengan Nabi Yusuf as, langit keempat dengan Nabi Idris as, langit kelima dengan Nabi Harun as, langit ke enam dengan Nabi Musa as dan langit ketujuh dengan Nabi Ibrahim as.

Kemudian dari langit ke tujuh Nabi di ajak ke Sidratul Muntaha.karena sampai batas inilah segala amal anak Adam di peroleh malaikat dari bumi.Sidratul muntaha adalah pohon bidara yang tidak berduri, memiliki daun seperti telinga gajah yang berbuah seperti bejana, sebuah pohon raksasa yang tumbuh dilangit ke tujuh, hanya Allah yang mengetahui besarnya pohon itu.

Dengan Isro’ dan Mi’rojnya Nabi Muhammad saw diberi kesempatan melihat keadaan surga dari dekat agar dapat di ceritakan kepada Umatnya sehingga mereka tambah beriman dan tambah keyakinannya. Kemudian Nabi diajak melihat keadaan neraka, menurut Nabi neraka adalah tempat penyiksaan.Di dalamnya ada gunung-gunung, ada sungai dan telaga dan jurang-jurang. Air sungai neraka selalu panas dan mendidih, airnya ada dari cairan timah panas, cairan tembaga merah membara, air nanah yang sangat busuk dan bau anyir  darah.

Disidrotul Muntaha terjadi dialog antara Nabi dengan Alloh, diantara dialognya adalah tentang sholat lima waktu yang beliau tawar sampai sembilan kali mulai dari 50 rokaat menjadi 5 rokaat. Allah bersabda: “Demikianlah ketetapan yang telah aku tetapkan. Maka barang siapa yang menunaikannya dengan percaya dan mengharap keridhaan Allah,maka  yang lima kali itu pahalanya seperti sholat lima puluh kali”.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW. dari Makkah ke Bayt Al Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al Qur’an disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa 'ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.

Peristiwa Isra’ Mi’raj bermula ketika Malaikat Jibril AS mendapat perintah dari Allah untuk menjemput Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Allah SWT.Jibril membangunkan Rasul dan membimbingnya keluar Masjidil Haram ternyata diluar masjid telah menunggu kendaraan bernama Buraq sebuah kendaraan yang kecepatannya lebih cepat dari kecepatan rambat cahaya dan setiap langkahnya sejauh mata memandang.

Sayyid Qutub dalam kitabnya yang terkenal, Fi Zhilal Al Qur’an menyatakan, ‘‘Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa adalah perjalanan yang murni pilihan daripada Zat Yang Maha Kasih dan Maha Lembut, yang menghubungkan akar kesejarahan agama-agama besar dari zaman Nabi Ibrahim dan Ismail hingga Nabi Muhammad SAW”.

Menurut Tafsir al-Qurtuby, lebih kurang ada 20 sahabat yang meriwayatkan tentang isra’, semua penulis kitab hadits mencantumkan tentang hadits isra’.Menurut dia, kebanyakan haditsnya mutawatir dan shahih, diantaranya yang diriwayatkan Anas Bin Malik.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم قَالَ أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ فَرَكِبْتُهُ فَسَارَ بِي حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَرَبَطْتُ الدَّابَّةَ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ فِيهَا الأَنْبِيَاءُ

Dari Anas bin Mâlik r.a, sesungguhnya Rasûlullâh saw  bersabda: "Aku diberi buraq; adalah seekor hewan yang berbulu putih; tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagal; bila ia terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanya. Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Baitul Maqdis. Kemudian aku tambatkan ia pada tempat penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi.

ثُمَّ دَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عليه السلام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ قَالَ جِبْرِيلُ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ فَقِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ . ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ فَقِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِابْنَيْ الْخَالَةِ يَحْيَى وَعِيسَى فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ

Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?'Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.'Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa.Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku.

 ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ  فَقِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ عليه السلام وَإِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ

Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?'Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu denganNabi Yusuf; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku.

 ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ فَقِيلَ قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ الْبَابُ فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيسَ فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ{ وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا }

Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?'Malaikat Jibril menjawab.'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?'Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu denganNabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Maka Allâh berfirman : maka Allâh telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ فَقِيلَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ

Kemudian malaikat Jibril membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.'Dan ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?'Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami; tiba-tiba aku bertemu denganNabi Harun, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku.

 ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ فَقِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى عليه السلام فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ

Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunnya, ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?'Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, laluNabi Musa menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku.

 ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ  وَإِذَا هُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لا يَعُودُونَ إِلَيْهِ

Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya. Ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?'Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.'Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?'Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.'Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim. Kedapatan ia bersandar pada Baitul Makmur. Ternyata Baitul Makmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya.

 ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلالِ فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَهَا تَغَيَّرَتْ فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِفَهَا مِنْ حُسْنِهَا قَالَ فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيَّ مَا أَوْحَى وَفَرَضَ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسِينَ صَلاةً

Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar.Ketika semuanya tertutup oleh nur Allâh, semuanya menjadi berubah.Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allâh pun yang dapat menggambarkan keindahannya. Rasûlullâhsaw  melanjutkan kisahnya, maka Allâh mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah (mewajibkan) kepadaku lima puluh kali shalât untuk setiap hari.

 فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ قَالَ قُلْتُ خَمْسِينَ صَلاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لا تُطِيقُ ذَلِكَ وَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Setelah itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa (langit yang keenam).Maka Nabi Musa bertanya kepadaku, 'Apakah yang diwajibkan oleh Rabbmu atas umatmu?'Aku menjawab, 'Lima puluh kali shalât untuk setiap harinya.' Nabi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melaksanakannya; aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji mereka.'

 وَخَبَرْتُهُمْ قَالَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فَقُلْتُ أَيْ رَبِّ خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مَا فَعَلْتَ قُلْتُ حَطَّ عَنِّي خَمْسًا قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ

Rasûlullâh saw  melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku memohon, 'Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.' Maka Allâh meringankan lima waktu kepadaku. Lalu aku kembali menemui Nabi Musa.Dan Nabi Musa bertanya, 'Apakah yang telah kamu lakukan?'Aku menjawab, 'Allâh telah meringankan lima waktu kepadaku.'Maka Nabi Musa bertanya, 'Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan hal tersebut, maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah keringanan buat umatmu kepada-Nya.'

 قَالَ فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي وَبَيْنَ مُوسَى وَيَحُطُّ عَنِّي خَمْسًا خَمْسًا حَتَّى قَالَ يَا مُحَمَّدُ هِيَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ فَتِلْكَ خَمْسُونَ صَلَاةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ عَشْرًا وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Rasûlullâh melanjutkan kisahnya, maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa, dan Dia meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu. Hingga akhirnya Allâh berfirman, 'Hai Muhammad, shalât lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap shalât berpahala sepuluh shalât, maka itulah lima puluh kali shalât. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan. Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginya pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya. Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginnya dosa satu keburukan.'

 فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لأُمَّتِكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لا تُطِيقُ ذَاكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَقَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى لَقَدْ اسْتَحَيْتُ. رواه الشيخان واللفظ لمسلم وروى الحاكم في المستدرك عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " رَأَيْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ "

Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.' Maka aku menjawab, 'Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.'"(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadits ini berdasarkan Imam Muslim).

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, Az-Zahri dan Urwah telah meriwayatkan, bahwa pada pagi hari  setelah Rasululloh SAW di Isra’ Mi’rajkan, ketika peristiwa itu diceritakan kepada orang-orang Quraisy, mereka banyak yang tidak mempercayainya, bahkan mereka mengadakan reaksi membuat fitnah yang keras. 

Dalam hal ini, mereka pergi menuju Abu Bakar As-sidik untuk memberitahu tentang apa yang dikisahkan oleh Muhammad dengan berkata : “Wahai Abu Bakar, teman anda Muhammad sudah gila, ia mengaku-aku telah pergi ke Baitul Muqaddas kemudian naik kelangit sampai ke Sidratul Muntaha dan kembali lagi sebelum waktu pagi, adakah anda mempercayainya?” Abu Bakar menjawab : “Kalau memang Muhammad berkata begitu, maka aku mempercayainya”. “Engkau percaya dengan dia?, tanya mereka. Abu Bakar dengan tegas menjawab : “Ya aku percaya, dan itu pasti benar”. Maka dari peristiwa inilah Abu Bakar disebut dengan sebutan “Ash Shiddiq”.

Tanggapa masyarakat tentang Isra’ Mi’raj beragam. Dalam mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj terdapat tiga kelompok yaitu ;

1. Kelompok yang membenarkan sepenuhnya peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu sahabat-sahabat Nabi yang memang mendapat petunjuk dari Allah swt, sehingga prasangka baik dari hati mereka lebih kuat daripada kekuatan fikir yang cenderung ragu-ragu.

2. Kelompok yang ragu terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj. Mereka berasal dari kalangan sahabat atau pengikut Islam yang setengah terisi keyakinannya, sehingga sikap ragu-ragu ini melahirkan kemurtadan

3. Kelompok yang terang-terangan menolak peistiwa Isra’ Mi’raj yaitu orang-orang yang pada dasarnya sudah tidak percaya pada ajaran Islam.