Thursday, December 16, 2010

Agama dan Kosmologi


[Pandangan Islam dan Kristen tentang Penciptaan Alam]

Prolog
Agama merupakan sistem nilai yang dapat mempengaruhi prilaku seseorang, baik dalam kehidupan sosisal, ekonomi, maupun politik. Agama dalam konteks ini, ditempatkan sebagai satu-satunya referensi bagi para pemeluknya dalam mengarahkan sikap dan menentukan orientasi pilihan tindakan. Artinya, secara ideal agama dijadikan semacam acuan bagi jati diri yang dapat memberi makna bagi corak interaksi sosial masyarakat.[1]
Sedangkan terma kosmologi adalah berasal dari bahasa Yunani kosmos (dunia, alam semesta) dan logos (ilmu tentang, alasan pokok bagi, suatu pertimbangan). Dengan pengertian bahwa pada hakikatnya kosmologi adalah ilmu tentang alam semesta sebagai suatu sistim yang rasional dan teratur.[2]
Dalam kenyataan empiris terdapat dua agama (Islam dan Kristen) yang begitu dekat hubungannya, karena berakar dari sumber yang sama, yaitu rumpun iman Ibrahimik, dimana keduanya mengimanai Ibrahim sebagai bapa leluhur iman mereka, dan adam sebagai asal-usul umat manusia. Ia adalah termasuk sebagai dua agama yang mempunyai gaung cukup luas di muka bumi dengan pengikut cukup menakjubkan. Berdasarkan hal di atas tentunya wajar apabila kemudian ditemukan adanya kemiripian dalam sebagian ajarannya, termasuk kisah tentang konsep penciptaan alam yang diceritakan dalam kitab suci masing-masing, walaupun secara kodrati setiap agama cenderung menegaskan klaim kebenaran teologis  yang dimilikinya.
Dalam hal ini penulis tidak akan membahas klaim kebenaran tentang penciptaan alam yang berpihak pada satu agama dan menyudutkan pandangan agam lain, akan tetapi penulis mencoba untuk menganalisa tentang konsep penciptaan alam (makrokosmos) melalui pendekatan dialogis antara kedua agama tersebut, dengan tujuan mendapatkan informasi informasi utuh tentang pandangan masing-masing agama terhadap konsep penciptaan alam, baik mengenai persamaan ataupun perbedaannya.
Dialog antara agama disini jangan di pahami sebagai tindakan yang riskan. Riskan karena dalam mengkaji permasalahan keagamaan senantiasa akan berhadapan dengan prinsip-prinsip teologi yang dogmatis. Akan tetapi dialog di sini tidak lain sebagai ajang komunikasi untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya dan sama sekali tidak mengurangi loyalitas ataupun komitmen seseorang terhadap kebenaran keyakinan agama yang sudah ia pegang, akan tetapi lebih memperkaya dan memperkuat keyakinan itu.[3]

Pandangan Islam Tentang Alam Semesta
A.    Hakikat Alam Semesta.
            Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, timbul banyak pertanyaan  mengenai  terjadinya  alam  semesta. Apakah alam semesta itu tercipta secara kebetulan ataukah sepenuhnya bermuara kepada kehendak Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya?. Pertanyaan ini secara tegas dijawab oleh al-Qur’an bahwa semua penciptaan adalah bagian dari Allah dan bukan merupakan hal yang bisa eksis dengan sendirinya. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’an diantaranya adalah:
 
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang yang rugi”. (QS. Az-Zumar, 39:62-63).
“Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (QS. Al-Baqarah, 2:284).
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”. (QS. Yunus, 10:5).
“Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Hadid, 57:2).

Dalam konsep filsafat Islam, terbentuknya jagad raya bukanlah satu kebetulan yang menafikan adanya kekuasaan maha agung dibalik penciptaannya, akan tetapi ia merupakan bentuk eksistensi Tuhan dalam kehidupan ini, yang mencerminkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Oleh karenanya seluruh alam semesta yang tak terhingga bilangannya adalah simbol eksistensi kekuatan maha gaib yang mendalangi semua “permainan”[4] ini.
Jika direnungkan secara lebih mendalam tentang alam semesta yang sebab wujudnya dipenuhi dengan nur Ilahi, maka sesungguhnya dilihat dari eksistensinya, ada tingkatan tingkatan wujud yang bersifat struktural dan hierarkis, yaitu wujud tertinggi adalah eksistensi diri Tuhan sendiri yang menjadi awal dan akhir segala yang ada, kemudian alam semesta, alam besar, alam kecil, alam budaya besar, dan yang terakhir adalah alam budaya kecil. Untuk lebih jelasnya susunan hierarkis itu dapat digambarkan sebgai berikut:
1
Tuhan
2
Eksistensi Tuhan, Pencipta pertama: Alam semesta
3
Alam besar: Kumpulan Jenis: Air, udara, bumi, langit, Manusia, binatang, tumbuhan
4
Alam kecil: Satuan Jenis: si Fulan, Udara Panas, Bumi Tandus: satu-satunya
5
Eksistensi Manusia, Pencipta Kedua: Alam Kreatif Spiritualitas Nafs
6
Alam Budaya Besar: Kumpulan Jenis Kebudayaan: Ilmu, Kesenian, Teknologi
7
Alam Budaya Kecil: Matematika, Wayang Kulit, Komputer: satu-satunya.[5]

Proses rangkaian penciptaan secara hierarkis dan evolutif diatas telah memberikan gambaran pemikiran yang menyadarkan kita bahwa sesungguhnya dibalik terciptanya sesuatu, tentunya ada pencipta yang menduduki posisi tertinggi dan menjadi sumber hidup, yaitu Allah s.w.t. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an bahwa Tuahan-lah yang maha tertinggi “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi. Yang menciptakan lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya). (QS. Al-A’la, 87:1-2).
Sedangkan bentuk terendah adalah satuan alam kecil yang bersifat keduniaan, yaitu produk budaya yang sifatnya jangka pendek, berubah, sangat terbatas, bahkan sering kali menyesatkan, dan pada umumnya berkaitan dengan alam budaya besar dan alam budaya kecil, seperti ladang pertanian atau agrobisnis, kekayaan, perhiasan dan bentuk-bentuk kesenangan semu lainnya.[6]

  1. Konsep Penciptaan Alam Semesta dalam Al-Qur’an
Masalah penciptaan merupakan salah satu pembahasan yang banyak dibicarakan dalam kaitannya dengan teologi Islam, terutama ketika seseorang membahas tentang tanda-tanda kebesaran Allah, maka sudah pasti salah satu dasarnya adalah adanya penciptaan alam semesta. Namun ketika harus menyelidiki secara detail bagaimana konsepi Islam tentang penciptaan alam semesta ini melalui pemahaman harfiah terhadap kitab suci, para ilmuwan Islam tidak menemukan kata sepakat. Hal itu wajar, karena sesungguhnya daya nalar manusia dan perangkat pengetahuan dalam proses penyelidikan tentang konsep penciptaan alam semesta ini sangat terbatas.
Di dalam al-Qur’an, tahapan-tahapan penciptaan tidak disebutkan secara terperinci, akan tetapi secara umum tahapan-tahapan tersebut digambarkan dalam al-Qur’an:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya: Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin0Nya. Itulah Allah, tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Yunus, 10:3).

Dari ayat di atas di jelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam masa, sedangkan kata-kata -mengatur segala urusan- diatas merupakan pemberitahuan yang tegas bahwa Allah dengan hukm-hukum maha-Nya memang terlepas dari alam raya wujud. Artinya hukum-hukum itu sudah ada di alaam terpisah, yang penerapannya memerlukan hadirnya perwujudan alam raya.[7]
Dalam ayat lain diperjelas bahwa sesungguhnya yang diciptakan dalam enam masa itu tidak hanya langit dan bumi, melainkan juga termasuk segala hal yang ada diantara keduanya
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ.
Artinya: Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Bagimu tidak ada seorangpun penolong maupun pemberi syafa’at selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah, 32:4).
Jika langit dan bumi serta isinya diciptakan Tuhan dalam waktu enam hari, maka secara rinci masing-masing langit dan bumi diciptakan dalam dua hari.
قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Artinya: katakanlah, “Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam” (QS. Fussilat, 41:9).

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Artinya: lalu Dia jadikan tujuh langit dalam dua hari dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Fussilat, 41:12).

Sepintas terbersit pertanyaan dalam benak kita, apakah hari yang dimaksudkan oleh al-Qur’an sama dengan hari menurut standar perhintungan manusia?. Agar lebih jelas dalam hal ini kami akan membahasnya pada bab tersendiri.
Begitulah gambaran umum tentang tahapan penciptaan yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi serta isinya dalam jangka waktu enam hari. Dan untuk penciptaan langit (yang berjumlah tujuh tingkat) serta bumi tersebut oleh Allah diciptakan dalam masa dua hari.
Akan lebih menarik apabila kita mencoba untuk membandingkan konsep penciptaan alam raya dalam al-Qur’an dengan teori “Big Bang”[8] yang dikemukakan oleh para ahli kosmologi pada abad ini. Terjadinya alam raya difirmankan dalam al-Qur’an:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya: Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bwahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman? (QS. Al-Anbiya’, 21:30).
Terjemahan ayat di atas mengandung pemilihan kata yang sangat penting dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Kata ratk diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" yang berarti "bercampur, bersatu" dalam kamus bahasa Arab. Kata itu digunakan untuk merujuk dua zat berbeda yang menjadi satu. Frasa "Kami pisahkan" diterjemahkan dari kata kerja bahasa Arab, fatk yang mengandung makna bahwa sesuatu terjadi dengan memisahkan atau menghancurkan struktur ratk. Mari kita tinjau lagi ayat tersebut dengan pengetahuan ini di benak kita. Dalam ayat itu, langit dan bumi pada mulanya berstatus ratk. Mereka dipisahkan (fatk) dengan satu muncul dari yang lainnya. Menariknya, para ahli kosmologi berbicara tentang "telur kosmik" yang mengandung semua materi di alam semesta sebelum dentuman besar. Dengan kata lain, semua langit dan bumi terkandung dalam telur ini dalam kondisi ratk. Telur kosmik ini meledak dengan dahsyat menyebabkan materinya menjadi fatk dan dalam proses itu terciptalah struktur keseluruhan alam semesta.[9]
Ayat yang dikutip di atas menurut para ahli kosmologi telah mengingatkan akan proses terciptanya alam raya ini melalui teori ledakan maha dahsyat (big bang). Dimana permulaan segalanya adalah kabut zat yang memadat dan kemudian meledak menjadi banyak sekali galaksi yang kemudian mengembang saling menjauhi dengan kecepatan maha tinggi.[10]
Kita tahu bahwa setelah terjadinya ledakan maha dahsyat itu menurut rekaan zat-zat mula-mula terpecah-pecah menjadi zarah yang paling sederhana, yaitu hidrogen, salah satu bahan baku pembentuk air. Lama-kelamaan dari hiderogen ini melalui perpaduan terbentuk atom-atom lain, di antaranya juga oksigen yang kemudian dengan hidrogen membentuk air, suatu zat cair dengan sifat-sifat fisik yang sangat mengagumkan, yaitu kemampuanya melarutkan garam-garam dan zat-zat kimia lain yang diperlukan oleh kehidupan.[11]
Dari perpaduan teori kosmolog dengan ayat-ayat al-Qur’an tentang asal-mula terciptanya alam raya ternyata untuk sementara ini di temukan adanya fakta yang sesuai dengan isyarat al-Qur’an. Namun perlu kita sadari bahwa sesungguhnya al-Qur’an adalah sebuah buku petunjuk kehidupan yang terutama berbicara tentang moralitas, bukan buku teks ilmu yang berbicara tentang realitas, maka apabila suatu saat terdapat teori atau pernyataan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan realitas empirik bertentangan dengan konsep al-Qur’an, maka kita tidak boleh melayangkan tuduhan negatif terhadap al-Qur’an. Hal ini karena kitab suci bersifat mutlak dalam dirinya dalam pengertian tidak dapat di tambah dan di kurangi, proses turunnyapun sudah selesai yang dijamin kebenarannya isinya. Oleh karena itu yang patut kita lakukan ketika ada sebuah teori yang ternyata tidak sesuai dengan kitab suci, adalah mengkaji ulang ilmu pengetahuan yang kita tekuni tersebut, karena memang adakalanya teori kita yang salah, atau bisa jadi kita salah dalam menginterpretasikan kitab suci.

Pandangan Kristen Tentang Alam Semesta
Dalam bab ini akan di bahas mengenai penciptaan alam (makro kosmos) menurut konsep kitab suci kristen (bible), yang akan kita temukan dalam kitab kejadian fasal 1 dan 2, sekalipun dalam fasal dan ayat lain terdapat pula pmbahasan serupa tentang penciptaan alam sesesta, akan tetapi tidak selengkap pada kitab kejadian fasal 1 dan 2. akan tetapi sebelum kita menuju kepada pembahasan inti tentang penciptaan alam dalam kitab kejadian, terlebih dahulu kita membahas tentang latar belakang munculnya kitab Kejadian bab 1-11. hal ini penulis upayakan demi mempermudah pemahaman kita tentang konsep kejadian alam menurut pandangan Bible.

A.    Latar Belakang Kitab Kejadian Bab 1-11
Kitab kejadian merupakan salah satu dari lima kitab dalam Taurat. Kitab ini biasanya ditempatkan pada urutan pertama dari seluruh rangkaian kitab. Kitab kejadian itu sendiri terdiri atas dua bagian utama, yaitu bab 1 sampai dengan 11 serta bab 12 sampai dengan 50. bagian pertama (bab 1-11), memuat kisah mengenai sejarah awal mula, atau sejarah penciptaan. Sementara itu bagian kedua (bab 12-50), menceritakan tentang sejarah bangsa Israel, mulai dari Abraham sampai meninggalnya Yusuf di Mesir.[12]
Kisah-kisah mengenai penciptaan yang termuat dalam kitab kejadian 1-11 ditulis pada jaman kerajaan salomon sekitar abad 6 atau 7 SM. Penulisan kisah-kisah tentang penciptaan itu dilatarbelakangi oleh kontak bangsa Israel dengan kebudayaan asing dari lingkungan Kanaan. Pada waktu itu di lingkungan bangsa-bangsa asing yang ada di Kanaan telah hidup dan berkembang mitos-mitos tentang penciptaan, seperti kisah Enuma Elish dan Gilgamesh. Karena pengaruh mitos-mitos itulah maka bangsa Israel merasa terdorong dan tertantang untuk ikut merumuskan imannya mengenai penciptaan.
            Refleksi iman bangsa Israel mengenai penciptaan bertolak dari karya penyelamatan Allah, kususnya melalui pembebasan dari perbudakan Mesir. Melalui karya penyelamatan yang mereka alami dari Allah itu, bangsa Israel sampai kepada kesimpulan bahwa Allah tentunya sudah menyertai mereka sejak awal mula. Dengan demikian iman bangsa Israel akan Allah pencipta bertolak dari iman akan Allah sebagai penyelamat. Dengan demikian kisa-kisah tentang penciptaan yang ada di dalam Kitab Kejadian 1-11 itu tidak hanya sekedar cerita-cerita mitologis, akan tetapi mengandung makna teologis yang dalam.[13]

B.     Penciptaan Alam Menurut Bible
Dalam kitab suci Kristen terdapat kisah-kisah tentang penciptaan alam semesta, yang menurut tradis p (para imam) adalah merupakan suatu madah pujian besar untuk meluhurkan Allah dan karya-Nya yang mengagumkan. Tradisi p ini mempunyai minat terhadap seluruh kosmos dan berusaha untuk menggambarkan bagaimana kosmos itu di bangun lapisan demi lapisan dengan manusia sebagai puncaknya.[14]
Tentang bagaimana tahapan-tahapan proses penciptaan alam selama enam hari secara rinci telah digambarkan dalam kitab Kejadian sebagai berikut:
Hari pertama: Kejadian fasal 1 ayat 1 dan 2 menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah pada awal mula menciptakan langit dan bumi keadaannya masih kacau balau. Yaitu, bumi dan langit pada waktu itu tidak mempunyai berbentuk bulat seperti sekarang, kosong tanpa ada penghuni, serta tidak ada cahaya sedikitpun yang meneranginya. Sebagaimana di ungkapkan dalam Bible:
1pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.[15]
Sebagian orang beranggapan bahwa kalimat-kalimat ini sebenarnya mengatakan, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Dan bumi menjadi tanpa bentuk dan kosong." Apa yang tersirat dalam pendekatan ini ialah, bahwa bentuk kehidupan eksis atau ada di atas dunia ini jutaan tahun sebelum umat manusia muncul. Dikatakan pula bahwa dua ayat yang pertama buku Kejadian menggambarkan suatu "penciptaan rangkap" (Kadang-kadang ini disebut sebagai teori "penghancuran dan pemulihan"). Para pendukung interpretasi ini memperdebatkan bahwa ayat 1 sebenarnya menerangkan penciptaan sebelumnya (lebih dahulu) kehidupan di atas dunia ini, jutaan tahun sebelum pekan penciptaan dinyatakan kemudian dalam pasal 1, dan bahwa ayat 2 menerangkan kebinasaan kehidupan yang sebelumnya (itu "menjadi" tanpa bentuk dan kosong). Orang-orang.Kristen ini berspekulasi bahwa Satan adalah penguasa penciptaan pertama ini, tetapi oleh karena pemberontakannya, bumi ini "menjadi" tanpa bentuk dan kosong. Menurut dugaan ayat 3 mulainya penciptaan kedua dan bumi kita yang sekarang.
Tetapi, ada banyak masalah dengan teori ini, tidak kurang dari menggantikan kata "belum" dengan "menjadi." Para sarjana lbrani sepakat bahwa ini bukanlah terjemahan yang sah dan absah, sebab bertentangan dengan hukum dasar (fundamental) tata bahasa lbrani. Terjemahan yang terbaik tetap "bumi belum berbentuk dan kosong."[16]
Lalu apakah yang dimaksud dengan roh yang melayang-layang di atas permukaan air di atas? Dalam hal ini para ahli tafsir Bible mempunyai banyak pandangan dalam menafsirkan ayat tersebut. Maurice Bucaile menyebutkan bahwa dengan adanya air pada periode tersebut hanyalah merupakan alegori (kiasan) belaka, sebagai terjemahan suatu mitos. Akan tetapi boleh jadi ungkapan tersebut juga bisa di artikan sebagai sebuah persiapan untuk penciptaan yang akan dilakukan oleh Allah.[17]
Kemudian lebih lanjut menjelaskan tentang karya penciptaan Allah berupa penciptaan terang yang muncul karena perintah Allah sebagaimana diungkapkan dalam Kejadian ayat 3-5 sebagai berikut:
 3berfirman Allah: “ Jadilah terang”  lalu terang itu jadi. 4Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 5Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.[18]
Namun apabila kita teliti lebih jauh, terang di sini bukanlah disebabkan karena adanya sinar matahari ataupun galaksi-galaksi yang lain karena matahari, bulan, serta galaksi-galaksi yang lain belum diciptakan pada hari ini. Akan tetapi sinar yang dimaksud disini tidak lain adalah pancaran sinar yang bersumber dari Dzat Tuhan sebagaimana di terangkan dalamm Perjanjian baru “ Sebab Allah yang telah berfirman: dari dalam gelap akan terbit terang!”.[19]
Hari kedua: Pada hari ini Allah menciptakan cakrawala yang berada diantara air yang di atas dan air yang di bawah. Dan pada akhirnya cakrawala ini dinamakan langit. Pada hari kedua ini Allah sudah mulai menentukan waktu pagi dan petang walaupun pada hakekatnya matahari belum juga tercipta pada hari kedua ini. Sebagaimana termaktub dalam Kejadian:
6Berfirman Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” 7Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 8Lalu Allah menemui cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.[20]
Hari ketiga: Pada hari ini Allah mulai mengumpulkan air kedalam satu tempat agar bisa dibedakan mana tempat yang kering dan mana tempat yang basah. Lalu tempat-tempat yang kering itu dinamakan bumi dan tempat yang basah itu dinamakan laut. Pada hari ini juga Tuhan menciptakan isi bumi, namun hanya terbatas pada penciptaan tumbuh-tumbuhan.
9Berfirman Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. 10lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dimanai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 11Berfirman Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. 12Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semua itu baik. 13Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.[21]
Hari keempat: Hari ini Tuhan menciptakan benda-benda penerang untuk menyinari bumi pada waktu siang dan malam yang diisyaratkan bahwa benda penerang untuk siang lebih besar dibandingkan dengan benda penerang untuk malam hari. Karna pada kenyataannya walaupun langit, bumi dan isinya yang masih berupa tumbuh-tumbuhan sudah diciptakan pada hari ketiga namun untuk penerangannya masih bergantung pada Dzat Tuhan sebagaimana sudah kami jelaskan pada penciptaan hari pertama. Oleh karena itu pada hari ini Tuhan sudah mulai menciptakan benda-benda penerang yang juga bertujuan untuk standar penentuan waktu, hari dan tahun sebgaimana dijelaskan dalam Kejadian:
14Berfirman Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, 15dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. 16Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni penerang yang lebih besar menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. 17Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semunya itu baik. 19Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.[22]
            Hari kelima: Pada penjelasan terdahulu disebutkan bahwa bumi diciptakan dalam keadaan kosong dan baru ada tumbuh-tumbuhan pada hari ketiga. Pada hari kelima ini Tuhan melengkapi isi bumi dengan menciptakan makhluk hidup berupa burung dan hewan-hewan laut serta semua jenis makhluk hidup yang semakin hari semakin banyak atas izin Tuhan. Hal ini dijelaskan dalam Kejadian:
20Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” 21Maka Allah menciptakan binatan-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 22Lalu Allah memberkati semuanya itu, firmannya: “Berkembang biaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” 23Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.[23]
        Hari keenam: ini adalah hari terakhir penciptaan alam semesta yang dalam penciptaannya Allah berusaha untuk memenuhi darat dengan binatang dan manusia.
24Berfirman Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. 25Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 26Berfirman Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, suoaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Ny, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-lakidan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 29Berfirman Allah: “Lihatlah, aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian, 31Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.[24]
Dalam keterangan ayat 24-25 di atas tampaknya tidak ada keterang yang menunjukkan bahwa binatang darat itu harus berkembang biak seperti halnya binatang-binatang air dan udara seperti tercatat pada (Kejadian, 1: 20-23). Akan tetapi menurut Bakker sekalipun tidak ada keterangan yang menunjukkan demikian, tetap saja binatang darat tersebut mendapat tugas untuk memenuhi bumi dan menerima berkat dari Allah untuk melakukan tugas itu.[25]
Begitulah gambaran tahapan-tahapan penciptaan alam raya yang di jelaskan oleh kitab suci orang Kristen, namun ada satu hal menarik untuk di kaji yang berkenaan dengan proses penciptaan. Yaitu tentang istirahatnya Tuhan pada hari ketujuh setelah selaesai melaksanakan tugas penciptaan-Nya. Hal ini dijelaskan dalam Kejadian pasal 2: 1-4 yaitu:
Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 2Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 3Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekeraan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.[26]
Yang dimaksud dengan kata “berhentilah” pada ayat dua di atas adalah beristirahatlah, sehingga dari sini dapat diketahui bahwa Tuhan setelah menciptakan alam raya selama enam hari berturut-turut, maka pada hari ketujuh Ia kemudian beristirahat. Menurut keyakinan orang Kristen Tuhan telah memuliakan hari ketujuh ini dengan cara mengkuduskannya (menucikannya), sehingga pada hari ini manusia dituntut untuk mengikuti perintah Tuhan untuk tidak melakukan pekerjaan dan harus beristirahat.
Adanya perkataan ini (istirahat) oleh orang Kristen tidak diartikan bahwa Allah itu lalu berhenti dari bekerja, akan tetapi dimaksudkan untuk menceritakan bahwa sesunguhnya Ia sudah menuntaskan semua pekerjaannya yang berkaitan dengan masalah penciptaan semesta raya lalu kemudian Tuhan melihatnya hasil pekerjaannya itu dengan penuh kesukaan.[27]
Demikianlah uraian tentang tahapan-tahapan penciptaan alam semesta menurut pandangan kitab suci umat Kristen yang oleh Tuhan di selesaikan dalam jangka waktu enam hari. Bermula dari penciptaan inilah akhirnya dari masa-kemasa alam semesta berkembang secara pesat sampai pada yang kita rasakan sekarang ini. Dan untuk lebih jelasnya tahapan-tahapan penciptaan alam semesta di atas akan kami rangkum ke dalam satu bagan sebagai berikut:
Hari
Penciptaan
1
2
3
4
5
6
7
Langit dan bumi yang masih dalam kondisi kacau dan penerangannya masih bersumber dari Dzat Tuhan
Cakrawala yang akhirnya dinamakan Langit
Bumi, laut  dan tumbuh-tumbuhan
Benda-benda penerang seperti matahari, bulan dan bintang-bintang
Burung dan ikan
Binatang dan manusia
Istirahat setelah selesai menuntaskan penciptaan alam semesta

Konsep Waktu Dalam Al-Qur’an dan Bible
Sebagaimana dijelaskan bahwa dalam kitab suci al-Qur’an penciptaan alam semesta dilakukan dalam masa 6 hari, begitu juga dalam Kitab Kejadian (Genesis 1), Namun penjelasan yang ada di dalam al-Qur’an tidak sedetail penjelasan Kitab Kejadian (Genesis 1).
Akan tetapi permasalahannya apakah konsep waktu dalam al-Qur’an dan Bible tentang penciptaan alam semesta menggunakan ukuran satandar waktu menurut perhitungan manusia (24 jam dalam sehari semalam), ataukah pengertian hari disini merupakan hitungan yang relatif?
Apabila kita teliti, waktu satu hari di planet bumi, bila kita berada di planet Venus, akan terasa bagaikan 8 bulan, karena rotasi Venus mengedari matahari adalah 243 hari. Waktu satu hari dalam hitungan bumi sekarang ini adalah 23 jam, 56 menit, dan 4 detik; ini adalah waktu rotasi planet bumi mengelilingi sumbunya. Hitungan waktu yang dipakai manusia sekarang ini menjadi hal yang sulit dicerna bila kita menterjemahkan secara literal bahwa penciptaan alam semesta dan manusia “hanya” dalam waktu 6 hari. Kenisbian waktu sebenarnya telah termaktub dalam Mazmur 90 (4) “A thousand years in your sight are as a day that passes, as a watch ini the night.” Relativitas waktu juga di uraikan dalam al-Qur’an yang menyatakan bahwa satu hari bisa seribu tahun, bisa 50.000 tahun. Surat al-Haj (22:47) menyatakan “ sesungguhnya sahari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung”. Sedangkan surat al-Ma’aarij (70:4) menguraikan: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) Tuhanmu dalam sehari yang kadarnya (sama dengan) limapuluh ribu tahun.”[28]
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa hari “yaum” yang dipakai untuk menciptakan langit dan bumi itu tidak seperti standar hari manusia, melainkan ukurannya seribu tahun menurut perhitungan tahun manusia. Hal ini sepadan dengan pandangan fisikawan Schroeder (1997) yang memakai gelombang elektromagnet (mikro gelombang, sinar X, sinar gama dll) untuk menghitung waktu dan umur alam semesta. Schoder menyimpulkan bahwa hari kesatu sampai keenam penciptaan dalam kejadian setara dengan hitungan 15,75 milyar tahun yang lalu sampai 6000 tahun yang lalu. Analisis ini dapat dipaparkan dalam tabel sebagai berikut:[29]
Hari
Permulaan Hari
(Tahun yang lalu)
Akhir hari
(Tahun yang lalu)
Satu
15,75 milyar
7,75 milyar
Dua
7,75 milyar
3,75 milyar
Tiga
3,75 milyar
1,75 milyar
Empat
1,75 milyar
750 juta
Lima
750 juta
250 juta
Enam
250 juta
6000

Menuju Dialog Yang Absolut Tentang Penciptaan Alam Semesta.
            Yang penulis ingin ketengahkan dalam pembahasan kali ini adalah mencari kemungkinan adanya persamaan dan perbedaan yang esensial di antara kedua tradisi (Islam dan Kristen) tanpa harus mencampur mencampur adukkannya menjadi sebuah pandangan baru tentang teori penciptaan alam semesta.
            Dalam perspektif pemahaman di atas dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya dalam kedua ajaran baik Islam maupun Kristen dijelaskan secara umum penciptaan Alam dilaksanakan dalam masa enam hari, namun tentang tahapan-tahapan penciptaan alam sudah sangat jauh berbeda. Dimana dalam al-Qur’an tahapan-tahapan tersebut tidak disebutkan secara rinci, namun hanya disebutkan bahwa pada awalnya langit dan bumi adalah menyatu, kemudian dipisahkan (QS. 21:30), demikian juga Allah menciptakan dunia dalam enam hari ( QS. 7:54; 10:3; 11:7; 25:59; 32:4 dan 57:4), Allah juga menciptakan bumi dalam dua hari (QS. 41:9) dan menciptakan langit yang berjumlah tujuh tingkat dalam dua hari (QS. 41:12). Juga disebutkan bahwa yang diciptakan dalam enam masa itu tidak hanya langit dan bumi, melainkan juga termasuk segala hal yang ada di antara keduanya.
Tahapan-tahapan secara umum oleh al-Qur’an di atas sangat berbeda dengan tahapan-tahapan yang digambarkan oleh al-Kitab, dimana awal mula penciptaan dimulai dari penciptaan langit dan bumi yang masih dalam kondisi kacau dan penerangannya masih bersumber dari Dzat Tuhan (Kejadian, 1: 1-2), lalu kemudian tahapan kedua Tuhan sudah mencoba untuk membangun cakrawala yang akhirnya dinamakan Langit (Kejadian, 1: 6-8), tahapan selanjutnya bumi, laut  dan tumbuh-tumbuhan (Kejadian, 1: 9-13), kemudian penciptaan benda-benda penerang seperti matahari, bulan dan bintang-bintang (Kejadian, 1: 14-19), yang dilanjutkan kepada penciptaan burung-burung dan ikan (Kejadian, 1: 20-23) dan diakhiri oleh penciptaan binatang dan manusia (Kejadian, 1: 24-31).
Didalam al-Kitab juga ditemukan sebuah pernyataan bahwa Allah beristirahat pada hari ketujuh, namun pandangan ini secara eksplisit ditolak oleh al-Qur’an karena dipandang tidak sesuai dengan kemuliaan dan kekuasaan Allah.

Epilog
            Di penghujung catatan ini penulis ingin menegaskan bahwa sesungguhnya menelusuri proses terciptanya alam semesta dengan mengkomparasikan dua pandangan Islam dan Kristen di sini bukan bertujuan untuk menganalisa tingkat kebenaran kandungan kedua kitab suci (al-Qur’an dan Bible) tersebut, akan tetapi upaya ini dilakukan untuk menghargai kemajemukan serta penghormatan terhadap agama lain, membuka diri terhadap warna-warni keyakinan, dan keterbukaan untuk saling belajar dalam rangka mencari kesamaan dan menyelesaikan konflik.
Disisi lain kita juga harus menyakini bahwa idealnya, pandangan agama dan temuan pengetahuan tentang konsep penciptaan alam tidak harus berbenturan. Namun apabila pada kenyataannya tidak demikian maka kita tidak boleh langsung bersikap apatis terhadap kitab suci, karena pada dasarnya teks-teks keagamaan merupakan buku petunjuk tentang bagaimana menjalani hidup yang benar menuju jalan Tuhan. Ia bukan merupakan kitab ilmu pengetahuan ataupun sains yang sewaktu-waktu teorinya bisa berubah-ubah sedangkan karena kitab suci bersifat mutlak dalam dirinya dalam pengertian tidak dapat di tambah dan di kurangi, proses turunnyapun sudah selesai yang dijamin kebenarannya isinya.




























DAFTAR PUSTAKA
Andi Hakim Nasoetion, Pengantar ke Filsafat Sains, (Jakarta: Litera Antar Nusa, 1999), hlm. 448.
Dr. Zubaedi. M. Ag, M. Pd, Islam dan Benturan Antar peradaban, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007)
Duki Hendrayana, “Penciptaan dalam Agama Kristen”, Skripsi Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta (1989)
Georg Kirchberger, Pandangan Kristen Tentang Dunia dan Manusia, (Flores: Ledalero, 2003). Hlm. 10.
Harun Yahya, Penciptaan Alam Semesta,” www.pakdenono.com,” akses 05 Desember 2007.

J.B. Heru Prakosa,SJ, “Refleksi Kitab Kejadian Atas Penciptaan,” Majalah Rohani, No. 3 (Maret 1993)
 “Karunia Roh Kudus(2),”http://reader.feedshow.com/show_items-feed=9c5c0ae1ad6266f3f63766c3baf4d878, akses 05 Desember 2007.
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2002)
Prof. Dr. Musa Asy’arie, Filsafat Islam: Sunnah Nabi dalam Berfikir, (Yogyakarta: LESFI, 2002)
S. Anwar Effendi dkk, Alam Raya dan Al-Qur’an, (Jakarta: Pradya Pramita, 1994)
Zainal Abidin Bagir, Ilmu, Etika,dan Agama: Menyingkap Tabir Alam dan Manusia, (Yogyakarta: CRCS, 2006)

           


[1] Dr. Zubaedi. M. Ag, M. Pd, Islam dan Benturan Antarperadaban, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007), hlm. 45.
[2] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 449.
[3] Dr. Zubaedi. M. Ag, M. Pd, Islam dan Benturan Antarperadaban,, hlm. 49.
[4] Sebagaimana firman Allah yang menyatakan bahwa hidup di dunia ini tidak lain adalah permainan yang penuh dengan kesenangan semu “ Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan, dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”.(QS. Al-Hadid, 57:20).
[5] Prof. Dr. Musa Asy’arie, Filsafat Islam: Sunnah Nabi dalam Berfikir, (Yogyakarta: LESFI, 2002), hlm. 195.
[6] Ibid., hlm. 196.
[7] S. Anwar Effendi dkk, Alam Raya dan Al-Qur’an, (Jakarta: Pradya Pramita, 1994), hlm. 446.
[8] Big Bang adalah teori ledakan besar yang menyatakan bahwa ruang, waktu, serta semua bahan baru terjadi setelah ledakan besar. Yang artinya, alam raya bermula dari ketiadaan mutlak setelah adanya ledakan besar. Hal ini bukanlah suatu yang mustahil karena sesungguhnya allah maha kuasa sebagaimana firman-Nya menyatakan “Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (menciptakan sesuatu), maka Dia hanya (cukup) mengatakan kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah ia. (QS. Al-Baqarah, 1:117). Sedangkan lawan dari teori ini adalah teori Alam Raya Plasma, yaitu teori yang menyatakan bahwa alam raya ini tidak berpermulaan. Lihat Andi Hakim Nasoetion, Pengantar ke Filsafat Sains, (Jakarta: Litera Antar Nusa, 1999), hlm. 448.
[9] Harun Yahya, Penciptaan Alam Semesta,” www.pakdenono.com,” akses 05 Desember 2007.

[10] Andi Hakim Nasoetion, Pengantar ke Filsafat Sains,  hlm. 136.
[11] Ibid., hlm. 136-137.
[12] J.B. Heru Prakosa,SJ, “Refleksi Kitab Kejadian Atas Penciptaan,” Majalah Rohani, No. 3 (Maret 1993), hlm. 96.
[13] Ibid., hlm. 96-97.
[14] Georg Kirchberger, Pandangan Kristen Tentang Dunia dan Manusia, (Flores: Ledalero, 2003). Hlm. 10.
[15] Kejadian, 1: 1-2.
[17] Dikutip oleh Duki Hendrayana, “Penciptaan dalam Agama Kristen”, Skripsi Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta (1989), hlm. 45.
[18] Kejadian, 1: 3-5.
[19] 2 Koritnus, 4: 6.
[20] Kejadian, 1: 6-8.
[21] Kejadian, 1: 9-13.
[22] Kejadian, 1: 14-19.
[23] Kejadian, 1: 20-23.
[24] Kejadian, 1: 24-31.
[25] Dikutip oleh Duki Hendrayana, “Penciptaan dalam Agama Kristen”, hlm. 51.
[26] Kejadian, 2: 1-3.
[27] Dikutip oleh Duki Hendrayana, “Penciptaan dalam Agama Kristen”, hlm. 52.
[28] Zainal Abidin Bagir, Ilmu, Etika,dan Agama: Menyingkap Tabir Alam dan Manusia, (Yohyakarta: CRCS, 2006), hlm. 94.
[29] Ibid., hlm. 94-95.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tuliskan Komentar Anda disini. jika anda belum mempunyai Google Account atau Open ID, Anda bisa Menggunakan Name/Url (disarankan menggunakan opsi ini) atau Anonimous.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Advertise

Contact Us

n