Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder

Admin Monday, December 20, 2010

Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder

Pendahuluan: Tradisi berpikir dalam filsafat mempunyai sifat kritis terhadap diri sendiri. Kritis di dalam filsafat bukan berpikir asal beda. Kritis yang harus didasarkan pada kekuatan argumen yang memadai. Pesatnya perkembangan filsafat Barat terutama di era modern. Beberapa tokoh yang telah dikenal seperti R. Decartes, J. Locke, Berkeley, David Hume, Hegel, I. Kant dan masih banyak lagi. Dalam perkembangannya berpikir kritislah yang menjadi pegangannya. Judul tulisan ini “Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder” merupakan salah satu cerminan bagaimana berpikir kritis itu. Perdebatannya diawali oleh pemikiran filosofis John Locke yang kemudian direspons oleh Berkeley. Perdebatan itu tidak berakhir di situ respons terhadap kedua orang itu terlihat di pemikiran para filosof kontemporer.

Kualitas Primer dan Sekunder

Kualitas adalah kategori filosofis yang mencerminkan aspek-aspek penting dari realitas obyektif. Kualitas terikat kepada obyek sebagai keseluruhan, merangkulnya secara utuh, dan tidak dapat dibedakan dari obyek. Itulah sebabnya konsep kualitas bertautan dengan adanya obyek. Karena tetap dirinya sendiri, maka suatu obyek tidak dapat kehilangan kualitasnya (Bagus, 2000: 505-506).

a)      Pemikiran John Locke Tentang Kualitas Primer dan Sekunder
John Locke menekankan bahwa semua inteligibilitas ditarik dari indra. Ini berlawanan dengan Descartes, yang menekankan akal budi. Lebih jauh John Locke membandingkan budi manusia pada saat lahir dengan tabula rasa, yaitu sebuah papan kosong, yang belum tertulis apa pun. Dengan ini dia menolak ‘ide bawaan’ (innate ideas) dan menegaskan bahwa kita tidak tahu apa pun yang tidak ditarik dari indra. Maka Locke adalah seorang empirisis indrawi, yaitu seseorang yang mempertahankan bahwa seluruh isi pikiran akhirnya dapat direduksikan kepada pengalaman inderawi.

Apa yang saya sadari hadir bagi kesadaranku; maka hal itu hadir di dalam kesadaranku; kalau hadir di dalam kesadaranku, maka hal itu merupakan datum mental. Inilah yang disebut ide. Dengan demikian data, seperti putih, bulat, dingin, bergerak, manis, sakit, berkeluasan, semuanya adalah ide. Ide adalah cara reaksi subyektifku terhadap pengaruh dari benda-benda yang menimpaku. Mereka adalah gambaran di dalam kesadaranku mengenai benda-benda material di luar diriku. Mereka adalah tiruan mental dari benda-benda material ini.

Di sini Locke membuat perbedaan. Ada kualitas tertentu yang secara esensial termasuk di dalam benda-benda material, yang tak terpisahkan dari mereka, sehingga benda material tak dapat ada dan tak dapat dipahami tanpa kualitas-kualitas ini, seperti, kepadatan, keluasan, bentuk, gerak atau diam, dan bilangan. Hal-hal ini disebut Locke “kualitas-kualitas primer”. Selanjutnya Locke menyimpulkan bahwa ide-ide kita mengenai kualitas-kualitas primer ini mewakili apa yang terdapat di dalam benda-benda itu sendiri. Tetapi tidak semua ide mempunyai dasar obyektif yang kokoh. Misalnya, warna, suara, rasa tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. Mereka hanya sensasi yang disebabkan di dalam diri kita oleh kualitas-kualitas primer dan tentu saja tidak mempunyai dasar obyektif yang sama. Sebagaimana dikata Locke:

“singkirkan sensasi mengenai mereka; tanpa mata yang melihat sinar; atau warna; atau tanpa telinga yang mendengar suara; tanpa langit-langit mulut yang merasa, atau hidung yang membau; maka semua warna, rasa, bau, dan suara, sebagai ide-ide khusus lenyap dan berhenti, dan mereka direduksikan kepada sebab-sebab mereka, yaitu kumpulan, bentuk, dan gerakan dari bagian-bagian.”
   
b)      Kritik George Berkeley tehadap pemikiran John Locke
George Berkeley (1685-1753) tidak keberatan dengan pandangan Locke yang menyatakan bahwa apa yang kita ketahui secara langsung adalah ide-ide. Bahkan Bekeley sangat menekankan hal itu. Hal yang langsung dikenal—warna, suara, rasa, sakit, senang keinginan, keluasan—semuanya ini adalah isi kesadaran. Hal-hal itu adalah ide. Berkeley menanyakan atas dasar apa Locke membuat perbedaan antara kualitas-kualitas primer dan sekunder? Kapan kita dapat mengalami sebuah benda jasmani yang mempunyai kualitas-kualitas primer tanpa yang sekunder? Jelaslah bahwa kita tidak pernah mengalaminya. Maka hal ini bukan masalah perbedaan antara cara mengalami: semua kualitas dialami secara sejaja—semuanya adalah ide.

c)      Pandangan para filosof kontemporer
Teori Data-inderawi dibuat oleh George Moore dan Bertrand Russel. Teori ini untuk menjembatan perbedaan antar dua tokoh di atas yang berbeda. Keduanya, dengan teori ini berposis pada dasar yang sama. Sebelum memutuskan apakah “sinar merah” yang saya sadari adalah sebuah ide atau suatu obyek material yang berdikari, semua pihak sekurang-kurangnya mungkin setuju bahwa saya langsung menyadari sinar merah dan hal itu pastilah ada. Adanya sinar merah itu sebagai suatu ide atau obyek material belum diputuskan. Sebab perbedaan antara ide dan obyek material tidakalah primitif; perbedaan itu baru muncul kemudian, setelah saya muali menyelidiki perbedaan antara data yang benar-benar primitif.

Alfred Ayer memperlakukan pertikaian itu sebagai pertikaian bahasa. Sebenarnya tidak ada pertikaian yang mendalam, sebab posisi mana pun yang kita ambil tidak akan mengakibatkan hal-hal yang berbeda. Maka perdebatan hanyalah bersifat lingustik: bahasa manakah yang lebih cocok untuk mengungkapkan pengalaman kita. Kalau saya mengatakan “mobilnya ada di garasi” dan anda mengatakan “mobilnya tidak ada di garasi”, salah satu harus benar dan yang lain salah, karena kedua pernyataan itu bertentangan. Tetapi kalau anda mengatakan bahwa mobil adalah suatu benda material dan saya mengatakan bahwa mobil adalah suatu nama untuk kumpulan data inderawi, tidak perlu bahwa salah satu salah karena mereka tidak menunjukkan perbedaan di dalam pengalaman, tetapi hanya cara berbicara yang berbeda mengenai pengalaman yang sama.

Kesimpulan
Setelah menguraikan tentang kualitas primer dan sekunder di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa John Locke menganggap bahwa kualitas primer itu yang menyebabkan subyek dapat mengetahui obyeknya. Kualitas-kualitas ini, seperti, kepadatan, keluasan, bentuk, gerak atau diam, dan bilangan. Locke mengatakan bahwa ide-ide kita mengenai kualitas-kualitas primer ini mewakili apa yang terdapat di dalam benda-benda itu sendiri. Tetapi tidak semua ide mempunyai dasar obyektif. Misalnya, warna, suara, rasa tidak termuat secara esensial di dalam konsep benda material. Tetapi Berkeley menolak hal itu, bagi Berkeley semua kualitas dialami secara sejajar, semuanya adalah ide. Filosof selanjut berusaha untuk menjembatani dan keluar dari perdebat tersebut. George Moore dan Bertrand Russel mengeluarkan teori data-inderawi. Bagi Anyer hal itu hanya berbeda cara berbicara mengenai pengalaman yang sama.
loading...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan Tuliskan Komentar Anda disini. jika anda belum mempunyai Google Account atau Open ID, Anda bisa Menggunakan Name/Url (disarankan menggunakan opsi ini) atau Anonimous. Mohon berkomentar dengan bijak dan jangan spamSilahkan komentar