Tuesday, January 5, 2010

AL-FARABI DAN PEMIKIRANNYA

AL-FARABI DAN PEMIKIRANNYA







BAB I.

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH


dalam sebuah kehidupan, eksistensi tuhan dianggap sebagai syarat penting untuk mempercayai dan meyakini akan keesaan tuhan, seperti para filosof-filosof islam yang mencoba memberikan diskripsi ataupun pandangan terhadap eksistensi tuhan.
Eksistensi yang sebenarnya yang ada, tidak akan tidak ada untuk selamanya, bahkan ia selalu ada. Ia adalah pencipta yang maha kuasa, dan maha bijaksana. Para filosof islam mencoba mengkaitkan antara keesaan akal dan keesaan tuhan. Seperti yang di angkat oleh Al-Kindi dan Ibnu Sina. Yang nantinya menjadi awal tersendiri bagi kemajemukan dan pemahaman para penganut agam di Indonesia khususnya islam di Indonesia. Hasil-hasil pemikiran tentang kemajuan tuhan yang di komparasikan dengan realita-realita yang ada, ”Esa adalah akal yang mengetahui dirinya”. Penting sekali kami menganut dua tokoh pemikir islam yang nantinya berguna untuk kita renungi bersama tentang pemikiran Al-Kindi dan Ibnu Sina untuk Indonesia sebagai benteng untuk memperkokoh keimanan akan eksistensi tuhan yang sebenarnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan latar belakang masalah sebagai mana yang telah kami tulis diatas maka maka perlu di susun suatu perumusan masalah , hal ini di maksudkan untuk tidak terjadinya kesimpang siuran dan penafsiran antara penenulis dengan pembaca. Dengan demikian maka perumusan masalah dalam makalah ini , penulis akan berpijak pada masalah yang telah di uraikan di muka . Adapun perumusan masalah yang di jadikan ukuran dalam makalah ini sebagai berikut,:
“ Bagai manakah sejarah Al- Farabi mulai dari Biografi Al-Farabi, Karya Al-Farabi dan Pemikiran Alfarabi “.

C. TUJUAN
1. Penulisan makalah sejarah Al – Farabi ini betujuan agar dapat mengetahui Biografi al- farabi, Karya Al-Farabi dan Pemikiran Al- Farabi
2. Dengan adanya makalah ini di harapkan menjadi masukan kepada para pembaca serta pada generasi penerus Islam dan bangsa ini.


C. Rumusan Masalah
Berdasarkan penegasan istilah dan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah studi ini adalah: Bagaimana Relevansi Konsep Kesadaran Paulo Freire dengan Proses Pengembangan Masyarakat.
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana relevansi konsep kesadaran Paulo Freire terhadap proses pengembangan masyarakat.
2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Teoritis: Sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan disiplin ilmu dalam Pengembangan Masyarakat.
b. Kegunaan Praktis: Sebagai bahan masukan bagi kalangan fasilitator dalam melakukan pengembangan masyarakat demi terciptanya masyarakat madani.
E. Tinjauan Pustaka
Untuk mendukung penelaahan yang lebih mendetail, penulis berusaha untuk melakukan kajian terhadap beberapa pustaka ataupun karya-karya yang mempunyai relevansi terhadap topik kajian ini. Adapun beberapa buku dan beberapa skripsi yang berhasil penulis telusuri, serta dapat dijadikan ba
G. Metode Penelitian
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Penelitian ini bila dilihat dari jenisnya adalah termasuk dalam kategori Penelitian Kepustakaan (library research), yakni: suatu penelitian yang menggunakan buku-buku (karya-karya Ilmiah) sebagai sumber datanya. Sedangkan bila dilihat dari sifatnya, penelitian ini termasuk bersifat Deskriptif-Analitik, yakni: berusaha memaparkan data-data pemikiran Paulo Freire tentang kesadaran dan menganalisanya dengan tepat serta merelevansikannya dengan proses pengembangan masyarakat.
2. Pengumpulan Data
Dalam melakukan pengumpulan data, karena kajian ini merupakan penelitian pustaka, maka cara pengumpulan datanya adalah dengan menelusuri dan menelaah literatur-literatur atau bahan-bahan pustaka, seperti buku-buku, majalah, jurnal dan lain-lain yang relevan dengan masalah studi ini. Sumber data yang primer adalah karya-karya Paulo Freire yakni: Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan (2004), Pendidikan Sebagai Proses (2005), Pedagogi Pengharapan (2005), Pendidikan Kaum Tertindas (2000), Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan (1984), Pedagogi Hati (2005) sementara karya-karya ilmiah (buku, skripsi, majalah dan tulisan-tulisan ilmiah) lainnya sebagai sumber data skunder.
Seperti lazimnya penelitian Library research, penyusunan skripsi ini merujuk pada sumber di atas, yang ditulis langsung oleh Paulo Freire yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Penulis tidak menggunakan buku aslinya karena keterbatasan kemampuan penulis.han perbandingan maupun rujukan dalam penulisan ini, yakni:


BAB II

PEMBAHASAN


I. BIOGRAFI AL- FARABI.

Nama lengkapnya Nama asal Al-Farabi ialah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad Tarkhan Al-Uzdag ibnu Awzalagh al Farabi. Ia dilahirkan di desa Wasij, suatu distrik kota Farab, yang termasuk wilayah kekuasaan Turki namun terletak di dekat perbatasan dengan Parsi (Khurasan). Ayahnya menikah dengan wanita Turki dan merupakan seorang jendral Komando Tentara Mesir dan pernah menjadi seorang hakim. Al Farabi dilahirkan pada tahun 870 M dan meninggal dalam usia 80 tahun, yaitu pada bulan Desember 950 M ketika dalam perjalanannya menuju Damaskus. Dalam bahasa Latin ia dikenal dengan : Alfarabius atau Avennasar, seorang filosof Islam terbesar. Ia dijuluki sebagai “The Second Master” (Guru Kedua = al-Mu’allimuts-Tsani), sedangkan “The First Master” disandang oleh Aristoteles. Ibnu Khaldun menempatkannya diatas Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Ia lahir di Wasij, Distrik farab ( sekarang di kenal dengan nama atrar , Turkistan pada tahun 257 H ( 870 M ) .Di sebut Farabi karena kelahirannya di farrab , yang juga di sebut kampung utrar . Dahulu masuk daerah Iran , akan tetapi sekarang menjadi bagian dari Republik Uzbekistan , dalam daerah Turkestan , Rusia . Ayahnya berkebangsaan Persia sebagai seorang Jenderal , yang memiliki posisi penting di Parsi. dan Ibunya berkebangsaan Turki .Kepribadian Al- Farabi , sejak kecil ia tekun dan dan rajin belajar . Dalam berolah kata , tutur bahasa , ia mempuyai kecakapan luar biasa.
Al Farabi , waktu masih mudanya , talah berjalan meninggalkan kampung halaman tercintanya yaitu Farrab. demi mencari ilmu pengetahuan . Kemudian ia sampai di Baghdad . Di sana ia belajar tentang ilmu bahasa Arab , dan kemudia ia meneruskan pelajaran tentang ilmu logika pada Abu Basyar Matta, putra Yunus. Untuk memperoleh Ilmu Filsafat , ia pergi ke harran , dan di sana ia menjadi murid Yuhahhan Ibnu Khailan . ia juga sangat tertarik akan ilmu – ilmu Ariestuteles, yang di berikan oleh Yuhanna , buku Anima, di bacanya sampai dua ratus kali , berulang ulang . Buku Phisica , di bacanya sampai empat puluh kali.
Kemudia ia mengembara di sepanjang jalan raya Suria , Mesir dan akhirnya ia sampai ke Damaskus , dalam keadaan miskin . Di Damaskus , ia mendapatkan pekerjaan sebagai tukang jaga kebun, pada malam hari. Kemudia kesungguhan dan ketekunanya dalam belajar tedengar oleh Pangeran Saiful Daulah. Sebagai Pangeran Damaskus Dikala itu , ia memberikan bantuan kepada al- Farabi , empat dirham sehari. Al- Farabi merasa puas dengan bantuan yang sedikit ini . dan dengan inilah ia belajar , mengajar, mengarang , dan lain – lain pekerjaan , dalam dunia kesusastraan .
Al Farabi memperdalami semua Ilmu yang telah di selidiki Al – Kindi , Sehinga tidaklah heran jika paham filsafatnya tidak jauh berbeda dengan filsafatnya Al- Kindi. Perbedaannya hanyalah, bila al- Farabi cenderung kepada sufi ( tasawwuf ) sedang kan al- Kindi tidak. Al- Farabi menjadi besar di mata Dunia , terutama di Dunia Eropa , bukan saja lantaran kemampuan di bidang filsafat , akan tetapi karena ilmu logika ( mantik ) dan metafisika, selain dari pada itu, ia pun mempuyai aliran sendiri dalam ilmu filsafat politik.
Al- Farabi yang mula mula menulis tentang “ Assiyasatul madaniah “ yakni yang di namakan orang sekarang “ Politik ekonomi ( menurut kami yang pas secara lafdiyahnya adalah politik negara bukan politik Ekonomi ) “ yang di pandang oleh orang Eropa pada umumnya , sebagai pendapat yang orisinil. Meskipun seorang filusuf Muslim , pada abad sebelumnya telah menguraikan dasar- dasar ilmu tersebut, dan sesudah Al- Farabi diikuti lagi oleh seorang filusuf muslim pula yaitu Ibnu Khaldun dalam kitabnya yang masyhur “ Muqaddimah “ dengan tidak diantar oleh filusuf lainnya. Dari tangan Ibnu Khaldun ilmu ini sampai ke Maciavelli , Hegel , Gibbon, dan lain – lainnya. Konon kitab ‘ Assyiyasatul Madaniyah “ ada yang di cetak di Beirut 1906. Dalam encyclopaedia of science ( Ihsaul Ulum ) ia memberikan ihtisar umum tentang semua ilmu , Sebuah ihktisar karya ini dalam bahasa latin memperlihatkan sedikit gambaran tentang luasnya lapangan yang di bicarakan yng terbagi atas lima bagian , yaitu berbagai cabang ilmu pengetahuan : bahasa , logika , Ilmu Pasti, , ilmu alam dan ilmu Ekonomi. , politik dan sosial. Sebuah karya Al- Farabi lain dan masyhur yang dengan luas di pergunakan Roger Balcon dan Albertus Magnus ialah tafsirannya atas organun , karangan arestoteles yang sebelum itu amat sulit untuk di fahami oleh orang yang hendak mempelajarinya.

Karangan “ tendensi Filsafat Plato dan Aresto teles “ uraiannya tentang etika berjudul “ As Sirat ul Fasilah “ yang merupakan sebagian dari hasil karnyanya yang lebih luas dan lebih besar berjudul “ Mabadiul Maujudad “ , memperlihatkan sifat inteleknya yang serba segi. Dan al farabi meninggal dunia dengan meninggalkan beberapa karya – karyanya yang agung pada usia 80 tahun di damaskus pada bulan Desember 950 M .


II. KARYA – KARYA AL FARABI ;

Karya Al Farabi dituangkan dalam 60 karangan utuh, 17 komentar & 25 risalah. Masalah yang dibahas menyangkut macam-macam cabang ilmu. 14 buah ilmu politik, 43 buah tentang ilmu logika, 11 buah tentang ilmu musik. 10 buah membicarakan ilmu fisika meliputi kimia dan kedokteran. Sedangkan 11 buah mengungkapkan tentang rahasia-rahasia ketuhanan/teologi. Menurut Ensiklopedia Britanica keahliannya dalam bidang matematika, fisika, kedokteran, filsafat & tasawuf sama kuatnya dengan bidang ilmu budaya termasuk musik. Dalam hal ini penganutnya antara lain, Vincent of Beauvais (1190-1264 M), Jerome of Moravvia & Raymond Lull, sebagai mana tersirat dalam bukunya Specu1um Doctrinal. Beberapa karya al- Farabi yang terkenal antara lain:
Diantara judul
karya al-Farabi yang terkenal adalah :
1. Maqalah fi Aghradhi ma Ba’da al-Thabi’ah
3. Kitab Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah
4. Kitab Tahshil al-Sa’adah
5. ‘U’yun al-Masa’il
6. Risalah fi al-Aql
7. Kitab al-Jami’ bain Ra’y al-Hakimain : al-Aflatun wa Aristhu
8. Risalah fi Masail Mutafariqah
9. Al-Ta’liqat
10. Risalah fi Itsbat al-Mufaraqat

a. Syuruh Risalah Zainun al – Kabir al- Yunani


c. Risalah fima yajibu Ma’rifat qabla Ta’allumi al Falasifah


g. Ara’ Ahl al Madinah al- Fadilah.

h. Ihsha’ Al Ulum wa al – Ta’rif bi aqhradiha,

i. Maqalat Fima’ ani al- Aql.

j. Fushul al- Hukm,

k. Risalah al- Aql’

l. Al Syiyasah Al Madinah

m. Al- Masail al. Falsafiyah wa al Ajwibah ‘ anha.

n. Al- Ibanah’ an Ghardi Aristo fi kitabi ma ba’da al tabi’ah.


III. PEMIKIRAN AL-FARABI
A. Pemaduan Filsafat
Al- Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat yang sebelumnya terutama pemikitan plato, Aristoteles , dan plotinus , juga antara agama dan filsafat. Karena itu ia terkenal dengan filsuf sinkretesme yang mempercayai kesatuan filsafat Dalam Ilmu logika dan fisika ia di pengaruhi oleh aristoteles . Dalam masalah akhlak dan politik , ia di pengaruhi oleh Plato, Sedangkan dalam masalah metafisika , ia di pengaruhi oleh platinous.
Sebenarnya , usaha kearah sinkretisme pemikiran telah di mulai muncul pada aliran neo – Platonisme. Namun Al- Farabi lebih luas karena ia bukan saja mempertemukan aneka aliran filsafat , juga penekanannya bahwa aliran- aliran filsafat itu pada hakekatnya satu , meskipun pemunculannya berbeda corak ragamnya.
Al- Farabi menggunakan interpretasi batini , yakni dengan menggunakan ta’wil bila menjumpai pertentangan pemikiran antara Plato dan Aristoteles . Menurut Al- Farabi , sebenarnya Aristo teles mengakui alam rohani yang terdapat di luar alam ini . Jadi kedua filsuf ini sama – sama mengakui adanya edea – edea pada zat Tuhan . Kalaupun terdapat perbedaan , maka hal itu tidak lebih dari tiga kemungkinan.:
1. Definisi yang di buat filsafat tidak benar
2. Pendapat orang banyak tentang pikiran – pikiran falsafi dari kedua filsuf tersebut terlalu dangkal . Adanya kekeliruan dalam pengetahuan orang orang yang menduga bahwa antara keduanya terdapat perbedaan dalam dasar- dasar falsafi;
3. Pengetahuan antra adanya perbedaan antara keduanya tidak benar . Padahal definisi filsafat menurut keduanya tidaklah berbeda, yaitu suatu ilmu yang membahas tentang yang ada secara mutlak .

Adapun perbedaan agama dengan filsafat, tidak mesti ada karena karena keduanya mengacu kepada kebenaran , dan kebenaran itu hanyalah satu, kendatipun posisi dan cara memperoleh kebenaran itu berbeda, satu menawarkan kebenaran dan lainnya mencari kebenaran. Tetapi kebenaran yang ada pada keduanya dalah serasi karena bersumber dari akal aktif. Kebenaran yang diperoleh filsuf dengan perantaraan Akal Mustafad, Sedangkan agama melaui wahyu dengan perantaraan nabi. Dan al- Farabi mengagungkan filsafat dari agama , karena ia mengakui bahwa ajaran agama Islam Mutlak kebenarannya.

B. Meta Fisika
pembahasan metafisika adalah untuk membangun suatu sistem alam semesta yang dapat memadukan ajaran agama dengan tuntutan akal. Dalam sistem yang semacam ini, masalah hubungan “Yang Esa” dengan “pluralitas alamiah” ini merupakan titik berangkat atau dasar utama dalam membangun filsafat seluruhnya.
Filsafat Al-Farabi dapat dikelompokkan ke dalam Neoplatonis. Ia mensintesiskan buah pikir dua pemikir besar yaitu Plato dan Aristoteles berupa al- Maujud al- Awwal sebagai sebab pertama bagi segala yang ada . Dalam Pembuktian adanya Tuhan Al- Farabi mengemukakan dalil Wajib al- Wujud dan Mumkin al Wujud , menurutnya segala yang ada ini dua kemungkinan dan tidak ada alternatis yang ketiga.
Wajib al – wujud adalah wujudnya tidak boleh tidak ada, adanya dengan sendirinya , esensi dan wujudnya adalah sama dan satu. Ia adalah wujud yang sempurna selamanya dan tidak didahului oleh tiada , Jika wujud ini tidak ada , maka akan timbul kemustahilan , karena wujud lain untuk adanya tergantung kepadanya. Inilah yang di sebut dengan Tuhan.
Mumkin al- Wujud maksudnya adalah Tidak akan berubah menjadi wujud aktual tanpa adanya wujut yang menguatkan , dan yang menguatkan itu bukan dirinya tetapi wajib al- wujud. . Walau pun demikian , mustahil terjadi daur dan tasalsul ( Prosessus in infinutum ) , kerena rentetan sebab akibat itu akan ber akhir pada wajib al- wujud.
Al- Farabi menglkasifikasikan yang wujud kepada dua rentetan yaitu :
1. Rentetan wujud yang esensinya tidak berfisik . termasuk dalam hal ini Varitas yang tidak berfisik dan tidak menempati fisik ( Allah , akal pertama , dan uqaul al- akhlak ) , serta yang tidak berfisi tetapi bertempat pada fisik ( Jiwa, bentuk , dan materi ) .
2. Rentetan wujut yang berfisik yaitu benda benda lagit , manusia , hewan , tumbuh – tumbuhan , benda – benda tambang , dan unsur-0 unsur yang empat ( air, udara, tanah, dan api ).
Tujuan Al- Farabi mengemukakan teori emanasi tersebut untuk menegaskan ke maha Esaan Tuhan . Karena tidak mungkin yang Esa berhubungan dengan yang tidak Esa atau banyak . Adai kata alam di ciptakan secara langsung , mengakibatkan Tuhan berhubungan dengan yang tidak sempurna , dan ini menudai ke Esaannya . Jadi dari Tuhan yang maha Esa hanya muncul satu yakni akal pertama yang berfungsi sebagai perantara dengan yang banyak. Disamping itu Tuhan juga bagi Al Farabi tidak mempuyai kehendak , karena hal itu membawa ketidak sempurnaan , termasuk melimpahnya yang banyak dari dirinya secara sekali gus dan itu tidak terjadi dalam waktu . dari pendapat ini al- Farabi haya menyatakan alam adalah taqoddum zamani bukan taqoddum zati.
Menurut al-Farabi Alam semesta muncul dari yang Esa dengan proses emanasi. Bertentangan dengan dogma ortodoks tentang penciptaan, filsafat Islam mengemukakan doktrin kekekalan alam. Doktrin emanasi digunakan untuk menjelaskan ini.48
Hierarki wujud menurut al-Farabi adalah sebagai berikut :
1. Tuhan yang merupakan sebab keberadaan segenap wujud lainnya.
2. Para Malaikat yang merupakan wujud yang sama sekali
immaterial.
3. Benda-benda langit atau benda-benda angkasa (celestial).
4. Benda-benda bumi (teresterial).
Dengan filsafat emanasi al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Esa. Tuhan bersifat Maha Esa, tidak berubah, jauh dari materi, Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kalau demikian hakikat sifat Tuhan bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha Satu. Emanasi seperti yang disinggung di atas merupakan solusinya bagi al-Farabi. Proses emanasi itu adalah sebagai berikut:
Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul satu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua, dan juga mempunyai substansi. Ia disebut Akal Pertama (First Intelligent) yang tak bersifat materi. Wujud kedua ini berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran ini timbullah wujud ketiga, disebut Akal Kedua. Wujud II atau Akal Pertama itu juga berpikir tentang dirinya dan dari situ timbul langit pertama. Kemudian secara bersamaan timbul wujud dan akal sebagaimana berikut:
Wujud III/Akal II
Wujud Tuhan = Wujud IV/Akal Ketiga
wujud dirinya = Bintang-bintang
Wujud IV/Akal III
wujud Tuhan = Wujud V/Akal Keempat
wujud dirinya=Saturnus
Wujud V/Akal IV
wujud Tuhan =Wujud VI/Akal Kelima
wujud dirinya=Jupiter
Wujud VI/Akal V
Wujud Tuhan=Wujud VII/Akal Keenam
Wujud dirinya=Mars
Wujud VII/AkalVI
wujud Tuhan=Wujud VIII/Akal Ketujuh
wujud dirinya=Matahari
Wujud VIII/Akal VII
wujud Tuhan=Wujud IX/Akal Kedelapan
wujud dirinya=Venus
Wujud IX/AkalVIII
wujud Tuhan=Wujud X/Akal Kesembilan
wujud dirinya=Mercury
Wujud X/Akal IX
wujud Tuhan=Wujud XI/Akal Kesepuluh
wujud dirinya Bulan
Pada pemikiran Wujud IX/Akal Kesepuluh ini berhenti terjadi timbulnya akal-akal .Tetapi dari Akal Kesepuluh muncullah bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur api, udara, air dan tanah. Sepuluh lingkaran geosentris yang disusun oleh al-Farabi berdasarkan sistem Ptolomeus.

C. Jiwa
Adapun tentang jiwa, Al-Farabi dipengaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa tidak berpindah-pindah dari suatu badan kebadan yang lain.
Jiwa manusia sebagaimana halnya materi asal memancar dari Akal kesepuluh. kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan secara accident, artinya antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda, dan binasanya jasad tidak membawa binasanya jiwa. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang beruap, berkadar dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.


Jiwa – jiwa manusia mempuyai daya- daya , sebagai berikut. :
1. Daya gerak seperti makan , memelihara dan berkembang.
2. Daya mengetahui yaitu ; merasa , Imaginasi
3. Daya berfikir yakni : Akal praktis dan teoritis
Daya teoritis terbagi kepada tiga tingkatan.
• Akal Potensial baru mempuyai potensi berpikir dalam arti ; melepaskan arti – arti atau bentuk – bentuk dari meterinya.
• Akal Aktual , telah dapat melepaskan arti – arti dari materinya , dan arti –arti itu telah mempuyai wujud akal dengan sebenarnya , bukan lagi dalam bentuk potensi , tetapi dalam bentuk aktua.
• Akal Mustafad ; telah dapat menangkap bentuk semata- mata yang tidak di kaitkan dengan materi dan mempuyai kesanggupan mengadakan komonikasi dengan akal.

D. Hubungan Politik Dengan Pemerintahan
Sejalan dengan Plato, aristoteles, Ibn al-Rabi, Farabi, berpendapat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai kecenderungan untuk bermasyarakat karena tidak mungkin memenuhi kebutuhan sendiri tanpa melibatkan bantuan dan kerja sama dengan orang lain.
Kepemimpinan dapat tumbuh karena adanya keahlian bawaan yang bisa mengarahkan orang untuk menegakkan nilai-nilai etis dan tindakan-tindakan yang mampu memelihara apa yang ada secara mantap, keahlian itu adalah pemerintahan atau sejenisnya, sementara politik adalah bentuk operasional dari keahlian itu.
Politik ada dua macam, yaitu: pertama, Pemerintahan yang menegakkan tindakan-tindakan sadar, cara hidup, disposisi positif, yang dengan cara demikian kebahagiaan dapat tercapai, dalam hal ini terwujud dalam pemerintahan utama di mana kota-kota dan bangsanya tunduk pada pemerintah. Kedua, Pemerintah yang menegakkan sesuatu yang diasumsikan sebagai kebahagiaan padahal bukan, inilah pemerintah jahiliyah. Pemerintah kedua ini bentuknya beraneka ragam, bila yang dikejar kehormatan tersebut timokrasi dan bila tujuan lain yang dikejar maka namanya sesuai dengan tujuan.
E. Pemerintah dan Kepala Negara
Dalam rangka merealisir negara, Farabi menfokuskan perhatiannya kepada kepala negara, kedudukan kepala negara sama dengan kedudukan bagi badan yang merupakan sumber koordinasi oleh karena itu, pelerjaan kepala negara tidak hanya bersifat politis melainkan meliputi etika sebagai pengendali “way of life”.
Sejalan dengan itu kepala negara harus memenuhi kualitas lihur, yaitu:
Lengkap anggota badannya
Baik intelegensinya
Multi intelektualitas
Pandai mengemukakan pendapat dan mudah mengerti
Pencinta pendidikan
Jujur
Berbudi luhur
Adil
Optimis dan
Istiqomah
Farabi ingin menggambarkan pula pentingnya bagi kepala negara untuk membersihkan jiwanya dari berbagai aktivitas hewani seperti korupsi, manipulasi, tirani yang merupakan aktualisasi pemerintahan jahiliyah, pemerintahan apatis dan sesat (DRs. Muh. Azhar. MA, 1996 : 76-81).
F. Kota Demokratis
Kota demokratis dalam pemikiran politik al-Farabi nampaknya adalah sebuah alternatif untuk terwujudnya sebuah kota utama. Model kota utama yang terlalu idealistik, dan juga mensyaratkan adanya seorang pemimpin yang sempurna, karena pemimpin yang sempurnalah yang mampu menujukkan dan mengarahkan yang dipimpinnya pada kebahagiaan, yang tentu akan sulit sekali ditemukan sosoknya. Sedangkan manusia membutuhkan sebuah institusi negara untuk dapat menjalani hidup mereka. Oleh karena itu muncul opsi kota demokratis, di mana seperti yang dikatakan al-Farabi dalam al-Siyasah al-Madaniyah bahwa kota ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang diidealkan, paling tidak memiliki peluang lain yang lebih besar daripada kota-kota dengan model lainnya.
“Sangatlah mungkin bahwa lama-kelamaan orang-orang utama akan bermunculan di kota itu. Yakni filosof, ahli retorika, dan penyair, yang menggeluti berbagai hal. Ada kemungkinan pula untuk mengumpulkan, sedikit demi sedikit dari kota itu (orang-orang) tertentu (yang membentuk) bagian dari kota utama itu. Inilah hal terbaik yang terjadi di kota seperti itu.”
Kota demokrasi sendiri adalah kota di mana penduduknya memiliki kebebasan dan keleluasaan untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Dan untuk membentuk kota utama, sebagaimana disinggung di atas karena sulitnya mewujudkan kota utama secara langsung, maka cara yang paling efektif adalah dengan terlebih dahulu membentuk kota demokratis yang memiliki kebaikan dan keburukan yang berjalan beriringan.

G. Moral .


Konsep moral yang ditawarkan al-Farabi dan menjadi satu hal penting dalam karya-karyanya, berkaitan erat dengan jiwa dan politik. Dalam buku Risalah fi al-Tanbih ‘ala Subul al-Sa’adah dan Tahshil al-Sa’adah, al-arabi menekankan empat jenis sifat utama yang harus mejadi perhatian untuk mencapai kabahagiaan di dunia dan akherat bagi bangsa-bangsa dan setiap warga negara, yakni (1) keutamaan teoritis,yaitu prinsip-prinsip pengetahuan yang diperoleh sejak awal tanpa diketahui cara dan asalnya, juga yang diperoleh dengan kontemplasi, penelitian dan melalui belajar dan mengajar; (2) keutamaan pemikiran, adalah yang memungkinkan oranghal-hal yang bermanfaat dalam tujuan. Termasuk dalam hal ini, kemampuan membbuat aturan-aturan, karena itu disebut keutamaan jenis ini dengan keutamaan pemikiran budaya (fadha’il fikriyyah madaniyyah);(3) keutamaan akhlak, bertujuan mencari kebaikan. Jenis keutamaan ini berada di bawah dan menjadi syarat keutamaan pemikiran. Kedua jenis keutamaan tersebut, terjadi dengan tabiatnya dan bisa juga terjadi dengan kehendak sebagai penyempurna tabiat atau watak manusia; (4) keutamaan amaliah, diperoleh dengan dua cara, yaitu pernyataan-peryataanyang memuaskan dan merangsang. Cara lain adalah pemaksaan.
Selain keutamaan di atas, al-Farabi menyarankan agar bertindak tidak berlebihan yang dapat merusak jiwa dan fisik, atau mengambil posisi tengah-tengah. Hal itu dapat ditentukan dengan memperhatikan zaman, tempat, dan orang yang melakukan hal itu, serta tujuan yang dicari, cara yang digunakan dan kerja yang memenuhi semua syarat tersebut. Berani misalnya, adalah sifat terpuji yang terletak diantara dua sifat tercela, membabi buta (tahawwur) dan penakut (jubn). Kemurahan (al-karam) terletak antara dua sifat tercela, kikir dan boros (tabdzir) Memelihara kehormatan diri (iffah) terletak antara dua sifat tercela, keberandalan (khala’ah) dan tidak ada rasa kenikmatan.
H. Teori Pengetahuan

Al-Farabi berpendapat bawa jendela pengetahuan adala indera, sebab pengetahuan masuk ke dalam diri manusia melalui indera. Sementara pengetahuan totalitas terwujud melalui pengetauan parsial, atau pemahaman universal merupakan asil penginderaan terhadap hal-al yang parsial. Jiwa mengetahui dengan daya. Dan indera adalah jalan yang dimanfaatkan jiwa untuk memperoleh pengetahuan kemanusiaan. Tetapi pengetahuan inderawi tidak memberikan kepada kita informasi tentang esensi segala sesuatu, melainkan hanya memberikan sisi lahiriah segala sesuatu. Sedangkan pengetahuan universal dan esensi segala sesuatu hanya dapat diperoleh melalui akal.
Menurut al-Farabi, di dalam manusia terdapat suatu kesiapan dan persiapan fitrah untuk membebaskan totalitas dari gambaran-gambaran inderawi yang bersifat parsial dan tersimpan di dalam daya fantasi dengan bantuan akal aktif. Sehingga, akal potensial pindah ke akal aktual kemudian ke tingkat akal mustafad, dimana ia membentuk seluruh objek rasional menjadi rasional secara aktual. Dan yang beremanasi kepadanya dari akal aktif adalah suatu daya yang memungkinkannya memahami objek rasional secara langsung.
Menurut al-Farabi, akal aktif mengumpulkan semua gambaranyang ada dalam dirinya, lalu mengirimnya ke alam indera agar mengenakan materi, sebagaimana juga mengirimnya ke akal manusia agar menghasilkan pengetahuan. Diantara gambaran-gambaran yang ada di dalam akal manusia dan gambaran-gambaran di dalam alam indera terdapat kesesuaian universal yang membuat pengetahuan menjadi yaqiniyah (pasti).
Kesesuaian itu dibawa kepusat semua gambar inderawi dan rasional dari akal aktif. Adapun tujuan dari akal manusia adalah kebersambungan dengan akal yang terppisah dan mengidentikkan diri dengannya. Artinya, bahwa pengetahuan yaqiniyah tidak akan dicapai kecuali melalui emanasi yang berasal dari akal aktif sebagai pemberi pengetahuan dan pemberi gambar-gambar. Oleh karena itu ia disebut ma’rifah isyiraqiyah (pengetahuan iluminatif). Ja’far Ali Yasin mengatakan, “seakan-akan dalam proses memahami ini, jiwa memulai dari indera berakhir di balik indera hingga ke tingkat akal mustafad". Kapan saja ia memiliki kesiapan total, maka ia akan ke tingkat akal aktif tanpa perantara. Lalu ia memberikan sebuah daya pemahaman totalitas secara langsung, maka pada saat itu gambar-gambar alam pasial bersepakat dengan objek rasional abstrak dengan alasan bahwa akal aktif adalah yang pertama dan terakdir di dalam pengetahuan menusia ini, baik pengetahuan yang bersifatinderawi maupun rasional.” Dalam hal itu, al-Farabi sangat terpengaruhh oleh aristoteles dan kaum neo-Platonis, dan dia berusaha melakukan penggabungan diantara keduanya. Oleh karena itu, pendapatnya tentang pengetahhuan sama dengan pendapat Aristoteles, sedangkan pendapatnya tentang pengetahuan yang diemanasi dari akal aktif sama dengan pendapat kaum Neo-Platonis.
Falsafah Kenabian Al Farabi
al-Farabi adalah merupakan orang pertama yang membahas tetnag kenabian secara lengkap sehingga penambahan dari orang lain hampir
tidak ada. Total kenabian al-Farabi yang merupakan bagian terpenting dalam
filsafat, ditegakkan atas dasar-dasar psikologi dan metafisika, dan erat
hubungannya dengan lapangan-lapangan akhlak Pada waktu membicarakan negeri
utama dari al-Farabi kita melihat bahwa manusia dapat berhubungan dengan al
aql al fa’āl, meskipun terbatas hanya pada orang tertentu.
Hubungan tersebut bisa ditempuh dengan dua jalan,
yaitu : jalan fikiran dan jalan imajinasi penghayalan), atau dengan perkataan
lain melalui renungan fikiran dan inspirasi (ilham). Sudah barang tentu tidak
semua orang dapat mengadakan hubungan dengan al aql al fa’āl. melainkan
hanya orang yang mempunyai jiwa suci yang dapat menembus dinding-dinding alam
gaib dan dapat mencapai alam cahaya. Dengan melalui renungan-renungan fikiran
yang banyak, seorang hakim (bijaksana) dapat mengalahkan hubungan tersebut dan
orang semacam inilah yang bisa diserahi oleh al-Farabi untuk mengurusi negeri utama
yang dikonsepsikannya itu, Akan tetapi di samping melalui pemikiran hubungan
dengan al aql al fa’āl bisa terjadi dengan jalan imajinasi, dan keadaan
ini berlaku bagi nabi-nabi. Semua ilham dan wahyu yang disampaikan kepada kita
merupakan salah satu bekas dan pengaruh imajinasi tersebut.
Kalau kita
kembali kepada pembahasan psikologi dari al-Farabi maka kita akan mengetahui
bahwa imajinasi memainkan peranan yang penting dan memasuki segi-segi
gejala-gejala psikologis yang bermacam-macam. Imajinasi tersebut erat
hubungannya dengan kecondongan dan perasaan, dan ada pengaruhnya pada gerak
fikiran dan kemauan, serta mengarahkannya kepada arah tertentu. Di samping ini,
imajinasi menyimpan obyek-obyek inderawi dan gambaran-.gambaran alam luar yang
masuk kepada otak melalui indera-indera, Malah kadang-kadang tidak hanya
menyimpan gambar-gambar fikiran tetapi juga membuat gambaran baru sama sekali
yang tidak ada keserupaaanya dengan obyek-obyek inderawi. Di antara gambaran-gambaran
yang baru sama sekali yang diciptakan oleh imajinasi ialah impian-impian.
Dengan demikian maka al-Farabi telah menyebutkan dua macam imajinasi, seperti
yang disebutkan oleh sarjana-sarjana psikologi modern, yaitu imagination
creatrice (imajinasi pencipta), dan imagination conservatrice (imajinasi
penyimpang). Yang penting dalam hubungannya dengan soal kenabian ialah
bagaimana pengaruh imajinasi terhadap impian dan pembentukannya sebab apabila
soal impian ini bisa ditafsirkan secara ilmiah, maka soal kenabian dan kelanjutan-kelanjutannya
bisa ditafsirkan pula Sebagaimana dimaklumi.

kenabian adakalanya terjadi pada waktu tidur ataupun jaga, atau dengan
perkataan lain, dalam bentuk impian yang benar atau wahyu. Perbedaan antara
kedua cara ini bersifat relatif dan hanya mengenai tingkatannya, tetapi tidak
mengenai esensinya (hakikatnya). Impian yang benar tidak lain adalah merupakan
salah satu cabang kenabian yang erat hubungannya dengan wahyu dan tujuannya
juga sama Meskipun berbeda caranya. Jadi apabila kita dapat menerangkan salah
satunya, maka dapat pula kita menerangkan yang lain. Hubungan antara kedua cara
tersebut dijelaskan oleh al-Farabi dalam bukunya Ara’u Ahl Madinah
al-Fadhilah. Kalau imajinasi dapat mengadakan gambaran-gambaran tersebut dengan
bentuk alam rohani. Misalnya orang tidur melihat langit dan orang-orang yag
menempatinya serta meraskan senang terhadap kenikmatan-kenikmatan yang ada di
dalamnya. Di samping itu imajinasi kadang-kadang naik kealam langit dan
berhubungan dengan al aql al fa’āl untuk menerima hal-hal yang
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa khusus atau peristiwa-peristiwa
perorangan, dan dari sini maka terjadilah peramalan.
Hubungan tersebut bisa terjadi di waktu siang atau
pun di waktu malam, dan dengan adanya hubungan ini maka kita dapat menafsirkan
kenabian, karena. hubungan tersebut merupakan sumber impian yang benar dan
wahyu Al-Farabi mengatakan sebagai berikut “jika kekuatan imajinasi pada
seseorang kuat sekali, sedangkan obyek-obyek inderawi yang datang padanya dari
luar tidak mampu menguasai kekuatan tersebut maka sampai menghabiskan
keseluruhannya, dan orang tersebut tidak memakai kekuatan imajinasi itu untuk
kekuatan-kekuatan berfikirnya, melainkan di samping mengahdapi kedua pekerjaan
tersebut masih ada kelebihan yang banyak dan yang dipakai oleh kekuatan
imajinasi untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaannya yang khusus, sedang keadaan
imajinasi ketika menghadapi kedua pekerjaan tersebut pada waktu jaga, sama
dengan keadaan imajinasi ketika terlepas dari jaga yaitu waktu tidur, maka dari
kekuatan imajinasi tersebut yang berhubungan dengan kekuatan al aql al fa’āl ini,
terpantullah gambaran-gambaran yang sangat indah dan sempurna”. Orang yang
melihat hal sedemikian itu mengatakan bahwa Tuhan mempunyai kebesaran yang
agung dan mengagumkan, dan ia melihat perkara-perkara ajaib yang tidak mungkin
sama sekali terdapat pada alam maujud. Apabila kekuatan imajinasi seseorang
telah mencapai akhir kesempurnaan, maka tidak ada kalangannya pada waktu jaga
untuk menerima dari al aql al fa’āl peristiwa-peristiwa sekarang atau
peristiwa-peristiwa mendatang, atau obyek-obyek inderawi yang merupakan
salinannya. Ia dapat pula menerima salinan-salinan dan obyek-obyek fikiran dan wujud-wujud
lain yang mulia dan, melihatnya pula. Dengan adanya penerimaan-penerimaan itu
maka orang tersebut mempunyai ramalan (Nubuwwah) terhadap perkara-perkara
ketuhanan. Ini adalah tingkatan yang paling sempurna yang basa dicapai oleh
kekuatan imajianasi dan dicapai oleh manusia karena kekuatan tersebut Jadi ciri
khas pertama seorang nabi menurut al-Farabi, ialah bahwa ia mempunyai daya
imajinasi yang kuat dan memungkingkan dia dapat berhubungan dengan al aql al
fa’āl, baik pada waktu ia tidur maupun pada waktu ia jaga. Dengan imajinasi
tersebut ia bisa menerima pengetahuan-pengetahuan dan kebenaran-kebenaran yang
nampak dalam bentuk wahyu dan impian yang benar. Wahyu tidak lain adalah
limpahan dari Tuhan melalui al aql al fa’āl. Selain nabi nabi-nabi ada
orang yang kuat daya imajinasinya, tetapi di bawah tingkatan nabi-nabi, dan
oleh karena itu tidak dapat berhubungan dengan al aql al fa’āl, kecuali
pada waktu tidur, dan kadang-kadang mereka sukar untuk dapat mengutarakan apa
yang diketahuinya. Adapun orang awam, maka imajinsinya lemah sekali dan tidak sampai berhubungan dengan al aql al fa’āl baik di waktu malam maupun di waktu siang.






















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Al Farabi Nama lengkapnya adalah Abu Nasir Bin Muhammad Bin Auzalugh Bin Turkhan Beliau memperdalam semua Ilmu yang telah di selidiki Al – Kindi , sehinga tidaklah heran jika paham filsafatnya tidak jauh berbeda dengan filsafatnya Al- Kindi. Perbedaannya hanyalah, bila al- Farabi cenderung kepada sufi ( tasawwuf ) sedang kan al- Kindi tidak. Al- Farabi menjadi besar di mata Dunia , terutama di Dunia Eropa , bukan saja lantaran kemampuan di bidang filsafat , akan tetapi karena ilmu logika ( mantik ) dan metafisika, selain dari pada itu, ia pun mempuyai aliran sendiri dalam ilmu filsafat politik. Juga ia mempuyai keahlian didalam dunia musik yang ia tingkatkan menjadi sebagai ilmu
Menurut penjelasan Al- Farabi , pokok – pokok pembahasan logika ialah untuk memeriksa dan memperbedakan , antara benar dan palsu . penyelidikan ini akan membawa kita pada suatau ilmu, atau pendapat , yang belum kita ketahui . Karena itu , yang menjadi sasaran dalam pelajaran logika adalah memperbedakan baik dan jahat , benar dan salah. Sehingga akhirnya , kita akan sampai pada tahap kesempurnaan . Kesempurnaan dapat membersihkan jiwa – jiwa yang bersih , akan dapat mencapai keberuntungan sempurna dan keputusan yang sebenarnya. Al- farabi tegas menyatakan bahwa logika itu , adalah bagian filsafat dalam arti bukan ilmu yang berdiri sendiri . Pendapat Al- Farabi ini sekarang sudah dibenarkan oleh sarjana barat.
Al- Farabi mengajarkan agar tiap tiap orang mempelajari logika , karena dengan itu , orang dapat membedakan , mana konsepsi yang salah dan mana pula putusan yang tidak benar.





CATATAN PUSTAKA
1. Hasyimsyah Nasution MA. Dr. Filsafat Islam ( Gaya Media Pratama Jakarta, 2002)
2. Mustofa H. Drs. Filsafat Islam (Pustaka Setia Bandung 1997)
3. Ibrahim Madkour, el Farabi dalam MM Sharif 9 ( ed) A history of Muslim Philosophy 1963) .
4. Tj. De Boer , Tarekh al- Falsafah fi al- Islam , terjemahan Arab oleh Abd al Hadi abu raidah 1988.
5. Dewan enseklopedi islam ,Ensiklopedi islam (Jakarta ichtiyar baru van hoeve ,1997)
6. Imam Munawwir ( Pt Bina Ilmu , Surabaya, 2006 )

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tuliskan Komentar Anda disini. jika anda belum mempunyai Google Account atau Open ID, Anda bisa Menggunakan Name/Url (disarankan menggunakan opsi ini) atau Anonimous.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Advertise

Contact Us

n