Wednesday, December 22, 2010

HADITS NABI TENTANG TAUHID


(Studi Kritik Sanad dan Matan atas Hadits riwayat Imam Bukhārī dari Ibnu Abbās)

A.    Pendahuluan
Tauhid merupaka pertama kali yang diajarkan dalam agama Islam. Tauhid merupakan dasar manusi dalam beriman. Maka dari itulah tauhi menempati posisi pertama dalam rukun islam.
Dalam hadis Nabi dikatakan:
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
Dalam makalah singkat ini, penulis akan melakukan kajian terhadap hadits diatas. Kajian tersebut meliputi Takhrīj al-Hadīts, I’tibār al-Sanād, Kritik Sanad (Naqd al-Sanad), dan Kritik Matan (Naqd al-Matn). Harapan penulis, kajian sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua yang berkenan membacanya. Amiin!

B.     Takhrīj al-Hadīts
Sebagai tahap awal dalam kegiatan penelitian sanad maupun matan hadits adalah dengan melalui Takhrīj al-Hadīts, yaitu sebuah penelusuran dan pencarian hadits dari berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan, yang mana didalam kitab tersebut dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadits yang bersangkutan.[1] Dengan kegiatan Takhrīj al-Hadīts ini dapat diketahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti, berbagai periwayat hadis yang meriwayatkan hadis tersebut, dan ada atau tidaknya corroboration (baca: syāhid dan mutābi`) dalam sanad hadis yang sedang diteliti tersebut. Kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.[2]
Setelah dilakukan Takhrīj al-Hadīts, hadits yang diriwayatkan Imam Bukhārī dari Ibnu Abbās di atas diketahui bersumber dari:
1.    Muslim, Bab: al-Dzikr wa al-Du`a wa al-Taubah wa al-Istighfar, no. 4894
2.    Ahmad, Bab: Wa Min Musnad Bani Hasyim, no. 2612
Berikut ini teks hadis berdasar Takhrīj al-Hadīts secara lengkap:
  1.  Hadis riwayat Imam Muslim:
Shahih Muslim, Bab: al-Dzikr wa al-Du`a wa al-Taubah wa al-Istighfar, no. Hadis 4894
حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنِي ابْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

  2.  Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal:
Musnad Ahmad bin Hanbal, Bab: Wa Min Musnad Bani Hasyim, no. hadis 2612
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا تَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

C.     I’tibār al-Sanad
Menurut bahasa, al-I`tibār adalah peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis. Sedangkan menurut menurut istilah ilmu hadis, al-I’tibār berarti menyertakan sanad-sanad hadis yang lain atas suatu hadis tertentu, yang mana hadis tersebut pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat lain atau tidak.[3]
Jadi, kegunaan al-I’tibār adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung (corroboration) berupa periwayat yang berstatus syāhid atau mutābi`. Syāhid adalah periwayat yang berstatus pendukung untuk sahabat Nabi, sedangkan mutābi adalah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi.[4] Dalam kegiatan  I’tibār  ini,  untuk lebih memperjelas dan mempermudah maka dibantu dengan menggambar sebuah skema periwayatan hadits. Adapun skema periwayatan tersebut dapat dilihat pada bagian lampiran.
Setelah dilakukan I’tibār melalui penggambaran skema hadits, langkah selanjutnya adalah mencari periwayat yang berstatus sebagai Syāhid dan Muttabī’. Dalam penelitian hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas ini, peneliti tidak menemukan adanya Syāhid. Sedangkan mengenai muttabī’¸ peneliti menemukan adanya dua kelompok muttabī’. Pertama, Abu Ma`mar, yang merupakan periwayat kedua (tingkat tabi`it tabi`in) hanya memiliki satu muttabī’, yaitu Abdus Shamad.yang merupakan periwayat kedua dari jalur Ahmad bin Hanbal. Muttabī’ kedua adalah Ahmad bin Hanbal dan  Hajjaj bin Yusuf, keduanya merupakan muttabī’ dari Bukhori yang merupakan mukhārij hadits.
Demikianlah mengenai syāhid atau mutābi` dalam hadits riwayat Bukhari ini. Dilihat dari skema sanad hadis tersebut, dapat dikatakan bahwa melihat pada thabaqat pertama sampai thabaqat kelima, hadits riwayat Bukhari ini termasuk kategori Hadits Gharīb, karena hadis ini diriwayatkan oleh hanya satu orang.[5] Sedangkan jika melihat dari thabaqat selanjutnya, karena terdapat dua orang atau lebih dalam masing-masing thabaqat, maka hadis ini termasuk hadis `Azīz.[6]














D.    Kritik  Sanad
1.      Skema Sanad Hadits
Berikut ini adalah skema sanad hadits tentang Tauhid yang diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dari Ibnu Abbās,:
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
Rounded Rectangle: رَسُولَ اللَّهِ 

Rounded Rectangle: ابْنِ عَبَّاسٍ                                    يقول

Rounded Rectangle: يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ                                     عن

Rounded Rectangle: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ                            عن, حدثني

Rounded Rectangle: حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ                          حدثني, حدثنا

Rounded Rectangle: عَبْدُ الْوَارِثِ                                   حدثنا

Rounded Rectangle: أَبُو مَعْمَرٍ                                   حدثنا


 

Rounded Rectangle: بُخَارِى                                   حدثنا


Hadis tentang Tauhid yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbās ini memiliki tujuh orang periwayat. Adapun urutan nama-nama periwayat dan sanad hadisnya adalah sebagaimana berikut ini:

No
Nama Periwayat
Urutan Periwayat
Urutan Sanad
1
Ibnu Abbās
Periwayat I
Sanad VII
2
Yahya bin Ya`mar
Periwayat II
Sanad VI
3
Ibnu Buraidah
Periwayat III
Sanad V
4
Husain al-Mu`allam
Periwayat IV
Sanad IV
5
`Abdul Wārits
Periwayat V
Sanad III
6
Abu Ma`mar
Periwayat VI
Sanad II
7
Imam Bukhari
Periwayat VII/ mukharrij
Sanad I/ mukharrij

2.      Kualitas Perawi Hadits
Hadits tentang Tauhid yang diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dari Ibnu Abbas di atas mempunyai tujuh orang perawi. Adapun urutan perawi hadits di atas adalah sebagai berikut: Perawi pertama adalah Ibnu Abbas, perawi kedua adalah Yahya bin Ya`mar, perawi ketiga adalah Ibnu Buraidah, perawi keempat adalah Husain al-Mu`allam, perawi kelima adalah `Abdul Warits, perawi keenam adalah Abu Ma`mar dan perawi ketujuh adalah Imam Bukhārī yang juga berkedudukan sebagai Mukharrij Hadits.
Berikut ini adalah sedikit paparan riwayat hidup dan penilaian para ulama mengenai kredibilitas para perawi hadist tersebut.
a)      Ibnu Abbas
Nama lengkap beliau adalah Abdullah ibn Abbas ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ibn Abdul Manaf ibn Qushay al-Quraisyi al-Hasyimi. Beliau lebih dikenal dengan kunyahnya, yaitu  Ibnu Abbas. Beliau lahir 3 tahun sebelum hijrah di Syi’b. Ada perbedaan pendapat mengenai pengertian dari syi’b itu sendiri, di antaranya: sebuah jalan dalam gunung, tanah terbuka di antara dua gunung, gunung di Yamamah, dsb.[7] Ada perbedaan pendapat mengenai usia Ibnu Abbas ketika Rasulullah SAW wafat, ada yang berpendapat 10 tahun, 13 tahun, bahkan 15 tahun. [8] Abdullah ibn Abbas wafat dalam usia 70 tahun pada tahun 68 Hijrah di Thaif.[9] Beliau juga mempunyai gelar al-Hibru dan al-Bahru karena keluasan ilmu yang dimilikinya.
Di antara guru-guru dari Ibnu Abbas: Nabi Muhammad SAW, Abbas bin Abdul Muthalib, Khulafa’ Rasyidin, Abbas bin Abdul Muthalib, Ubay bin Ka’ab, Khalid bin Walid, Abdurrahman bin ‘Auf, Mu’adz bin Jabal, ‘Ammar bin Yasir, Muawiyah bin Abi Sufyan, Aisyah, Abu Sa’id al-Khudry, Usamah bin Zayd, Buraydah bin al-Hushayb al-Aslamiyi, Tamim ad-Dārry, Husain bin ‘Auf al-Khats’amy, Haml bin Malik bin al-Nabighah al-Hudzaily, Sa’d bin ‘Ubadah, ash-Sha’b bin Jatsamah, al-Fadhl bin Abbas, Ka’b al-Ahbar, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Sufyan bin Harb, Abu Thalhah al-Anshary, Abu Hurairah, Asma’ binti Abu Bakar, Juwairiyah binti Harts, Saudah binti Zam’ah, Lubabah binti Harits, Maimunah binti Harits, Ummu Salamah, Ummu Hani’ binti Abu Thalib.[10]
Sedangkan murid-murid beliau diantaranya adalah: Mujahid bin Jabir, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Thawus bin Kīsān, al-Yamany, ‘Atho’ bin Abi Rabah, al-Arqam bin Syurahbil, Anas bin Malik, Yahya bin Ya`mar, Ishaq bin Abdullah bin kinanah, Habib bin Abi Tsabit, al-Dhahhak bin Muzahim, Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad, bin Abbas, Arbidah al-Tamimy, Abu Umamah As’ad bin Sahl bin Hunaif, Ismail bin Abdurrahman al-Saddy, Anas al-Bashry, Abu al-Jauza’ Aus bin Abdullah al-Raba’i, Abu Tsabit Ayman bin Tsabit, Abu Shalih Bādzām, Bajālah bin Abdah al-Tamimy, Barakah Abu al-Walid al-Mujāsyi’i, Bakr ibn Abdullah al-Muzanny, Tsa’labah bin al-Hakam al-Laytsi, Jabir bin Yazid, Hujr bin Qays al-madary, Hasan bin Hasan al-Bashry, Hasan bin Sa’d, Hasan al-‘Urani, Hakam bin A’raj, Humaid bin Abdurrahman bin Auf, Khalid bin Lajlāj, Ziyad Abu Yahya, Sa’d bin Hisyam bin ‘Amir al-Anshary, Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf, Abdullah bin Khalil al-Hadramy, Abdullah bin Hunain, Abu al-Walid Abdullah bin Harits, Abdullah bin Harits bin Naufal, Abdullah bin Badr al-Yamamy, ‘Amr bin Syarāhil, Abdurrahman bin ‘Alqam, Abdul Aziz bin Qays al-Bashry, dll.[11]
Karena tidak ditemukan adanya penilaian tajrih terhadap Ibnu Abbas, selain itu beliau juga masuk ke dalam golongan sahabat, maka kredibilitasnya tidak diragukan lagi.[12] Dengan demikian beliau termasuk perawi yang tsiqat dan dapat diterima periwayatannya.

b)     Yahya bin Ya`mar
Beliau bernama lengkap Yahya bin Ya`mar al-Bashri al-Qoisiy, dengan julukan Abu Sulaiman atau Abu Said.[13] Ada juga yang menjulukinya dengan Abu `Adiy al-Qoisyi al-Jadali.[14] Beliau termasuk dari golongan Tabi`in pertengahan. Mengenai informasi kelahirannya, peneliti belum menemukan keterangan lebih lanjut. Sedangkan untuk waktu kewafatannya, terdapat berbagai pendapat. Abu al-hasan `Ali bin al-Atsir al-jazri, dalam kitab al-Kamil, mengatakan: Beliau (Yahya bin Ya`mar) meninggal pada tahun 129 H, dan pendapat ini masih diperdebatkan. Yang lain mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 120-an H. Abu al-Farj Ibnu al-Jauz berkata: Beliau wafat pada tahun 89 H.[15]
Beliau meriwayatkan dari banyak guru. Diantara guru-guru beliau adalah: Jabir bin Abdullah, Sulaiman Bin Surad, Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amar bin Yasir, an-Nu`man bin Basyir, Abi al-Aswad ad-Daili, Abi Dzar al-Ghifari, Abi Said al-Khudri, Abu Musa al-Asy`ari, Abu Hurairah, `Aisyah Ummu al-Mukminin,[16] dan segolongan (yang lainnya).
Para rawi yang pernah meriwayatkan dari  beliau diantaranya adalah: al-Azraq bin Qois, Ishaq bin Suwaid al-`Adawy, Tsabit Abu Said, Habib bin Atho`, al-Rakin bin al-Rabi`, Sulaiman bin Buraidah, Sulaiman al-Taimiy, Abdullah bin Buraidah, Abdullah bin Quthbah (salah satu penulis mushaf), Abdullah bin Kulaib as-Sadusiy, Abu al-Munib Ubaidullah bin Abdullah al-`Ataki, `Atho` al-Khurasaniy, Ikrimah (Tuannya Ibnu Abbas), `Umar bin `Atho` bin Abi al-Khuwar, Qatadah, Yahya bin Abi Ishaq al-Hadhrami, Yahya bin `Aqil, dan lainnya.[17]
Penilaian para ulama terhadap pribadi Yahya bin Ya`mar adalah sebagai berikut:
Ø  Abu Zur`ah, Abu Hatim, An-Nasa`i: Tsiqoh
Ø  Husain bin Wali an-Naisaburi dari Harun bin Musa: Orang yang pertama kali memberikan titik pada mushaf adalah Yahya bin Ya`mar.
Ø  Qais bin Rabi` dari Abdul Malik bin `Amir: Orang fasih diantara manusia itu ada tiga, yaitu musa bi Thalhah, Yahya bin Ya`mar dan Qabishah bin Jabir.
Ø  Ibnu Hibban memasukkanya (Yahya bin Ya`mar) dalam kategori ats-Tsiqāh, dan berkata: Beliau termasuk orang yang fasih di masanya, orang yang banyak mengetahui tentang ilmu al-lughat serta orang yang sangat wira`i. Beliau juga seorang Qadhi di Marwi, dan merupakan budak dari Qutaibah bin Muslim.
Ø  Ibnu Sa`id: Beliau merupakan ahli nahwu, menguasai Ilmu Arabiy dan al-Qur`an. Dan termasuk orang yang tsiqat.
Ø  Al-Hakim: Yahya bin Ya`mar adalah seorang Faqīh, ahli nahwu, tabi`iy, banyak meriwayatkan dari para tabi`in, belajar nahwu pada Abu al-Aswad ad-Daili, seorang Qadhi di berbagai negara dimana dia berpindah-pindah, dan merupakan budak Qutaibah bin Muslim.
Dari beberapa penilaian ulama terhadap Yahya bin Ya`mar di atas, dapat dipastikan bahwa beliau merupakan rawi yang mempunyai kredibilitas. Hal tersebut bisa dilihat dari tidak adanya ulama yang memberikan penilaian negatif terhadap beliau.

c)      Ibnu Buraidah
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Buraidah bin al-Hashib bin Abdullah bin al-Hārits bin al-A`raj bin Sa`d Razah bin `Adiy bin Sahm bin Māzin bin al-Hārits bin bin Salāmāan bin bin Aslam bin Aqsha bin Hāritsah bin Amr bin Amir al-Hafidz Abu Sahl al-Aslami al-Maruzi[18] al-Bashri.[19] Beliau merupakan saudara (kakak) dari Sulaiman bin Buraidah. Beliau lahir pada masa pemerintahan Umar, hidup selama 100 tahun dan wafat pada tahun 115 H. Beliau termasuk golongan pertengahan dari tabi`in, dan sangat terkenal dengan keilmuannya. Dikatakan bahwa beliau pernah bertemu (semasa) dengan Ibnu Mas`ud. Dikatakan pula bahwa beliau disepakati atas ke-hujjah-annya.
Diantara para rawi yang pernah menjadi gurunya adalah: Ayahnya sendiri (al-Hashib), A`isyah, Samrah bin Jundab, Imran bin Hashin, Abu Musa al-Asy`ari, Abu al-Aswad Dzalim ad-Daili, Yahya bin Ya`mar,[20] Mughirah bin Syu`bah dan Abdullah bin Mughaffal.[21]
Sedangkan para rawi yang pernah meriwayatkan darinya adalah: Sa`id al-Jariri, Husain al-Mu`allam, Kahmas bin al-Hasan, Mu`awiyyah bin Abdul Karim al-Tsaqafi, Malik bin Maghul, al-Husain bin Waqid, Maqatil bin Hayyan, Ajlih al-Kindi, dan banyak lainnya.
Beberapa penilaian ulama terhadap beliau diantaranya:
Ø  Abu Hatim: Tsiqah
Ø  Ibnu Hanbal: Sulaiman lebih Tsiqah daripada saudaranya, Abdullah. Namun Bukhari tidak sedikitpun meriwayatkan darinya.
Penilaian ulama terhadap Ibnu Buraidah tersebut menunjukkan bahwa beliau termasuk perawi yang dapat diterima periwayatannya. Hal tersebut berdasarkan tidak adanya ulama yang men-Tajrih-nya.

d)     Husain al-Mu`allam
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah al-Husain bin Dzakwan[22] al-Mu`allim al-Muktab al-`Audzi al-Bashri.[23] Beliau termasuk tokoh besar Imam hadits. Beliau diperkirakan wafat pada tahun 150-an H dan ada  juga yang berpendapat tahun 145 H, seperti an-Nasa`i.
Beliau pernah meriwayatkan dari banyak guru, diantara guru-guru beliau adalah: Abdullah bin Buraidah, Atho` bin Abi Rabah, Badil bin Maisarah, Amr bin Syu`aib, Yahya bin Abi Katsir, Qatadah, dan lainnya.[24] Sedangkan murid-muridnya yang pernah meriwayatkan darinya adalah: Ibrahim bin Thahman, Abdullah bin al-Mubarak, Ghundar, Abdul Wārits bin Sa`id, Yahya bin Sa`id al-Qatthan, Yazaid bin Zurai`, Rauh bin Ubadah, dan lainnya.
Penilaian ulama terhadap beliau diantaranya:
Ø  Abu Hatim al-Razi dan an-Nasa`i: Tsiqah
Ø  Abu Zur`ah: La ba`sa bih
Ø  Yahya bin Mu`in: Tsiqah
Ø  Abdurrahman dari Ayahnya (Abu hatim): Tsiqah[25]
Ø  Al-`Uqaili memasukkanya dalam kitab al-Dhu`afa dengan tanpa penyandaran, dan berkata: Beliau termasuk Mudhtharib al-Hadits.
Dari penilaian yang diberikan ulama terhadap pribadi Husain al-Mu`allim dapat dipastikan bahwa beliau adalah perawi yang tsiqah, dan diterima periwayatannya.

e)      `Abdul Warits
Nama lengkapnya adalah Abdul Warits bin Sa`id bin Dzakwan al-Tamimi al- `Anbari. Nama kuyah beliau adalah Abu Ubaidah al-Dhariri al-Bashri. Nasab beliau adalah al-`Anbari al-Tanawwuri. Beliau bermukim di Bashrah dan wafat di sana pada tahun 180 H.[26] Ibnu Sa`id mengatakan bahwa Abdul Warits meninggal pada bulan Muharram, berbeda dengan Ubaidullah yang mengatakan bahwa beliau (Abdul Warits) meninggal pada akhir bulan Dzulhijjah dalam usia 79 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau wafat dalam usia 78 lewat beberapa bulan.[27]
Diantara guru-guru beliau adalah: Abdul `Aziz bi Shuhaib, Syu`aib bin Habhāb, Abi al-Tiyah, Yahya bin Ishaq al-Hadhrami, Sa`id bin Jamhan, Ayub al-Sukhtiyani, Ayub bin Musa, al-Ju`d bin Utsman, Daud bin Abi Hindin, Khalid al-Hadza`, Husain al-Mu`allam, Sa`id al-Jariri, Sa`id bin Abi `Arubah, Sulaiman al-Tamimi, Abdullah bin Suwadah al-Qusyairi, `Azrah bin Tsabit, Abdullah bin Abi Najih, Ali bin al-Hakam al-Banani, al-Qasim bin Mahran, Qathan bin Ka`b al-Khaza`i, Muhammad bin Juhadah, Katsir bin Syandzir, Yazid al-Rask, Yunus bin Ubaid, Abi `Isham al-Bashri dan lainnya.
Sedangkan diantara murid-muridnya yang pernah meriwayatkan darinya adalah: al-Tsauri, Abdu al-Shamad, Affan bin Muslim, Mu`ali bin Manshur, Abu Salamah, Musaddad, `Arim, Abu Ma`mar al-Maq`ad, Abdurrahman bin al-Mubarak al-`Aisyi, Hibban bin Hilal, Azhar bin Marwan, Hamid bin Mas`adah, Abu `Ashim al-Nabil, Ubaidullah bin Umar al-Qawariri, Imran bin Maisarah, Qutaibah, Yahya bin Yahya al-Naisaburi, Yusuf bin Hammad al-Ma`ni, Syaiban bin Furukh, Abu al-Rabi` al-Zahrani, Ali bin al-Madini, Basyar bin Hilal, Ishaq bin Abi Israil, dan yang lainnya.
Kualitas pribadi beliau dapat dilihat dari penilaian para ulama terhadap beliau sebagai berikut[28]:
Ø  Ahmad: Badul Warits lebih shahih hadisnya dari Husain al-Muallam, dan beliau adalah orang yang Shalih dalam hadits.
Ø  Abu Umar al-Jarmiy: Aku tidak melihat seorang faqih yang lebih shahih darinya (Abdul Warits) kecuali Hammad bin Salamah.
Ø  Abu Zur`a: tsiqah
Ø  Abu Hatim: shaduq
Ø  Ibnu Sa`id: tsiqah hujjah
Ø  Utsman ad-Darimi dari Ibnu Ma`in: Beliau (Abdul Warits) seperti Hammad bin Zaid.
Ø  Al-Sajiy: Beliau termasuk orang Qadariy. Mutqinun (terpercaya) dalam hadits.
Ø  Ibnu Ma`in: tsiqah, hanya saja beliau pemikirannya Qadariy.
Dari beberapa penilaian ulama terhadap pribadi Abdul Warits di atas, tidak ditemukan adanya penilaian yang nedatif. Ini mengindikasikan bahwa beliau termasuk perawi yang tsiqah dan periwayatannya dapat diterima.

f)       Abu Ma`mar
Beliau bernama lengkap Abdullah bin Amr bin Abi al-Hajjaj Maisarah Abu Ma`mar al-Maq`adi al-Tamimi al-Minqariy al-Bashri. Lebih dikenal dengan kunyahnya, yaitu Abu Ma`mar. Beliau termasuk pembesar dari Tabi`i at-Tabi`in. Beliau wafat pada tahun 224 H.[29]
Beliau banyak meriwayatkan dari sekian banyak guru-gurunya, diantaranya adalah: Jarir bin Abdul Hamid, Abi al-Ashab Ja`far bin Hayyan al-Utharidi, al-Rabi` Abi Muhammad, Abi Zubaid `Abtar bin Qashim, Abdullah bin Ja`far al-Madini, Abdul Aziz bin Muhammad  al-Darawardi, Abdul Warits bin Sa`id, Abdul Wahhab al-Tsaqafi dan Mulazim bin Amr al-Hanafi.
Dan diantara murid-muridnya adalah: al-Bukhari, Abu Daud, ibrahim bin Harb al-Askari, Ibrahim bin Sa`id al-Jauhari, ibrahim bin Abdullah bin Junaid, Ahmad bin al-Hasan bin Hirasy, Ahmad bin Hafs as-Sa`di, Ahmad bin Muhammad bin Isa al-Barqi al-Qadhi, Ahmad bin Manshur al-Ramādi, Ishaq bin al-Hasan al-Harbi, Ja`far bin Muhammad bin Abi Utsmanal-Thayalisi, Hajjaj bin al-Syā`ir, Abbas bin Qaraj al-Riyasyi al-Nahwiy, Abbas bin Muhammad al-Dauri, Abdullah bin Abdurrahman al-Darimi. Abdullah bin Muhammad bin al-Hajjaj bin Abi Utsman al-Shawaf, Abdus Shamad bin Abdul Warits bin Sa`id, Abu Darda` Abdul Aziz bin Munib al-Mawarzi, Abdul Warits bin Abdus Shamad bin Abdul Warits Bin Sa`id, Abu Zur`ah Ubaidullah bin Abdul Karim al-Razi, Ubaidullah bin Fudhalah bin Ibrahim an-Nasa`i, Utsman bin Khurrazad al-Anthaqiy, Uqbah bin Mukram al-`Ami, Ali bin al-Hasan bin Abi Isa al-Hilali, Imran bin Musa bin Mujāsya` al-Syakhtiyani, al-Fath bin Nuh an-Naisaburi, al-Fadhl bin Sahl al-A`raj, Abu Hatim Muhammad bin Idris al-Razi, Muhammad bin Ishaq al-Shāghāniy, Muhammad bin al-Husain al-Burjulaniy, Muhammad bin Shalih al-Anmāthiy, Muhammad bin Ali bin Maimun al-`Athar al-Raqiy, Muhammad bin Muslim bin Wārah al-Rāziy, Muhammad bin Yahya al-Dahliy, Abu al-Ahwash Muhammad bin al-Haitsam bin Hammād Qadhu `Ukbara, Yahya bin Mu`alla bin Manshur al-Raziy, Abu Yusuf Ya`qub bin Ishaq al-Qalusiy, Ya`qub bin Syaibah al-Sadusiy, Yusuf bin Abdul Malik al-Wasithiy (saudara Muhammad bin Abdul Malik al-Daqiqiy), dan Yusuf bin Musa al-Qatthan.[30]
Penilaian para ulama terhadap beliau, diantaranya adalah:
Ø  Abu Bakr bin Abu Khaitamah dari Yahya bin Ma`in berkata: Abu Ma`mar adalah sahabat Abdul Warits yang tsiqah dan tsabt.
Ø  Ibrahim bin Abdullah bin Junaid dari Yahya bin Ma`in: Tsiqah, Nābil dan `Aqil.
Ø  Ya`qub bin Syaibah: Beliau adalah Tsiqah, Tsabt, dan Shahihul kitab.
Ø  Ali al-Madaniy: Aku telah menulis kita-kitab Abdul Warits dari Abdus Shamad, dan aku malu untuk menulisnya dari Abi Ma`mar.
Ø  Al-Ajaliy: Tsiqah.
Ø  Abu Hatim: Shaduq, Mutqinun, Qawiyyul Hadits.
Ø  Abdurahman bin Yusuf bin Khirasy: Beliau adalah orang yang Shaduq dan kredibel.
Ø  Abdurahman bin Abi Hatim dari Abi Zur`ah: Beliau adalah Tsiqah dan Hafiz.
Berdasarkan data penilaian para ulama terhadap Abdul Warits di atas, penulis berkesimpulan bahwa Abdul Warits termasuk perawi yang kredibel dan diterima periwayatannya.
g)      Imam Bukhārī
Imam Bukhārī bernama lengkap Muhammad bin Ismā’īl bin Ibrāhīm bin al-Mughīrah bin al-Bardizbah (194/256 H/819-879 M), dalam riwayat lain dikatakan al-Bazrawīh, atau lebih lengkapnya lagi Muhammad bin Ismā’īl bin Ibrāhīm bin al-Mughīrah bin al-Bardizbah ibn al-Ahnaf al-Ju’fī al-Bukhārī.[31] Nama Bardizbah berasal dari nama pendahulunya yang beragama Majusi[32], sementara nama al-Ju’fī dinisbatkan pada kebesaran kakeknya al-Mughīrah yang menjadi Islam di bawah bimbingan (mawlā) Yaman al-Ju’fī, gubernur Bukhāra saat itu. Beliau lahir di Bukhāra pada tanggal 13 Syawwāl 194 H (21 Juli 819 M) dan meninggal di tempat yang sama pada tanggal 30 Ramadlān 256 H (31 Agustus 879).[33]
Imam Bukhāri berkelana untuk memperdalam hadis ke berbagai daerah diantaranya Hijāz, Syām, Khurasan, Mesir dan dia bertemu dengan para Muhadditsīn al-Amshār, beliau berguru pada Makki bin Ibrahim al-Bulkhī, ‘Abdān bin ‘Usmān al-Marūzī, Abū ‘Āshim al-Syaibān, Muhammad bin Yūsuf al-Faryābī, Abū Nu’aim al-Fadhl bin Dikkīn, Ahmad bin Hanbāl.[34] Abu Ma`mar, Ibrāhīm bin Mūsā al-Razi, Ahmad bin Muhammad al-Azrāqi, Sa’id bin Sulaiman al-Wasiti, Sulaimān bin Harb, Sulaiman bin Abdurrahman al-Dimasyqi, Abdullāh bin Muhammad al-Ju’fi al-Musnadi, Abu Mughīrah Abdul Qudūs bin Hujjaj al-Khaulāni, Ubadillah bin Musa, Ali bin al-Madini, Muhammad bin Sa’īd bin al-Asbahāni, Muhammad bin Abdullāh bin Numair, Yahya bin Abdullāh bin Bukair, dan Yahya bin Ma’īn.[35]
Sedangkan beberapa muridnya yaitu al-Turmudzi, Ibrāhim bin Ishāq al-Harbi, Ibrāhīm bin Mūsa al-Jauzi, Abu Bakar Ahmad bin Amr bin Abi ‘Āshim, Ahmad bin Muhammad bin Jalīl, Ishak bin Ahmad bin Khalāf al-Bukhārī, Abu Sa’īd Bakar bin Munīr bin Khulaid bin ‘Askar al-Bukhārī, Abu Yahyā Zakariyā bin Yahyā al-Bazzaz, Sulaim bin Mujāhid bin Ya’is al-Kirmāni dll.
Adapun mengenai kepribadian beliau, para ulama memberikan beberapa penilaiann diantaranya:
Ø  Ahmād bin Siyār al-Marūzi: “Muhammad bin Ismā’īl adalah seorang pencari ilmu, suka bergaul dengan sesama, berkonsentrasi pada keilmuan hadis, menguasai berbagai keilmuan, dan ahli Hifdz.[36]
Ø  Amr bin Ali: sesuatu yang tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismāil (Imam Bukhāri) bukanlah hadits.[37]
Ø  Abu Mus’ab: Muhammad bin Ismā’il adalah seorang ahli Fiqh dan hadits.
Ø  Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullāh bin Numair: Kami belum pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ismā’il.
Ø Ibnu Huzaimah  : Tidak ada yang lebih tahu dan hafal hadis selain dia.
Ø Ibnu Sholah: Ia bergelar Amir al-Mukminin dalam hadis.
Ø Ahmad ibn Sayyar: Ia adalah penuntut dan pengembara dalam mencari hadis.
Ø Ibnu Hibban: Ia seorang yang tsiqat.
Ø Sam’any: Ia seorang imam mufin.[38]
Dari penilaian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa Imam Bukhārī termasuk periwayat yang berkualitas dan dapat diterima periwayatannya. Apalagi beliau telah menyusun kitab Shahīh Bukhārī yang notabene merupakan kitab yang memuat hadits-hadits shahīh. Bahkan Kitab ini merupakan kitab induk yang menempati urutan pertama dikalangan orang islam (Madzhab Sunnī).

3.      Persambungan sanad
M. Syuhudi Ismail mengatakan bahwa persambungan sanad suatu hadits dapat didasarkan pada tiga kategori. Pertama, seluruh periwayat hadits bersifat tsiqah. Kedua, tidak terbukti melakukan Tadlīs (menyembunyikan cacat). Ketiga, periwayatan dikatakan sah apabila berdasarkan ketentuan sigat at-Tahammul wa al-Adā’ al-Hadīts (penerimaan dan penyampaian suatu hadits).[39]
Dengan melihat riwayat hidup para perawi hadits serta bentuk at-Tahammul wa al-Adā’ al-Hadīts yang digunakan, dapat dipastikan bahwa sanad dalam hadits ini bersambung. Seluruh perawi (mulai dari Bukhari sampai Rasulullah) memiliki relasi antara guru dan murid. Dan shighat at-Tahammul wa al-Adā’ al-Hadīts yang digunakan adalah peringkat tetinggi, yaitu al-sama`.[40]

4.      Kemungkinan terhindar dari Syużuż  dan ‘Illāh
Kegiatan penelitian sanad masih belum dinyatakan selesai bila penelitian tentang kemungkinann adanya  Syużuż dan ‘Illāh belum dilaksanakan.[41] Hadits syużuż adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, namun riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh periwayat-periwayat lain yang tsiqah pula. Dari sini dapat ditegaskan bahwa kemungkinan suatu sanad mengandung Syużuż  adalah bila sanad yang diteliti lebih dari satu buah. Salah satu langkah untuk mengetahui apakah didalam hadits terdapat Syużuż atau tidak adalah dengan membandingkan semua sanad atau jalur periwayatan.
Sedangkan yang dimaksud ‘illat adalah cacat yang tersembunyi yang tidak terlihat secara langsung dalam penelitian terhadap satu jalur sanad. Untuk meneliti sanad hadits yang mengandung ‘illat (cacat) diperlukan penelitian yang lebih cermat, sebab hadits yang bersangkutan sanadnya tampak berkualitas shahih. Cara menelitinya adalah dengan membandingkan semua sanad yang ada untuk matan yang memiliki tema yang sama.[42]
Hadits diatas jika dibandingkan dengan redaksi matan hadits dari jalur periwayatan yang lain, maka hadits yang bertemakan Tauhid ini memiliki beberapa variasi matan, yaitu:


No
Sumber
No Hadits
Redaksi Matan Hadits
1
Shahih Bukhari
6835
أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
2
Shahih Muslim
4894
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
3
Musnad Ahmad
2612
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا تَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

Setelah melihat variasi redaksi matan hadits diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hadits tentang tauhid tersebut diriwayatkan secara makna (al-Riwāyah bi al-Ma’nā). Karena perbedaan yang ada tidak merubah dari esensi makna hadits tersebut, apalagi hadits ini didukung oleh hadits-hadits dari jalur lain yang berderajat sāhih, jadi variasi redaksi matan tersebut masih dapat diterima dan hadits ini dapat diamalkan.

5.      Simpulan  Kritik Sanad
Setelah melakukan kajian dan penelitian terhadap hadits riwayat Imam Bukhārī dari Ibnu Abbas tersebut bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh periwayat-periwayat yang tsiqah dan terpercaya. Disamping itu juga bahwa sanad hadits ini mulai Mukharrij hadits sampai Rasulullah memiliki ketersambungan sanad yaitu hubungan antara guru dan murid. Hadits ini juga terhindar dari adanya Syaż dan ‘Illat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadits tentang Tauhid yang diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dari Ibnu Abbas adalah berkualitas Shahīh sanadnya.



E.     Kritik Matan hadits
Setelah melakukan kritik sanad hadis (kritik eksternal/an-naqd al-khariji), langkah selanjutnya adalah melakukan kritik matan hadis. Kritik matan ini baru mempunyai arti apabila sanad hadis yang bersangkutan telah diketahui secara jelas dan memenuhi syarat.[43] Itulah mengapa ulama hadis mendahulukan kritik sanad daripada kritik matan. Mengenai sanad hadis yang bersangkutan yakni hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas, telah diketahui dengan jelas bahwa kualitasnya  shahih. Akan tetapi, kualitas sanad tidak selalu sejalan dengan kualitas matan.[44] Selain itu juga mungkinkan terjadi kesenjangan kualitas sanad dengan matan hadis.[45] Maka  untuk mengetahui kualitas hadis secara keseluruhan dibutuhkanlah adanya penelitian  matan.
Para ulama merumuskan beberapa tolok ukur yang dapat digunakan dalam melakukan kritik terhadap matan hadits. Shalāhuddīn al-Adlābi menyimpulkan bahwa tolok ukur untuk penelitian matn (ma`asyir naqd al-matn) ada empat macam, yaitu:[46]
                         1.  Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’ān.
                         2.  Tidak bertentangan dengan hadits yang lebih kuat.
                         3.  Tidak bertentangan dengan logika dan fakta sejarah.
                         4.  Susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian.
Untuk tolok ukur yang pertama, yaitu tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur`an, peneliti berasumsi bahwa hadis Tauhid ini tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur`an  karena al-Qur`an sendiri mengajarkan tentang ke-tauhid-an. Dalam al-Qur`an banyak sekali kita jumpai ayat-ayat yang berbicara tentang tauhid (ke-Esa-an Allah). Diantaranya adalah firman Allah:
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ   ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ  
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."[47]

Ayat ini menyuruh manusia untuk bertauhid, meng-Esakan Allah. Sebagian ulama tafsir menyebut surat al-Ikhlas dengan surat al-Tauhid karena didalamnya mengandung pelajaran tentang ke-tauhid-an. Dan tidak mungkin ayat ini akan bertentangan dengan ayat lainnya. Dalam ayat lain Allah berfirman:
óOn=÷æ$$sù ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) ª!$# öÏÿøótGó$#ur šÎ7/Rs%Î! tûüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ öNä3t7¯=s)tGãB ö/ä31uq÷WtBur ÇÊÒÈ  
Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.[48]

!$tBur $uZù=yör& `ÏB šÎ=ö6s% `ÏB @Aqߧ žwÎ) ûÓÇrqçR Ïmøs9Î) ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& Èbrßç7ôã$$sù ÇËÎÈ  
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".[49]


Berdasarkan ayat-ayat al-Qur`an di atas dapat ditegaskan bahwa hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas ini sama sekali bertentangan dengan petunjuk al-Qur`an.
Tolok ukur kedua adalah tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat. Jika melihat dari petunjuk hadis yang ada, tidak ditemukan adanya pertentangan antara hadis riwayat Bukhori ini dengan hadis lain. Dalam riwayat Bukhari yang lain yang juga dari Ibnu Abbas dikatakan:
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال  : كان النبي صلى الله عليه و سلم يَدْعُو عِنْدَ الكَرْبِ يقول: لاَ إِله إلاَّ اللهُ العَظِيْم الحَلِيْم لاَ إِلهَ إلاَّ الله رَبُّ السَّموَاتِ وَالأَرْضِ وَرَبُّ العَرْشِ الْعَظِيْم (رواه البخاري)

Diriwayatkan dari ibn Abbas beliau berkata: adalah Nabi berdoa ketika sedang susah beliau bersabda: Tiada Tuhan selain Allah Dzat Yang Maha Agung dan Maha Bijaksana, Tiada Tuhan selain Allah Penguasa langit dan bumi serta pemilik `Arsy Yang Maha Agung. (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain Nabi bersabda:
مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ.[50]
Hadis ini menerangkan bahwa siapa yang masuk ke pasar dan berdoa sebagaimana dalam hadis tersebut, maka Allah akan mencatat baginya beribu-ribu kebaikan, menghapus beribu-ribu keburukan dan mengangkatnya dalam derajat yang sangat tinggi. Hadis ini mendukung hadis  riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas, karena sama-sama berisi tentang tauhid.
Tolok ukur yang ketiga adalah hadis tersebut tidak bertentangan dengan logika dan fakta sejarah. Melihat redaksi matan hadis, tidak ditemukan adanya pertentangan dengan logika. Bahkan logika membenarkan tentang ketauhidan Tuhan. Secara logika, Tuhan tidak mungkin lebih dari satu karena tetap hanya ada satu Dzat yang mencipta dan terdahulu.
Sedangkan jika dilihat dari sejarah (baca: Sirah Nabawiyah), tidak ditemukan adanya informasi yang mengatakan bahwa Nabi pernah menyembah kepada selain Allah semata. Nabi juga tidak pernah meriwayatkan hadis yang isinya tentang polytheisme (menyembah lebih dari satu Tuhan). Yang ada adalah seruan untuk menyembah kepada Allah semata.
Berdasarkan tolok ukur keempat, yaitu susunan pernyataan suatu hadits menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian, bahwa hadits riwayat Imam Bukhāri  dari Ibnu Ubbas diatas sudah menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian. Hal tersebut dapat dilihat dari kesederhanaan redaksi matan hadits serta kandungan matannya yang wajar dan tidak berlebih-lebihan. Adalah sebuah pengakuan bahwa untuk menentukan perkataan mana yang bukan perkataan Nabi sungguh sangatlah sulit. Akan tetapi yang terpenting adalah perkataan yang mengandung keserampangan, atau makna-makna yang rendah, atau ungkapan tentang istilah-istilah yang datang kemudian, menunjukkan bahwa perkataan tersebut tidak berasal (mencirikan) dari Nabi.[51] Diantara yang termasuk dengan keserampangan ialah mendatangkan hal-hal yang menakjubkan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat.
Setelah diadakannya kritik matan sesuai dengan tolok ukur yang diberikan oleh Shalahudin al-Adhlabiy, peneliti berkesimpulan bahwa hadis riwayat Bukhari dari Abdullah Ibnu Abbas tentang tauhid ini adalah Shahih al-Matn (shahih matannya).

F.     Penutup
Berdasarkan penelitian terhadap hadis Riwayat Bukhari dari Abdullah Ibnu Abbas di atas, baik dari sisi sanadnya maupun matannya, dapat penulis simpulkan bahwa hadis tersebut berkualitas shahih dan maqbul.
Demikian yang dapat penulis sajikan terkait dengan penelitian hadis Nabi. Tentunya penulis menyadari akan banyaknya kesalahan dan kekurangan, maka kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan.
Wallahu  A`lam bi al-Shawab...




Daftar Pustaka

Abror, Indal. “ Kitab al-Shahīh al-Bukhārī” dalam Studi Kitab Hadis ,Yogyakarta : Teras, 2009, Cetakan Ketiga.
DVD al-Maktabah al-Syāmilah.
CD ROM Mausū’ah al-Hadīts al-Syarīf
Ismā’il, M. Syuhudi. Metodologi Penelitian Hadits Nabi. Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Suryadi dkk. Metodologi Penelitian Hadits. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006.
CD Maktabah al-A’lām wa Al-Tarājim.
Al-Adlabi, Salahudin Ibn Ahmad, Metodologi Kritik Matan Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004.
Ismail, M. Syuhudi. Kaidah Keshahihan Sanad Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 2005.



[1] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm.41.
[2] Suryadi dkk, Metodologi Penelitian Hadits, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006), hlm. 32.

[3] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi…,hlm. 49.
[4] Suryadi dkk, Metodologi Penelitian Hadits,... hlm. 67.

[5] Ibnu Hajar mendenifisikan hadis gharib dengan “ Hadis yang pada sanadnya terdapat deorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya, di mana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi”. Lihat H. Mudasir, Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 135.
[6] Hadis Azīz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang atau  lebih. Lihat Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu hadis (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007), hlm. 212.
[7] Mu’jam al-Buldan, jilid 3, hlm. 347, (Beirut: Dār al-Shadr, 1977).
[8] Al-Isti’ab fi Ma’rifah ash-Shahabah, juz 2, hlm. 123. CD al-A’lam wa al-Tarajim.
[9] At-Ta’dil wa al-Tajrih, juz 1, hlm 338 . CD al-I’lam wa al-Tarajim.
[10] Tahdzib al-tahdzib, juz  3, hlm. 236. CD al-I’lam wa al-Tarajim.
[11] Al-Mizzi, Tahdzib al-kamal, juz 9, hlm. 185-187. CD al-A`lam wa al-Tarajim.
[12] Ini berdasarkan pemahaman yang mengatakan bahwa “kullu sahabat `udul”.
[13] Tahdzibu al-Kamal, juz. 20, hlm. 122, CD. Al-A`lam Wa al-Tarajim.
[14] Tahzib at-Tahzib, Bab: Yaasiin, Juz. 6, hlm. 281. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[15] Mengenai informasi tentang kewafatan Yahya bin Ya`mar ini adalah sepemahaman peneliti dalam mengartikan literatur arab. Selengkapnya lihat dalam Tahzib at-Tahzib, Bab: Yaasiin, Juz. 6, hlm. 281. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[16] Tahdzibu al-kamal, juz. 20, hlm. 122, CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[17] Tahzib at-Tahzib, Bab: Yaasiin, Juz. 6, hlm. 281. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[18] Tazakkurat al-Huffaz, juz. 1, hlm. 102, CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[19] At-Ta`dil wa at-Tajrih, Bab: Abdullah, Juz 1, hlm. 344,  CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[20] At-Ta`dil wa at-Tajrih, Bab: Abdullah, Juz 1, hlm. 344,  CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[21] Tazakkurat al-Huffaz, juz. 1, hlm. 102, CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[22] Siyar A`lam an-Nubala, Bab: Thabaqah al-Khamisah min at-Tabi`in, Juz. 4, hlm. 562, CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[23] At-Ta`dil wa at-Tajrih, Bab: al-Husain, Juz 1, hlm. 123,  CD. al-A`lam Wa al-Tarajim..
[24] Siyar a`lam an-Nubala, bab: thabaqah al-khamisah min at-tabi`in, juz. 4, hlm. 562, CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[25] At-Ta`dil wa at-Tajrih, Bab: al-Husain, Juz 1, hlm. 123,  CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[26] Taqrib Al-Tahdzib, Bab: `Abis,  Juz. 1, hlm. 656. Lihat juga dalam At-Ta`dil wa at-Tajrih, bab: Tafariq al-Asma` al-Mu`abbadin, Juz. 1, hlm. 426. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[27] Tahdzib al-Tahdzib, bab: `Abis, Juz. 4, hlm. 43. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[28] Tahdzib al-Tahdzib, bab: `Abis, Juz. 4, hlm. 43. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[29] At-Ta`dil wa at-tajrih, bab: huruf al-`Ain - Abdullah, Juz 1, hlm. 368. Lihat juga Tahdzib al-kamal, Bab: `Abis wa `Ashim,  Juz. 9, hlm. 294. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[30] Tahdzib al-Kamal, Bab: `Abis wa `Ashim,  Juz. 9, hlm. 294. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[31] Al-Bukhari dalam al-Mukaddimah, Tarikh al-Kabir , hlm. 5.
[32] M. M Abu Syuhbah, Kutubus Sittah: Mengenal Enam Kitab Pokok Hadis Shahīh dan Biografi Para Penulisnya Bukhuārī, Muslim, Turmudzī, Nasāī,  Ibn Mājah, Abū Daud, terj Ahmad Usman, Cetakan Kedua (Surabaya : Penerbit Pustaka Progressif, 1999), hlm. 37.  Dalam Toton Witono, “Imam al-Bukhari dan Kitab al-Tarīkh al-Kabīr” dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 6, No. 1. Januari 2005, hlm. 153.
[33] Indal Abror, “ Kitab al-Shahīh al-Bukhārī” dalam Studi Kitab Hadis (Yogyakarta : Teras, 2009) Cetakan Ketiga, hlm. 45.
[34] Al-Bukhari dalam al-Mukaddimah, Tarikh al-Kabir , hlm. 5
[35] Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal Juz 15 dalam CD al-A’lam wa Al-Tarajim, hlm. 157.
[36] Al-Bukhārī dalam al-Mukaddimah, Tārīkh al-Kabīr , hlm. 6.
[37] Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal Juz 15 dalam CD al-A’lam wa Al-Tarajim, hlm.157.
[38] Thobaqot al-Mufasirin, juz I, hal. 19. CD. al-A`lam Wa al-Tarajim.
[39] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi…,hlm. 79.
[40] Mayortas ulama menempatkan metode al-sama` pada peringkat tertinggi dalam metode periwayatan hadis. Lihat M. Syuhudi Ismail, Kaidah Keshahihan Sanad Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), hlm. 159.
[41] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi…,hlm. 81.
[42] Suryadi dkk, Metodologi Penelitian Hadits,...hlm. 117.
[43] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi....hlm. 114.
[44] Ini termasuk diantara beberapa latar belakang pentingnya kritik matan hadis. Hasyim Abbas menyebutkan delapan faktor pentingnya penelitian matan hadis, yaitu: 1) Motivasi agama, 2) Motivasi kesejarahan, 3) keterbatasan hadis mutawatir, 4) Bias penyaduran ungkapan hadis, 5) Teknik pengeditan hadis, 6) Keshahihan sanad tidak berkorelasi dengan keshahihan matan, 7) Sebaran tema dan perpaduan konsep, dan 8) Upaya penerapan konsep doktrinal hadis. Lihat dalam Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2004), hlm. 17-21.
[45] Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis,... hlm. 61.
[46] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi....hlm. 120.
[47] Surat al-Ikhlas, ayat  1-4.
[48] Surar Muhammad, ayat 19.
[49] Surat al-Anbiya`, ayat 25.
[50] Sunan al-Tirmizi, Kitab al-Da`awat `an Rasulillah, no. Hadis 3350. CD ROM al-Mausuah.
[51] Salahudin Ibn Ahmad al-Adlabi, Metodologi Kritik Matan Hadis (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004), hlm. 270.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tuliskan Komentar Anda disini. jika anda belum mempunyai Google Account atau Open ID, Anda bisa Menggunakan Name/Url (disarankan menggunakan opsi ini) atau Anonimous.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Advertise

Contact Us

n