Friday, March 25, 2011

Contoh Makalah

berikut ini saya sajikan contoh makalah. contoh makalah dibawah ini adalah makalah tentang kajian al-Quran. semoga anda mendapat manfaat dari contoh makalah dibawah ini. jangan lupa untuk menshare contoh makalah yang telah anda kaji.

BAB I

PENDAHULUAN

 

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, segala piji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita sehingga kita bisa hidup bahagia dengan limpahan rahmatnya. Amin...

Islam datang dengan membawa nilai-nilai kebaikan dan menganjurkan manusia agar menghiasi diri dengannya, serta memeritahkan manusia untuk memperjuangkan dan mempertahankan nilai-nilai agama, agar kita dapat menempuh jalan yang lurus (hanif). Namun semua itu tidak dapat terlaksana dan tercapai melainkan dengan mengikuti syariat yang telah ditetapkan di dalam agama islam.

            Di dalam Al-Qur'an untuk menunjukkan Agama yang lurus adalah dengan menggunakan kata Hanif. Pedoman kita agar selalu mengikuti Millah Ibrahim yang Hanif, dengan selalu mentauhidkan Allah dan tidak menyetukanNya.

Maka dalam makalah ini mari kita bersama-sama merujuk pada penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang mungkin bisa menjelaskan kepada kita akan makna Hanif  yang sebenarnya

Untuk lebih jelasnya mari kita pelajari tafsir ini bersama-sama, dan semoga kita semua bisa mengamalkan dan meng-aplikasikan-nya dalam kehidupan sehari-hari, Amin Ya Robbal Alamin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PEMBAHASAN

1.    Definisi

Hanif menurut bahasa adalah lurus dan tidak condong pada sesuatu apapun. Sedangkan menurut istilahnya adalah selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.

Beda lagi dengan para ulama' tafsir, mereka berbeda pendapat dalam memaknai lafadz 'Hanif' dalam al-Qur'an, ada yang memberikan makna dengan agama yang cendrung pada agama yang lurus yang tauhid (tidak menyekutukan Allah SWT). Dan ada juga yang memaknai dengan orang-orang muslimin yang hanya mengikuti agamanya sendiri. Ada juga dengan pemaknaan mensucikan agama hanya untuk taat beribadah kepada Allah SWT, Abu Mujahid  dan Rabi' ibn Anas yang mengatakan bahwa hanif adalah orang yang taat serta mengikuti perintah.

 

2.    Lafadz Hanif dalam al-Qur'an

Adapun lafadz 'Hanif' (حنيف) di dalam Al-Qur'an setelah diadakan penelusuran lebih lanjut, maka dapat diketahui berjumlah dua belas lafadz  yang tertulis dalam sembilan ayat.  1 lafadz dalam surat al-Baqarah, 2 lafad dalam surat al-Imran, 1 lafadz dalam surat an-Nisa', 2 lafadz dalam surat al-An'am, 1 lafadz dalam surat Yunus, 2 lafadz dalam surat an-Nahl, 1 lafadz dalam suratal-Hajj, 1 lafadz dalam surat al-Rum, 1 lafadz dalam surat al-Bayyinah.[1]

Adapun rincinya sebagai berikut:

ü  Al-Baqarah; ayat;  135

ü  Ali Imran ; ayat; 67, 95

ü  An-Nisa'; ayat; 125

ü  Al-An'am; ayat; 79, 161

ü  Yunus; ayat; 105

ü  An-Nahl; ayat; 120, 123

ü  Al-Hajj; ayat; 31

ü  Al-Rum; ayat; 30

ü  Al-bayyinah; ayat; 05

Adapun bentuk Lafadz-lafadz 'Hanif' di dalam al-Qur'an kebanyakan menggunakan bentuk Masdar (kata benda), dan ada yang menggunakan bentuk tunggal, adapula yang menggunakan bentuk jamak, berikut penjabarannya:

a)      Hanif dalam bentuk tunggal seperti lafad $ZÿÏZym, dan hampir semuanya menggunakan bentuk tunggal.

b)      Hanif dalam bentuk jamak (plural) seperti lafad uä!$xÿuZãm, dan hanya terdapat dalam surat al-Hajj dan Al-bayyinah; ayat; 05

 

3.    Asbab an-Nuzul

            Adapun Asbab an-Nuzul dari ayat-ayat yang memuat lafadz 'Hanif' rata-rata merupakan sebuah kejadian yang membutuhkan penjelasan untuk mengikuti agama yang lurus (Lurus),[2] sebut saja seperti surat al-Baqarah ayat 135 :

(#qä9$s%ur (#qçRqà2 #·Šqèd ÷rr& 3"t»|ÁtR (#rßtGöksE 3 ö@è% ö@t/ s'©#ÏB zO¿Ïdºtö/Î) $ZÿÏZym ( $tBur tb%x. z`ÏB tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÌÎÈ

Artinya: Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah Dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik".

 

Ibn Abbas menyatakan[3] bahwa Asbab an-Nuzul dari ayat tersebut berhubungan dengan sikap pemuka-pemuka yahudi Madinah[4] dan pemuda Nasrani penduduk Najran yang sesungguhnya mereka telah menentang kaum muslimin sehubungan dengan agama mereka. Dan tiap-tiap golongan dari mereka mendakwakan: Sesungguhnya golongan mereka yang lebih berhak dengan agama Allah dari golongan yang lain. Maka berkata golongan Yahudi, "Nabi kami Musa adalah nabi yang paling utama dan kitab kami Taurat adalah kitab yang paling utama yang melebihi Isa dan Injil serta Muhammad dan Alquran." Berkata pula golongan Nasrani, "Nabi kami Isa adalah nabi yang paling utama; kitab kami Injil adalah kitab yang paling utama. Agama kami adalah agama yang paling utama melebihi Muhammad dan Alquran." Tiap-tiap golongan itu berkata kepada orang-orang mukmin, "Jadilah kamu sekalian pemeluk agama kami, tidak ada agama selain agama kami" Mereka mengajak memasuki agama mereka. Maka turunlah ayat tersebut sebagai jawaban atas perkataan, pengakuan dan ajakan mereka itu.

 

4.     Penafsiran lafadz 'Hanif"

Penafsiran lafadz-lafadz 'Hanif' dalam al-Quran ulama' berbeda dalam penafsirannya, ada yang menafsirkan bahwa 'Hanif' berarti "yang lurus" tidak cenderung kepada yang batil. Sedangkan "Agama yang Hanif" ialah agama yang benar, agama yang mencapai jalan yang benar, jalan kebahagiaan dunia dan akhirat bahkan agama yang belum dicampuri oleh sesuatu pun, tidak bergeser sedikit pun dari asalnya.[5]

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa lafadz 'Hanif' dikhitabkan terhadap "kaum muslimin yang mengikuti agama Ibrahim yang hanif", hal tersebut bisa dilihat dari makna lafadz 'Hanif' seperti dalam surat al-Baqarah ayat 135 :

(#qä9$s%ur (#qçRqà2 #·Šqèd ÷rr& 3"t»|ÁtR (#rßtGöksE 3 ö@è% ö@t/ s'©#ÏB zO¿Ïdºtö/Î) $ZÿÏZym ( $tBur tb%x. z`ÏB tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÌÎÈ

Artinya: Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah Dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik".

Menurut para ulama', seperti Abu al-Aliyah, kata hanif di sini ditafsirkan dengan orang yang selalu menghadap qiblat dalam sholatnya, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu melaksanakannya. Dan ada juga yang mengartikan dengan iman terhadap semua para Rasul. Sedangkan Abu Qatadah berpendapat bahwa ''Hanif mempunyai makna meyakini dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT. Namun dari semua penafsirannya, dapat diambil satu kesimpulan bahwa ayat tersebut memberikan penjelasan untuk menyadarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari perbuatan-perbuatan mereka. Mereka menyatakan keturunan Ibrahim a.s. tetapi mereka tidak bersikap, berbudi pekerti dan berpikir seperti Ibrahim a.s. Mereka menyatakan pengikut agama Ibrahim, tetapi mereka telah merubah-rubahnya, dan tidak meliharanya seperti yang telah dilakukan oleh Ibrahim a.s.[6]

Dari ayat-ayat yang memuat lafadz hanif tersebut, maka dapat dipahami bahwa Allah swt. mengingatkan umat Muhammad saw. agar selalu waspada terhadap agama mereka dan selalu berpedoman kepada Alquran dan Sunah Nabi, jangan sekali-kali mengikuti hawa nafsu sehingga berani merubah, menambah dan mengurangi agama Allah.

Dari perkataan "dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang musyrik" dapat dipahami bahwa agama Ibrahim itu adalah agama tauhid, agama yang mengakui keesaan dan kekuasaan Allah SWT.[7] Seperti yang telah dijelaskan dalam firman Allah swt Q.S Al Hajj 26 :

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (26)

Artinya: 'Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat, dan orang-orang yang rukuk dan sujud.'

Maka dengan penjelasan tadi, bisa terlihat dengan jelas bahwa para ulama' Tafsir menyatakan bahwa lafadz 'Hanif' dalam al-Qur'an merupakan pernyataan bahwa orang-orang Islam memeluk agama seperti agama yang dipeluk oleh Nabi Ibrahim dan agama Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Maka jelaslah bahwa Nabi Ibrahim itu tidak memeluk agama Nasrani dan tidak pula pemeluk agama Yahudi akan tetapi Nabi Ibrahim itu seorang yang taat kepada Allah, tetap berpegang kepada petunjuk Tuhan serta tunduk dan taat kepada segala yang diperintahkanNya.

Dan dijelaskan pula bahwa Allah SWT menegaskan hahwa Nabi Ibrahim tidak menganut kepercayaan orang-orang musyrikin, yaitu orang-orang kafir Quraisy dan suku Arab lainnya, yang menganggap diri mereka mengikuti agama Nabi Ibrahim.

Maka dari ayat-ayat yang memuat lafadz-lafadz 'Hanif' dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim itu adalah orang yang dimuliakan oleh segala pihak, baik orang-orang Yahudi, Nasrani ataupun orang-orang musyrikin. Akan tetapi sayang pendapat mereka tidak benar, karena Nabi Ibrahim itu tidak beragama seperti agama mereka. Beliau adalah orang muslim yang ikhlas kepada Allah, sedikitpun tidak pernah mempersekutukan Nya.

Selain ditafsiri dengan perintah untuk tidak menyekutukan Allah SWT dan selalu berada di agama yang lurus, para ulama' juga ada yang memberikan penafsiran terhadap lafadz 'Hanif' dengan perintah mengikuti syariat Ibrahim AS.[8] Seperti penafsiran lafadz 'Hanif' dalam al-Qur'an al-Imran 95:

ö@è% s-y|¹ ª!$# 3 (#qãèÎ7¨?$$sù s'©#ÏB tLìÏdºtö/Î) $ZÿÏZym $tBur tb%x. z`ÏB tûüÏ.ÎŽô³çRùQ$# ÇÒÎÈ  

Artinya: 'Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik.'

 

Pada ayat ini Allah memerintahkan pula kepada Nabi Muhammad saw supaya mengatakan kepada orang Yahudi bahwa apa yang diberitahukan Allah kepada beliau dengan perantaraan wahyu, tentang semua makanan yang baik-baik pada mulanya halal bagi Bani Israil sebelum Taurat diturunkan dan halal pula bagi umat-umat sebelum Nabi Musa dan memang ada beberapa jenis makanan yang diharamkan bagi mereka dalam Taurat sebagai hukuman atas kedurhakaan mereka, semua itu adalah benar-benar datang dari Allah SWT yang tak dapat disangkal kebenaran-Nya, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Oleh karena itu hendaklah orang-orang Yahudi mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw, karena agama yang dibawanya pada prinsipnya sama dengan yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan janganlah mereka tetap mengharamkan daging unta dan susunya, sebab tidak ada larangan untuk makan dagingnya dan minum susunya baik dalam syariat Nabi Ibrahim maupun dalam syariat nabi-nabi lainnya termaksud syariat Islam.

Hal tersebut seolah memberikan pernyataan bahwa Nabi Ibrahim itu bukanlah seorang musyrik dan agama yang dibawanya adalah agama tauhid yang murni seperti Agama Islam, tidak mempersekutukan Allah dan tidak menyembah selain Dia, bukan seperti golongan mereka (Yahudi) yang mengatakan, `Uzair anak Allah dan bukan pula seperti orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa, Isa anak Allah.

            Lafadz hanif juga memberikan penjelasan tentang ketaatan terhadap agama Allah SWT, seperti yang telah termaktub dalam firman Allah SWT dalam al-Qur'an surat an-Nisa' 125:

 

ô`tBur ß`|¡ômr& $YYƒÏŠ ô`£JÏiB zNn=ór& ¼çmygô_ur ¬! uqèdur Ö`Å¡øtèC yìt7¨?$#ur s'©#ÏB zOŠÏdºtö/Î) $ZÿÏZym 3 xsƒªB$#ur ª!$# zOŠÏdºtö/Î) WxŠÎ=yz ÇÊËÎÈ  

Artinya: 'Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.'

Ayat ini menerangkan bahwa tidak ada seorangpun yang lebih baik agamanya dari orang yang memurnikan ketaatan dan ketundukannya hanya pada Allah saja, ia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ada tiga macam ukuran yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan ketinggian suatu agama dan keadaan pemeluknya, yaitu agama yang memerintahkan:

  1. Menyerahkan diri kepada Allah SWT.
  2. Mengerjakan kebaikan
  3. Mengikuti agama Ibrahim yang hanif.

Ada juga yang menjelaskan tentang kepemimpinan Ibrahim a.s terhadap umat yang lurus, hal tersebut dijelaskan dalam al-Qur'an surat an-Nahl 120 :

¨bÎ) zOŠÏdºtö/Î) šc%x. Zp¨Bé& $\FÏR$s% °! $ZÿŠÏZym óOs9ur à7tƒ z`ÏB tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊËÉÈ  

Artinya: "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)."

 

Dalam ayat ini, Allah SWT memuji hamba-Nya Ibrahim as Rasul-Nya dan Khalil-Nya (kawan Allah). Beliau adalah imam kaum Hunafa atau pemimpin dari orang yang mencari kebenaran. Bapak dari pada Nabi. Allah SWT menyatakan dalam ayat ini; "ummatan" yang berarti pemimpin yang menjadi teladan. Menurut Abdullah Ibnu Mas'ud ummatan berarti guru kebijaksanaan. Menurut Ibnu Umar "Ummatan" berarti yang mengajar manusia, tentang agama mereka.[9]

 

 

 Contoh Makalah Contoh Makalah Contoh Makalah Contoh Makalah Contoh Makalah

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

·         Al-Jalalainie, al-Shuyuthi wa al-Mahally. 'Tafsir Al-Qur'an al-Kariem'. Surabaya; Toko Kitab Al-Hidayah.1965. Cet I.

·         Al-Qutb, Sayyid, 'Tafsir fi Dzilal Al-Qur'an'. Jepang: NU nihon, 2003. CD el-Maktabah el-Shamelah. Kutub el-Barnamij fi al-Tafsir.

·         Al-Qurtuby, al-Anshory, ibn Ahmad, Muhammad, Abi Abdillah. 'Tafsir al-Qurtuby al-Jami' li al-Ahkam al-Qur'an'. Beirut, Lebanon; 1980, Dar Ihya' al-Turats al-Araby. Cet II.

·         Al-Dimasyqi, al-Syafi'I al-Quraisy, ibn Katsir, ibn Dhau', ibn Umar, Ismail. 'Tafsir Ibn Katsir'. Jeddah;1989. Maktabah al-Amiriyah. Cet II.

·         Al-Thabari, ibn Jarir, abi Ja'far Muhammad, Ali. 'Tafsir al-Thabari'. Jepang: NU nihon, 2003. CD el-Maktabah el-Shamelah. Kutub el-Barnamij fi al-Tafsir.

·         Al-Wahidy, Ibn Ahmad, Abu al-Hasan Ali, al-Imam. 'Asbab al-Nuzul al-Qur'an'. Kairo; 1998. Dar al-Baz al-Halby li al-Nasr wa al-Tauzi'. Cet IV.

·         Al-Urry, al-Syafi'i, al-Murtadho, Muhammad ibn Muhammad. 'al-Lughat fi al-Qur'an'. Beirut; 1973, Maktabah al-Nahdlah. Cet I.

·         Shihab, Quraish, Dr, Prof. 'Tafsir al-Misbah'. Jakarta: Lentera Hati.

 



[1] CD al-Qur,an al-Karim

[2] Al-Wahidy, Ibn Ahmad, Abu al-Hasan Ali, al-Imam. 'Asbab al-Nuzul al-Qur'an'. Kairo; 1998. Dar al-Baz al-Halby li al-Nasr wa al-Tauzi'. Cet IV. Hal 150. Juz I.

[3] Ibid. Hal 151. Juz I.

[4] Mereka adalah Ka'ab ibn Asyraf, Malik ibn Saif dan Abi yasir ibn Akhtab.

[5] Al-Urry, al-Syafi'i, al-Murtadho, Muhammad ibn Muhammad. 'al-Lughat fi al-Qur'an'. . Beirut; 1973, Maktabah al-Nahdlah. Cet I. Hal 10. Juz I.

[6] Al-Dimasyqi, al-Syafi'I al-Quraisy, ibn Katsir, ibn Dhau', ibn Umar, Ismail. 'Tafsir Ibn Katsir'. Jeddah;1989. Maktabah al-Amiriyah. Cet II. Hal 448. Juz I.

[7] Terjemah Al-Qur'an DEPAG

[8] Al-Thabari, ibn Jarir, abi Ja'far Muhammad, Ali. 'Tafsir al-Thabari'. Jepang: NU nihon, 2003. CD el-Maktabah el-Shamelah. Kutub el-Barnamij fi al-Tafsir.

[9] Al-Qutb, Sayyid, 'Tafsir fi Dzilal Al-Qur'an'. Jepang: NU nihon, 2003. CD el-Maktabah el-Shamelah. Kutub el-Barnamij fi al-Tafsir.


No comments:

Post a Comment

Silahkan Tuliskan Komentar Anda disini. jika anda belum mempunyai Google Account atau Open ID, Anda bisa Menggunakan Name/Url (disarankan menggunakan opsi ini) atau Anonimous.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Advertise

Contact Us

n