Thursday, December 16, 2010

Makalah Fitnah II

PENDAHULUAN
Kata Fitnah berasal dari bahasa Arab yang berarti kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian dan siksaan, sedangkan dalam lisanul arab disebutkan fitnah memiliki beberapa arti:
• Al ikhtibar dan al imtihan missal fatantu adz dzahaba wal fidlota, yang artinya saya meletakkan emas diatas api dan melelehkannya sehingga terpisah lapisan yang palsu dengan yang asli. (menguji)
• Al mihnah (cobaan) dan al izalah ( melepaskan) sepeti dalam kalimat fatana rajulu ‘an dinihi (seorang telah melepaskan agamanya)
• Al idllal yakni kesesatan ( al fatin sama dengan al mudllil) seperti dalam firman Allah dalm qur’an As shoffat 161-162 “ maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu.” sekali-sekali tidak dapat menyesatkan seseorang terhadap Allah.
• Al adzab atau al qoti (pembunuhan) seperti dalam firman Allah daln surat An nisa’ 101
“ …maka tidaklah mengapa kamu mengqoshor shalatmu, jika kamu takut diserang( dibunuh) orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir musuh nyata bagimu.” Makna “yaftinakum dalam ayat tersebut adalah yaqtulunakum yang berarti menyerangmu atu membunuhmu.
Secara lebih jelas berikut ulasannya kata fitnah akan kita jumpai maknanya yan amat luas dan beragam. Kata fitnah adalah bentuk masydar dari kata fatana – yaftinu – fatnan atau fitnatan yang secara semantik sebagaimana dijelaskan dalam Ensiklopedi al-Qur’an berarti memikat, menggoda, membujuk, menyesatkan, membakar, menghalang-halangi. Kemudian kata ini berkembang maknanya menjadi cobaan, bala’, siksaan, sesat dan juga dimaknai gila. Bentuk jamak (singular) dari kata fitnah adalah al-Fitan. Dalam kamus Arab al-ta’rifat dijumpai, bahwa kata fatana selalu dicontohkan dengan kalimat “Seorang pandai emas membakar logam emas untuk membersihkan dan mengetahui kadarnya”. Dari sini kemudian maknanya secara umum berkembang lebih luas lagi sehingga diartikan menguji (menguji untuk mengetahui kialitas sesuatu). Maka dari itu, untuk kata fitnah bisa berarti pembakaran, kekacauan, kegilaan, ujian, cobaan, godaan, pesona atau sesuatu yang memikat. Selanjutnya tukang emas dikatakan dengan al-Fattan (الفتان ) sebab ia melebur emas dengan api, dan darinya dibuatlah berbagai macam perhiasan dalam berbagai bentuk. Dengan api pula ia dapat mengetahui mana emas yang benar-benar asli dan yang palsu/campuran.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan, kata fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang lain, seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang, dan lain-lain. Dengan demikian, kata fitnah sering diartikan dengan makna yang negative dan nampak secara definitif makna kata fitnah amat terbatas hanya menyangkut perkataan saja, sementra perlakuan yang tidak manusiawi, berbuat dzalim terhadap orang lain, terror, eksploitasi, penganiayaan dan sebagainua, semua tidak dikategorikan ke dalam arti kata fitnah dalam bahasa Indonesia. Dari sinilah perbedaan arti bahasa Indonesia dengan al-Qur’an.
Kata fitnah dan derivasinya disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam 33 surat. Tulisan berikut akan mencoba menjelaskan makna fitnah yang terkandung dalam ayat dan akan menggali makna yang terkait dengan kontek ayat di turunkan yang akan penulis korelasikan dengan as babunnuzul serta sosio historis dan kultur tempat ayat diturukan.
MACAM MAKNA FITNAH
Qs Al burujj 10
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.
Quraish Shihab menggunakan kata fitnah dengan arti ‘kedzaliman’. Dalam al-Qur’an suratal-Buruj [85]: 10, ditegaskan bahwa orang-orang yang enggan brtaubat dari tindakan mendzlimi atau menganiaya kaum muslimin akan merasakan siksaan neraka jahanam. Bahkan, orang-orang mukmin diperintahkan untuk memerangi kedzaliman itu, yaitu menghilangkan peganiayaan dan kedzaiman antar sesama      Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan, lafadz 
“ Sesungguhnya orang-ornag yang mendatangkan cobaan kepada orag-orang mukmin laki-laki dan perempuan,”, yakni dengan membakar mereka. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, ad-Dhahhak dan Ibnu Abza.
 ” kemudian mereka tidak bertaubat” yakni tidak melepaskan diri dari apa yang telah mereka lakukan dan tidak pula menyesalinya.
     
“Maka bagi mereka adzab Jahannam dan bagi mereka adzab (Neraka) yang membakar.” Yang demikian itu karena balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan: “Lihatlah pada kemurahan dan kedermawanan ini. Mereka telah membunuh para wali-Nya, tetapi Dia justru mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon Ampunan”.
Dalam tafsir Thabari, maksud dari kata fatanu dalam ayat ini disebutkan, yang menguji orang-orang mukmin dan mukminat dengan menyiksaya dan membakar mereka dengan api. Dan seperti dikatakan para ahli ta’wil: mengabarkan kepada kami Muhammad bin Salim dari bapaknya, dan bapaknya dan seterusnya dan dari kakeknya, dari Ibbnu ‘Abbas adalah mereka membakar orang-orang mukmin dan mukminat. Dan dalam Tafsir Baghawi juga dijelaskan bahwa makna fatanu dalam ayat ini adalah menyiksa dengan membakar.
Dalam kontek ayat ini fitnah berarti mendatangkan cobaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir kepada orang mukmin, menurut tafsir athobari dan ibnu katsir yang dimaksud dengan "mendatangkan cobaan" ialah, seperti menyiksa dan membakar dengan api, menganiaya, mendatangkan bencana, memusuhinya, membunuh dan sebagainya, dan menurut al alusi fitnah berarti membelokkan agama mereka supaya mereka keluar darinya, yang dimaksud الَّذِينَ adalah orang-orang kafir Quraisy yang menyiksa kaum mukminin dengan berbagai macam siksaan seperti yang disebutkan oleh athobari dan ibnu katsir. Sedangkan menurut Tasir ar Razi: Ada beberapa poin, yaitu;
1. الَّذِينَ disini merujuk pada ashabul ukhdud, tapi pendapat lain mengatakan bahwa ini berlaku kepada siapa saja yang melakukan hal tersebut (memfitnah) karena lafaz tersebut berbentuk ‘Am
2. Asal makna fitnah adalah cobaan dan ujian.karena dalam konteks ayat ini orang-orang kafir menguji dan merintangi mereka dengan api dan membakarnya. Sebagaimana perkataan Ibn Abbas dan Muqatil tentang makna فَتَنُواْ المؤمنين, yaitu membakar orang-orang mukmin.
3. Maksud dari ثُمَّ لَمْ يَتُوبُواْ dengan menggunakan fi’il mudhari, adalah bahwa jika saja mereka (orang-orang yang memfitnah )itu bertobat maka mereka akan terlepas dari ancaman di akhir ayat ini (فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ)
Qs Al maidah 41
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya: Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar
Fitnah dalam kontek ayat ini menurut atobari bermakna kesesatan, dan menurut tafsir al baidowi bermakna menyesatkan maksudnya adalah suatu tindakan yang tidak sesuai dengan perintah Allah dengan kata lain selalu melakukan tindakan yang dholim baik pada diri sendiri maupun orang lain. Asbabunnuzul ayat ini adalah berkenaan dengan dua golongan yahudi pada zaman jahiliah yang menzalimi orang lain yakni mereka memaksakan hokum yang tidak seimbang apabilah si kaya membunuh yang lemah fidyahnya 50 wasaq dan sebaliknya apabila silemah membunuh sikaya maka fidyahnya 100 wasaq ketetapan itu berlaku sampai nabi saw diutus. Dan mereka menjadikan nabi sebagi penengah perkara itu sehingga ayat ini turun sebagai peringatan bagi nabi agar tidak pusing-pusing pekirkan perkara itu karena sudah dikehendaki oleh Allah.sedangkan menurut tafsir yang lain seperti dalam tafsir:
Tafsir al Mawardi: Ada 3 ta’wil tentang makna fitnah dalam kontek ayat ini yakni;
• Al Hasan mena’wilkan fitnah sebagai Allah mengadzabnya
• As Sidi mena’wilkan fitnah bahwa Allah Menyesatkannya (tidak memberikan petunjuk-Nya)
• Az Zujaj mena’wilkannya bahwa Allah membuka aibnya ( semua kejelekan- kejelekannya)
Tafsir al Qusyairi: Allah menjadikan nasibnya menjadi buruk, menjadikan pertolongan orang lain tidak berguna baginya.
Tafsir Ibnu Abbas: Allah menjadikan ia kafir atau musyrik (dengan tidak member petunjuk), atau juga menimpakan cobaan.
Aisar at Tafasir: Allah menyasatkannya sebab perbuatan mereka yang menyebabkan tersesat, dalam ayat sebelumnya yaitu يسارعون في الكفر mereka bersegera (memperlihatkan) kekafirannya.
QS Maidah 49
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Artinya: dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
Menurut at thobari dalam tafsirnya fitnah di sini berarti niatan yang dilakukan oleh orang-orang yahudi membelokkan (memalingkan) nabi Muhammad dari hukum Allah maksudnya membelokkan dari jalan kebenaran seperti meninggalkan perintah Allah. Hal ini seperti peristiwa yang ada kaitannya dengan asbabunnuzul ayat ini yakni dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ka’ab bin usaid mengajak Abdullah bin shuriyah dan said bin qias pergi pergi menghadap Nabi saw untuk mencoba membelokkan (memalingkan) beliau dari agamanya dengan berkata: hai Muhammad engkau tau bahwa kami pendeta-pendeta yahudi (tokoh besar mereka) jika kami jadi pengikutmu pasti kaum yahudi akan memngukuti jejak kami, sedang mereka tidak akan menyalahi jejak kami, sedangkan kami dengan mereka terdapat percekcokan kami mengharap agar engkau mau mengadili dan memenagkan perkara ini. Dengan begitu kami akan beriman kepadamu, nabi menolak permintaan mereka dan turunlah ayat ini, yang mengingatkan untuk berpegang pada hokum Allah dan berhati-hati terhadap kaum yahudi.dan dalam surat al isra’ ayat 73 disebutkan dalam at tobari orang orang kafir bertujuan membelokkan (memalingkan) tentang Muhammad kepada kaumnya bahwa muhammad menerima wahyu dari selain Allah. Sedangkan menurut Tafsir ar Razi: Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya adalah mereka ingin memalingkan nabi agar mengikuti jalan mereka. Karena setiap yang berpaling dari kebenaran menuju kebatilan berarti telah terkena fitnah. Dan kalau menurut Al Alusi: orang-orang yahudi bermaksud membelokkan apa yang telah Allah turunkan pada nabi Muhammad saw dengan fitnah yang sangat halus sehingga sebuah kebatilan menjadi tampak seperti kebenaran. Serta Tafsir zādul masii disebutkanr: Ada dua pendapat mengenai maksud يَفْتِنُوكَ fitnah seperti apa itu?
1. Ibnu Abbas mengatakan bahwa fitnah itu berupa pengusiran dari tempat tinggal
2. Muqatil mengatakan bahwa fitnah itu berupa pertumpahan darah (peperangan/pembunuhan)
QS Yunus 85
فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: Lalu mereka berkata: "Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang lalim,
Dalam kontek ayat ini fitnah berarti korban bencana, maksudnya menurut tafsir atobari korban bencana dari penganiayaan kaum fir’aun (orang-orang dzolim), ayat ini berupa permohonan (do’a) kaumnya musa pada Tuhannya (tawakalnya kaum musa) agar tidak menjadi korban bencana dari kedzoliman (penganiayaan, pembunuhan, pengusiran dll) fir’aun dan pengikut-pengikutnya yang tujuannya tidak lain adalah agar berpaling pada Tuhannya dan menjadi pengikut fir’aun yang ingkar kepada Tuhannya.sedangkan penjelasan dalam tafsir lain seperti:
Aisar a Tafasir: mereka (kaum Musa yang ingkar) membuat fitnah dengan cara memberikan bantuan sehinga orang lain akan memandang mereka sebagai orang yang lebih baik dari yang ditolong.
Tafsir al Baghawi: Menajdikan fitnah disini maksudnya menjadi sasaran kehancuran, pembantaian karena ulah para pengikut fir’aun.
Tafsir al Alusi: Menjadi sasaran fitnah karena dikalahkan (dalam perang) sehingga memaksa agar berpaling dari agama Musa as.
Tafsir ar Raazi; Ada 4 pendapat, fitnah berarti:
1. Kekalahan, karena jika fir’aun dan kaumnya menang maka mereka akan bertanya, jika Musa dan kaumnya ada di jalan kebenaran kenapa bisa kalah? Sehinga hal itu akan menimbulkan keraguan pada orang-orang yang hendak mengikuti musa.
2. Fitnah berupa azab, karena jika fir’aun mengalahkan Musa maka berarti Allah akan mengazabnya di akherat kelak, dan itulah fitnah bagi mereka.
3. Sasaran pembantaian fir’aun dan kaumnya
QS Al Qalam 5-6
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ . بِأَيِّكُمُ الْمَفْتُونُ
Artinya; Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila.
Dalam at thobari disebutkan kurang lebih dalam kontek ayat ini fitnah berarti gila maksudnya adalah mereka orang orang kafir berbuat yang tidak sewajarnya yakni memfitnah kebenaran kepada kesesatan atau dalam ibnu katsir disebutkan orang-orang kafir itu memfitnah bahwa nabi Muhammad itu gila karena dibisiki oleh setan
Tafsir Zaadul Masir: ada empat pendapat mengenai makna al maftuun:
1. Al Hasan mengartikannya Sesat
2. Mujahid mengartikan Syaitan
3. Adh Dhahak mengartikan Gila (di fitnah sebagai orang gila)
4. Al Mawardi mengartikan Yang akan disiksa
Tafsir al Biqaa’i: fitnah berupa kesesaatn sehingga berpaling dari petunjuk dan agama yang benar
Tafsir az Zamakhsyari: gila (orang arab mengira bahwa gila itu disebabkan karena jin, maka disebut junun)
Tafsir Ibn Abdus Salam: di fitnah (ditimpakan panasnya api )
QS. Al-a’raf 27
   •      •                       
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami Telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.”
Menurut al-Razi fitnah di sini ujian atau cobaan (الابتلاء و الامتحان), penggalan firman-Nya:  •  maksudnya menjadi sebab kamu tidak masuk surga sebagaimana setan memperdaya nenek moyang kamu sehingga mereka tergelincir keluar dari surga.
Dalam tafsir al-Razi frase fitnah banyak mengacu pada makna cobaan atau ujian, diantaranya ada yang menunjukkan berupa nikmat maupun kesulitan. Bentuk fitnah dari segi materi bisa meliputi suami, istri, anak, harta, wanita. Sedangkan dari segi non materi mecakup tipudaya, setan, malaikat, kenyamanan, kematian, jabatan,kenabian, rahmat, rizki, social, hukum dan lain sebagainya.
Ada pula kata fitnah dalam al-Qur’an yang kandungannya memuat kisah para Nabi dan umatnya seperti peristiwa Nabi Sholeh as yang berdakwah kepada kaum Tsamud, dan Allah memberi mukjizat kepada beliau.
 •   •           
“Mereka menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu". Shaleh berkata: "Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji". (Qs. an-Naml [27]: 47)
Ayat di atas menjelaskandua umat Nabi Sholeh as yang berseteru dalam menjawab ajakanNabi menyembah Allah Yang Maha Esa.
QS Al-Baqarah 217
                                                           •     
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah, dan berbuat fitnah itu, lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”
Frase fitnah yang dimaksud dalam ayat ini, al-Razi mempunyai dua penafsiran. Pertama, kufur (كفر) “kufur itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Kedua, penyiksaan (تعذيب) yang dilakukan oleh keum musyrikin di Mekkah seperti perlakuan kejam mereka terhadap beberapa seorang sahabat. Dalamhal ini ia cenderung memaknai fitnah dengan cobaan (امتحان), kemudian berkembng menjadi semua makna yang merupakan sarana pengujian. Al-Razi juga menafsirkan kata fitnah dengan makna syirik dan kufur.
Ayat lain yang mempunyai redaksi mirip dengan ayat di atas adalah Qs. al-Baqarah [2]: 191
                             
“Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.”
Fitnah lebih kejam (keras) dari pada pembunuhan sepertiyang dijelaskan sebelumnya, fitnah adalah sebentuk ujian yang bisa datang dari Allah dan juga dari manusia. Al-RAzi mempunyai tiga pemahaman mengenai pengertian ungkapan tersebut. Menurut Ibn Abas, yang dimaksud fitnah di atas adalah kekafiran kepada Allah, fitnah dinamakan kekafiran karena kekafirandapat merusak bumi sehigga menimbulkan kedzaliman dan kekacauan. Kekafiran lebih besar disbanding embunuhan, karena sikap kufur merupakan dosa yang memberi pelakunya hak mendapat adzab yang kekal, sementara pmbunuhan tidak. Kekafiran juga menarik orangnya keluar dari kesatuan umat, sedangka pembunuhan tidak. Namun dari rangkaian ayat 191 diketahui bahwa terror, erampasan harta dan tekana sampai batas yang tidak bisa ditanggung dan memaksa orang untuk keluar dari kampong halamannya dan terlunta-lunta, itulah maksud dari ungkapan di atas.sebab hal-halitulah yang mendorong terjadinya perang, yang salah satu akibatny adalah pembunuhan.
Al-Dzariyat 13
   •          
“ (hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikatakan kepada mereka): "Rasakanlah azabmu itu. inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan."”
Al-Razi menjelaskan kata يفتنون pada ayat di atas diartikan dibakar (يحرقون) dan dimasukkan di atas api (يعرضون على النار) sedangkan kata فتنتكمpada ayat selanjutny yang berbentuk masydar, ia mengartikan dengan cobaan (الامتحان). Demikian informasi Allah tentang hari pembalasan yang terjadi pada para pembohong yang lalai lagi terktuk, tenggelam dalam kenikmatan duniawi atau berfoya-foya dan tidakberpikir tenang hakikat hidup.
Makna fitnah yang berarti menyiksa dapat dijumpaidalam sikap Nabi Ibrahim as terhadap keluarganya yang berbeda keyakinan dengan beliau, terdapat suri tauladan dalam beiau berdoa kepada Allah Swt. Sebagaimana dalam Qs. al-Mumtahanah [60]: 5
          •    
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. dan ampunilah kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
Al-Razi menjelaskan makna fitnah dalam doa Nabi Ibrahim di atas dengan pendapat Ibn Abas: janganlah engkau memberikekuasan pada musuh-musuh kami sehingga mereka menyangka dengan keberhasilan dan penyiksaan (عذابا) atas kami bahwa mereka berada dalam kebenaran.
Fitnah bermakna siksaan juga dapat dijumpai pada hubungan antara (Qs. al-Buruj [85]: 10) dengan ayat sebelumnya yang membicarakan dengan kisah para pembuat parit (ashab al-ukhdud) menyiksa orang-orang beriman dengan api yang memiliki bahan bakar dan mereka tidak bertaubat serta menyesali atas kekufuran dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Perbuatan mereka itu akan mndapat siksaan di neraka jahanam karena kekufuran dan mambakar orang-orang beriman.
QS. Al-Shaffat 162

        
“Maka Sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, Sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,”
Kesesatan menurut istilah adalah berpaling dari jalan yang benar dan lurus, atau lawan dari hidayah. Adapun jenis fitnah berhubungan dengan akidah (keyakinan dan kepercayaan), adalah kaum musyrikin yang mengatakan bahwa mereka memiliki anak dan sekutu.
Al-Razi menjelaskan: “Kamu dan apa yang kamu sembah, sekali-kali tidak dapat menyesatkan terhadap Allah kecuali para penghuni neraka yang telah ditentukan dalampengetahuan-Nya” atau boleh memahaminya dengan “Kamu bersama apa yang kamu sembah sekali-kali tidak dapat mndorong pada jalan kesesatan kecuali orang-orang yang akan masuk neraka jahannam.” Menurutnya ayat tersebut mengisyaratkan bahwa perkataan orang-orang musyrik dan keadaan apa yang mereka sembah tidak ada pengaruhya sedikitpun terhadap kesesatan. Kata fitnah dalam bentuk jamak fatinin berarti membawa atau mendorong orang ikut tersesat atau masuk neraka dan merusak manusia supaya tersesat dari jalan Allah.
QS. Al-maidah 41
           •                                                               
“Hari rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:"Kami Telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: "Jika diberikan Ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan Ini Maka hati-hatilah". barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”
Fitnah bermakna kesesatan ada yang tertuju kepada orang-orang Yahudi Madinah yang telah dengan sengaja mengucapkan atau membacakan ayat-ayat Taurat secara keliru kepada Nabi Muhammad Saw, dan kaum muslimin untuk tujuan-tujuan tertentu. Egoisme telah mengalahkan kejujuran mereka, namun buan berarti mereka telah berani mengubah teks-Teks tertulis mereka, jika mereka memang memilikinya.
Setelah Allah membuka kejelekan-kejelekan orang-orang Yahudi tersebut, Allah berfirman ” Barang siapa Allah menghendaki kesesatannya, maka ekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah.” (Qs. al-Maidah [5]: 41). Maksudnya fitnah adalah berbagai macam kerusakan atau berbagai macam kekufuran yang telah diungkapkan oleh Allah, jadi fitnah di sini berarti kekufuran, kesesatan dan kerusakan.
QS. At-Taubah 47
   •               
“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.”
Al-Razi menjelaskan bahwa orang munafik seandainya ikut berperang, mereka sama sekali tidak membawa manfaat, sebaliknya malah menimbulkan macam-macam kerusakan, antara lain: pertama, khabal yakni membuat pikiran kacau, keburukan, kerusakan, kebodohan, tipu daya, kesesatan, penghianatan. Dan kedua, fitnah yakni perceraian, kkacauan, kebingunan dan gangguan.
Fitnah juga disebutkan pada ayat selanjutnya at-Taubah [9]: 48 bermaksud membuka kedok kaum munafikdan membongkr rahasia hati mereka, dengan memperingatkan Nabi Saw, dan kaum muslimin tentang niat dan upaya busuk mereka orang-orang munafik sebelum peristiwa tabuk.
                
“Sesungguhnya dari dahulupun mereka Telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.”
QS. Al-Isra’ 73
              
“Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang Telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.”
Pada ayat ini fitnah bermakna “menggelincirkan” berkaitan dengan orang musyrik yang buta hati mereka, begitu jelas tanda-tanda kekuasan Allah yang menjadi nikmat bagi kehidupan mereka, tapi mereka tidak mau membuka hatinya. Untuk itu Allah memperingatkan agar berhati-hati menghadapi kebutaan hati mereka.
QS. Al-Baqarah 193
                
“Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.”
Dalam kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzull karya Imam as-Suyuthi diterangkan tentang sebab turunnya ayat ini dengan mengutip riwayat yang diketengahkan oleh Al-Wahidi dari jalur al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari ibn ‘Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini turun sewaktu Perjanjian Hudaibiyah. Ceritanya berkaitan dengan orang-orang musyrik ketika menghalangi Rasulullah saw. ke Baitullah, lalu mereka mengajak berdamai dengan tawaran, Rasul boleh kembali tahun depan. Setahun kemudian, Nabi saw. bersama para sahabat bersiap-siap melakukan umrah al-qadha (meng-qadha umrah yang sudah diniatkan tahun lalu tetapi tertahan). Hanya saja, mereka khawatir kalau sampai kaum Quraisy tidak menepati janji dan masih menghalangi mereka untuk memasuki Masjid al-Haram bahkan siap berperang, sementara para sahabat tidak ingin berperang pada bulan Suci.
Dalam Tafsir Thabari, dijelaskan mengenai makna fitnah dalam ayat ini. Berikut keterangan dalam tafsir Thabari: Abu Ja’far berkata: Alah berfirman: (Q.S. Al-Baqarah ayat 193), hatta laa takuuna fitnatun yakni sampai tidak ada kesyirikan kepada Allah, sampai tidak ada lagi yang disembah selain Allah yang satu, sampai habis atau musnahnya peneyembahan kepada berhala-berhala dan tandingan-tandingan Allah, dan sampai terwujudnya penyembahan dan ketaatan kepada Allah SWT. Yang satu, bukan berhala dan patung-patung sebagaimana diriwayatkn oleh Qatadah.
Dalam Tafsir Al-Mishbah, fitnah dalam ayat ini dijelaskan sebagai segala bentuk ketidakadilan, baik penganiayaan fisik, maupun menghalang-halangi pada kebebasan beragama, yaitu menghalangi Rasulullah untuk beribadah haji yang dilakukan oleh rang musyrik.
Q.S. Al-Nisa’ 101
                  •      
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
DalamTafsir Ibnu Katsir dijelaskan,
     
“ Jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir” ayat ini menggambarkan kebiasaan yang terjadi ketika ayat tersebut turun, yakni kebiasaan yang terjadi pada masa awal permulaan Islam setelah Hijrah, kebanyakan perjalana kaum Muslimin adalah ppenuh rasa takut (diserang orang kafir). Bahkan mereka tidak keluar kecuali menuju perang umum atau dalam suatu pasukan khusus. Seluruh waktu di saat itu adalah gambaran peperangan terhadap Islam dan para penganutnya. Dan ayat ini turun mengenai kasus diperbolehkannya menqashar Shalat disebabkan adanya rasa takut akan serangan yang datangnya dari orang kafir tersebut. Sedang dalam Tafsir Baghawi lafadz yaftinakum dimaknai menyerangmu dan membunuhmu, dan juga dalam tafsir Al-Mishbah dimaknai menyerang atau mengganggu.

Q.S. Yunus 83
               •        
“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. dan Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.’’
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan lafadz anyaftinahum dalam ayat ini mempunyai makna menyiksa, yakni Fir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya yang memaksa orang mukmin agar mereka kembali kepada kekafiran. Fir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya itu adalah orang yang kejam, durhaka, sangat sombong dan melampaui batas.
Dalam Tafsir ar-Razy, anyaftinahum dalam ayat ini bermakana memalingkan mereka (orang-orang mukmin) dari agama Islam, dan semenang-menang memberikan macam-macam siksaan kepada mereka rang mukmin. Dan juga dalam tafsir Al-Misbah, yang bermakna Menyiksa mereka, dengan F’ir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya sebagai pelakunya, dan orang-orang mukmin sebagai korban kekejaman dari siksaannya.
Kekeliruan dalam pemakaian istilah fitnah
Kita sering mendengar istilah “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Dan tidak sedikit yang memakai kalimat tersebut untuk menyebut keadaan dimana ada kasus penuduhan tanpa dasar kebenaran yang diberikan seseorang kepada orang lain yang tujuannya adalah untuk merugikan orang lain tersebut. Dalam penempatan seperti ini, tentu saja terjadi kesalahan yaitu memaknai istilah fitnah dalam bahasa Arab dengan makna fitnah dalam bahasa Indonesia. Dan kebanyakan kesalahan ini terjadi adalah karena kurangnya pengetahuan bahasa Arab yang dimiliki seseorang sehingga ia salah mengerti dan memahami dalil yang ada dalam al-Qur’an tersebut, sehingga salah memahami dan menerapkannya.
Di dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 191, lafadz “Wal fitnatu asyaddu minal qotli….” yang artinya “Dan fitnah itu lebih sangat (dosanya) daripada pembunuhan..”. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Imam Abul ‘Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah, Ad Dhohak, dan Rabi’ ibn Anas mengartikan “Fitnah” ini dengan makna “Syirik”. Jadi Syirik itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan. Dan terdapat penafsiran lain yang mengartikan fitnah dalam ayat tersebut adalah merupakan pengusiran, penganiayaan dan penyiksaan jika dilihat dari konteksnya, seperti disebutkan dalam tafsir ar-Razi.
Ayat tersebut turun berkaitan dengan haramnya membunuh di Masjidil Haram, namun hal tersebut diijinkan bagi Rasulullah saw manakala beliau memerangi kemusyrikan yang ada di sana. Sebagaimana diketahui, di Baitullah saat Rasulullah saw diutus terdapat ratusan berhala besar dan kecil. Rasulullah diutus untuk menghancurkan semuanya itu. Puncaknya adalah saat Fathu Makkah, dimana Rasulullah saw mengerahkan seluruh pasukan muslimin untuk memerangi orang-orang musyrik yang ada di Makkah.
Keterangan lain yang juga memperjelas duduk permasalahan adalah penjelasan lafadaz fitnah dalam surat Al-Baqarah ayat 217, yaitu lafadz “Wal fitnatu akbaru minal qotli…” yang artinya “Fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan..”. Ayat ini turun ketika ada seorang musyrik yang dibunuh oleh muslimin di bulan haram, yakni Rajab. Muslimin menyangka saat itu masih bulan Jumadil Akhir. Sebagaimana diketahui, adalah haram atau dilarang seseorang itu membunuh dan berperang di bulan haram, yakni bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Melihat salah seorang kawan mereka dibunuh, kaum musyrikin memprotes dan mendakwakan bahwa Muhammad telah menodai bulan haram. Maka turunlah ayat yang menjelaskan bahwa kemusyrikan dan kekafiran penduduk Makkah yang menyebabkan mereka mengusir muslimin dan menghalangi muslimin untuk beribadah di Baitullah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang beriman.
Tak ada satupun ayat di dalam Al Qur’an yang mengartikan kata “fitnah” dengan arti sebagaimana yang dipahami oleh orang Indonesia, yakni menuduhkan satu perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang yang dituduh. Kata ‘fitnah’ di dalam Al Qur’an memang mengandung makna yang beragam sesuai konteks kalimatnya. Ada yang bermakna bala bencana, ujian, cobaan, musibah, kemusyrikan, kekafiran, dan lain sebagainya. Maka memaknai kata ‘fitnah’ haruslah dipahami secara keseluruhan dari latar belakang turunnya ayat dan konteks kalimat , dengan memperhatikan pemahaman ulama tafsir terhadap kata tersebut.
MACAM-MACAM FITNAH.
Fitnah yang dikategorikan lebih kejam dari pembunuhan bisa dikelompokkan menjadi beberapa macam. Pertama adalah syirik, yakni mensekutukan Allah swt, hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt yang artinya: "Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), Maka tawanlah mereka dan Bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka." (QS An Nisa 91)
Kedua, kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka kepada kaum muslimin, Allah swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan (fitnah) kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (QS Al Buruj 10)
Menurut Prof. DR. Wahbah Az Zuhaili, yang dimaksud dengan cobaan atau fitnah adalah berbagai macam siksaan seperti dibakar hidup-hidup supaya orang beriman menjadi murtad. Maka bila mereka tidak bertaubat, siksaan jahannam yang membakar mereka akan menjadi balasannya.
Pada masa Rasulullah saw banyak sahabat yang mengalami fitnah berupa siksaan seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabah yang diseret di atas padang pasir yang panas, dicambuk, dijemur sampai ditindihkan batu besar. Begitu juga dengan Yasir dan Sumayyah yang akhirnya mati karena mengalami siksaan yang amat berat.
Ketiga adalah fitnah dalam arti memperebutkan harta yang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang zalim saja, tapi bisa terjadi pada siapa saja karena sikap mereka yang melampaui batas, bahkan bisa jadi antar sesama saudara, suku dan dalam organisasi perjuangan, mereka bisa bermusuhan karena berebut harta. Hal yang amat mengkhawatirkan adalah dengan sebab harta seseorang menggadaikan nilai-nilai idealisme kebenaran yang selama ini telah diperjuangkannya dan ini merupakan fitnah yang besar, karenanya bagi mereka akan disiapkan siksa yang Amat keras, Allah swt berfirman: "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS Al Anfal 25).
Demikian makna fitah yang dapat penulis sajikan semoga dapat memerikan kontribusi pengetahuan kita dalam memahami makna fitnah sesuai dengan kontek ayat al qura’an, tentunya masih banyak kekeurangan oleh karenanya kritik dan saran yang membangun penulis harapkan demi peningkatan penysusunan makalah lain kesempatan.
Wallahu a’lam…………….



DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemahnya.
Abdul Ghafur, Waryono. 2005. Tafsir Sosial. Yogyakarta: elSAQ Press.
Al-Maraghi, Ahmad Mushtafa. 1993. Terjemah Tafsir Al-Maraghi Juz 2. Semarang: Karya Toha.
Al-Qaththan, Manna’ Khalil. 2007. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa.
Munawwir, Ahmad Warson. 2002. Kamus Al-Munawwir. Surabaya: Pustaka Progressif.
Ridha, Muhammad Rasyid. Tafsir Al-Qur’an al-Hakim Jilid Dua, lebih terkenal dengan Tafsir Al-Manar. Beirut: Dar al-Fikr.
Shaleh, Qamaruddin dan A. A. Dahlan. 2000. Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro
Shihab, M. Quraish. 1994. Studi Kritis Tafsir Al-Manar. Bandung: Pustaka Hidayah.

No comments:

Post a Comment

Silahkan Tuliskan Komentar Anda disini. jika anda belum mempunyai Google Account atau Open ID, Anda bisa Menggunakan Name/Url (disarankan menggunakan opsi ini) atau Anonimous.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Advertise

Contact Us

n